Jumat, 29 Juli 2016

Nanang Suryadi aku ingin menangkap ikan dari ide yang kering



Nanang Suryadi

aku ingin menangkap ikan dari ide yang kering

seekor ikan melompat ke kolam, saat banjir tiba. kolam itu kering di musim kemarau. seekor ikan berenang di jalanan beraspal dan berdebu, sekering ide dalam kepalaku. perhatikan ranggas pohon itu, daun-daunnya yang kuning, serupa rambutku yang mulai rontok. siapa itu yang berteriak: jangan tertawa, langit masih tak ingin menyelesaikan hujannya. kalimat sudah pernah aku tuliskan, dimana? mungkin di dalam mimpimu saat membaca bukuku yang tak pernah diterbitkan. bagi kalimat yang tak pernah sempat dituliskan tak akan ada yang menangisimu, katanya sambil menghapus matanya yang sembab. ya, ya, karena puisi hanya permainan kanak yang tak mau segera dewasa.
hei, kemana ikan yang aku tangkap tadi? seekor ikan menggelepar gelepar di tanganmu, serupa kata-kata menggelepar, di kolam kering. siapa itu yang berteriak: hei, kemana ikan yang menggelepar tadi? dia melompat ke dalam kepalamu yang penuh air terjun.
aku akan kembali, memungut remah dari kata-kata yang tak pernah dihabiskan. di mana alamatmu? seekor ikan melotot dan melompat ke apartemen yang belum jadi. siripku, sayap yang pernah patah di kelopak bunga, kata ikan itu, menceritakan dirinya yang pernah menjadi kupu-kupu. ciumlah aku, kata bunga itu, kupu-kupu gemetar dan sayapnya patah, saat itu.
sudah, sudah, tak ada yang lebih sampah dari segala muntah, kata seekor ikan yang menggelepar di dalam kepalaku. aku ingin tidur, terpejam dan melupakan dunia yang teramat gaduh.
seekor ikan terbang ke langit, mencari kolam yang penuh air terjun, sungai-sungai yang bening
Malang, 17 Oktober 2011






Nanang Suryadi SEEKOR IKAN BERENANG DI LANGIT



Nanang Suryadi

SEEKOR IKAN BERENANG DI LANGIT

untuk: kang badri @indiejeans
aku menghikmati kesunyian, seperti menghikmati kehidupan. tak ada yang aneh dengan puisi
seperti juga senja ini, seekor ikan berenang di langit, ikan yang kau lepas tadi pagi
seekor ikan berenang-renang di langit, dan para perindu tertawa girang sekali
seekor ikan demikian riang, berenang-renang di langit, langit yang tenang
aku gemetar menatap langit, tapi ujarmu: lihat nanang, ikan berenang di langit, serupa kenang
para perindu, para pecinta menyeru-nyeru, namun engkau tetap tersenyum melulu. “lihat ekornya indah bukan?” ujarmu.
seekor ikan berenang di langit. berjumpa dengan rindu

Nanang Suryadi KUPU-KUPU DI BUKU WAKTU



Nanang Suryadi

KUPU-KUPU DI BUKU WAKTU

di buku waktu,
 seseorang melukis bunga matahari.
 seekor kupu-kupu hinggap di lembarnya
seekor kupukupu terbang dari dalam buku dongeng. sayapnya basah,
 menggelepar di atas kertas .
 seekor kupukupu terperangkap jaring sepi

Dedy Tri Riyadi, Rusa Balada Tukang Kuda



Dedy Tri Riyadi, Rusa

Balada Tukang Kuda

Dia hampiri
hamparan rerumput
dengan sejumput niat
-- meletakkan kiat melekat erat
pada sebungkuk punggung.
Punggung yang lama memanggungkan sejarah agung
laskar penyerbu bermata lamur dari sebelah timur.
Punggung yang ketika membungkuk,
sedepa demi sedepa bangsa-bangsa bangkit dan takluk,
dan mengira kutukan telah ditimpakan
sejak besi-besi itu ditempa.
Meski besi berupa sanggurdi dan ujung pelana,
dia juga pedang dan cerana.
Pada sisinya, dia merasa dunia jadi meja judi
dan sebuah kekalahan pertama.
Tapi dia bukan seorang dari Pandawa.
Dia hanya tukang kuda.
Pemelihara yang memicu sebuah pacuan
dan penyedia pakan. Dan pada hamparan rerumput itu,
dia berjalan.
Dia berjalan seperti membawa susu
untuk bayi dalam dirinya. Dunia, katanya,
tak lebih dari dengus semata.
Selebihnya gema.
Karenanya dia berjalan,
bukan berlari.
Sebab dia membawa bayi dalam diri.
Bayi yang belum bisa mengerti
betapa bahaya ular yang menanti
di dekat akar dan sumber air.
Ular yang mengerti -- "O. Betapa sukar bisa memberi..."
Dia berjalan di rerumputan
tidak seperti Gautama pada kuntum padma.
Dia akan berjalan sampai padam warna matahari.
Sampai semua kuda habis dipacu,
di bawah basuhan biru langit itu.
Langit yang terbuka serupa matanya.
Serupa pandang yang tak tamat ditumpahkan
pada sebuah padang, di mana dia temukan
-- dirinya seperti deru ladam
di dalam sebuah pacuan.
Dan dia dengar kembali
gemerincing itu.
2016

Dedy Tri Riyadi, Rusa Rusa



Dedy Tri Riyadi, Rusa
Rusa
Aku tak pernah tahu --
apakah dia bahagia
ketika pintu di lambung
perahu dibuka.
Seperti dari Mesir, ada yang
dipanggil untuk memanggul
sebatang dosa.
Aku bisa juga menduga --
dia berpura-pura.
Seperti dulu di Mara,
orang terpaksa minum
air pahit dari telaga.
Menuruni Ararat, dia menangis.
Merasa banjir belum berakhir.
Sewaktu merpati membawa
setangkai daun zaitun,
dia merasa begitu getun.
Barangkali, dia ingin berlari
mengitari padang. Atau berbaring
di samping batang tarbantin.
Barangkali dia memang ingin
berpaling dari kemah Si Tua
itu dan tak lagi menoleh
jejak tangis yang mulai kering.
Barangkaliinitak lain
karena dia hanya
seekor rusa.
2015