Tampilkan postingan dengan label Corona Antologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Corona Antologi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Mei 2020

JIKA PENYAIR MENCATAT CORONA oleh Nanang R Supriyatin

JIKA PENYAIR MENCATAT CORONA

Virus Corona atau Severe Acute Respitatory Syndrome Corona Virus 2 (SARS-COV-2), ialah virus yang menyerang sistem pernapasan. Hingga menyebabkan demam, batuk kering, flu, pilek serta sakit tenggorokan.
Wabah yang mendunia ini kiranya menimbulkan efek global, terutama menurunnya ekonomi dan merosotnya daya beli masyarakat. Infeksi Corona yang pertama kali terjadi akhir Desember 2019 di kota Wuhan, China, setidaknya terlihat jalan-jalan agak sepi dikarenakan 'lock down', resto-resto sepi dikarenakan berlaku Pembatasan Sosial Berskala Besar. Orang-orang menjaga jarak dengan menggunakan masker, dan sebagainya. Paramedis berupaya dan berjuang mengurangi pasien yang tak pernah henti berdatangan, menunggu untuk disembuhkan. Meskipun, banyak dokter yang mengorbankan nyawanya akibat wabah akut ini.
Seniman, khususnya penyair tak menyiakan even 'gila' ini. Salah satunya senantiasa mencatat peristiwa baik yang hadir melalui pemberitaan di media massa dan media elektronik, maupun kejadian yang tercermin di lingkungan serta diri sendiri. "Work From Home" (WFH) ternyata membuat penyair mencatat bebas peristiwa ini.
Antologi puisi "Corona, Penyair Indonesia Mencatat Peristiwa Negeri", ialah sebuah buku berisi puisi-puisi anyar, ditulis oleh 101 penyair Indonesia. Setiap penyair ternuat 1-3 puisi. Merupakan antologi puisi yang dicetak semata-mata sebagai dokumentasi yang digagas RgBagus Warsono, penulis asal Indramayu yang merangkap sebagai editor.
Peristiwa menakutkan akan kehadiran sebuah wabah, kiranya menuntut seorang RgBagus Warsono atau Agus Warsono untuk tak menyia-nyiakan mengajak peranan penyair menuliskan tema khusus tentang covid-19. Tak ada syarat formal. Pengirim puisi dipersilahkan mengirim puisi dengan tema sekitar Corona, serta biodata satu paragraf. Naskah dikirim melalui email, whattshap atau massanger. Sebuah awal yang saya kira kerja setengah hati. Bahkan, pengisi buku tak diwajibkan membeli buku. Naskah yang sesungguhnya pencatat sejarah dunia ini pada dasarnya akan tersimpan sebagai asset di Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia yang dikelolanya.
Alhasil, saat buku dikirim ke alamat rumah saya, setelah saya buka isi paket dan setelah saya simak lembar per lembar isi buku -- spontan agak kaget untuk tidak mengatakan 'hebat!' Sang editor merangkap kurator ini, ternyata sangat serius. Antologi puisi dicetak sempurna. Terbukti, Rg Bagus Warsono membuat pengantar cukup panjang (hal. 7-21). Buku 237 halaman ini terbit tak berselang lama setelah deadline pengiriman puisi.
"Bagaimana membangun ide judul puisi adalah bagaimana mata dan mata hati memandang kehidupan di alam ini. Sangat banyak garapan ide puisi namun banyak penulis terbelenggu oleh tema yang disuguhkan. Padahal tema itu menyuguhkan yang sangat luas disampingnobjek juga dampak dan penyebab. Artinya tema dapat ditarik kebelakang bahkan ke depan." (Hal 16).
Beberapa nama penyair yang puisinya dimuat sudah tak asing lagi. Sebut saja A. Zainuddin Kr, Asro Al Murthawy Dkm, Bambang Eka Prasetya, Giyanto Subagio, Heru Mugiarso, I Made Suantha, Roymon Lemosol, Salimi Ahmad, Salman Yoga S. dan Wadie Maharief.
Salah satu puisi Wardjito Soeharso asal Semarang di bawah ini, agak beda dalam diksi serta irama. Sangat menarik.

JAPA MANTRA

Bolading!
Klambi Abang
Bendho giwang
Jalitheng!
Jun jilijijethot
Wong Tampang asli
Cempe-cempe!
Undangan barat gede
Tak opahi duduh tape
Weerrr.....weerrr.....
Weeeeeerrrrrr....
Setan ora doyan
Penyakit ora ndulit
Wabah orang teman
Amung kersane Gusti Allah
Corona...
Minggaaaaaatttt!

Semarang, 27 Maret 2020 (hal. 199).

Buku indah ini -- sayangnya tidak diimbangi dengan pengerjaan cover yang tak serius. Di samping tak ada gambar sebagai simbol virus covid, juga foto para penyair terlalu gelap. Biodata dengan huruf kecil membuat mata mengantuk tatkala membacanya.

NRS, Jakarta Pusat.

Selasa, 12 Mei 2020

Selamat dan Sukses atas Lahirnya antologi Corona

Penyair :

1.A.Zainuddin Kr, (Pekalongan)
2.Abidi Al-Ba'arifi Al-Farlaqi (Aceh)
3.Ade Sri Hayati, (Indramayu)
4.Aditya Mahdi F, (Depok)
5.Agus Mursalin, (Kebumen)
6.Agus Pramono, (Mojokerto)
7.Agus Sighro Budiono, (Bojonegoro)
8.Agustav Triono, (Purbalingga)
9.Andi Jamaluddin, AR. AK., (Tanah Bumbu)
10.Anisah, (Magelang)
11.Anisah Effendi, (Indramayu)
12.Arif Abdil Bar, (Probolinggo)
13.Arya Setra, (Jakarta)
14.Asep Muhlis , (Serang)
15.Asih Minanti Rahayu, (Jakarta)
16. Asril Arifin(Indramayu)
17.Asro al Murthawy, (Marangin)
18.Azti Kintamani K , (Bandung)
19.Azizah Rifada Muhallima, (Kudus)
20.Bambang Eka Prasetya (Magelang)
21.Beti Novianti, (Bengkulu)
22.Buana KS, (Bungo)
23.Brigita Neny Anggraeni, (Blora)
24.Caridah Hartati, (NN)
25.Dhea Lingkar , (Surabaya)
26.Diah Natalia, (Jakarta)
27.Dian Rusdi, (Bandung)
28.Dwi Wahyu Candra Dewi, (Blora)
29.Dyah Setyawati, (Tegal)
30.Eksan Su, (Malang)
31.Eli Laraswati, (Jakarta)
32.Emby Bharezhy Boleng Metha, (Flores Timur)
33.Eri Syofratmin, (Bungo)
34.Evita Erasari, (Semarang)
35.Firman Wally, (Ambon)
36.Gampang Prawoto, (Bojonegoro)
37.Gilang Teguh Pambudi. (Jakarta)
38.Giyanto Subagio, (Jakarta)
39.Hermawan , (Padang)
40.Hasani Hamzah (Sumenep)
41.Herisanto Boaz, (Bandung)
42.Heru Patria, Pageblug, (Blitar)
43.Heru Mugiarso, (Semarang)
44.Harkoni Madura (Banyuates)
45.I Made Suantha, (Denpasar)
46.Iie Alie (Yusriani), (Jogyakarta)
47.Indri Yuswandari, (Kendal)
48.Irna Ernawati, (Bogor(
49.Is Mugiyarti, (Sragen)
50.Junaidi, (Pati)
51.Kurliyadi, (Cirebon)
52.Kurnia Kaha, (Jakarta)
53M. Johansyah (Tanah Bambu)
54.M.Muchdlorul Faroh, (Pati)
55.Marlin Dinamikanto , (Depok)
56.Meinar Safari Yani, (Klaten)
57.Mohammad Mukarom, (Wonosobo)
58.Mim A Mursyid, (Madura)
59.Muhammad Jayadi , (Balangan)
60.Muhammad Lefand , (Jember)
61.Muhammad Tauhed Supratman, (Pamekasan)
62.Maya Ofifa Kristianti , (Semarang)
63.Nanang R Supriyatin, (Jakarta)
64.Naning Scheid , (Brussel)
65.Nok Ir, (Jakarta)
66.Nuraedah, (Indramayu)
67.Nurinawati Kurnianingsih(Cilacap)
68.Omni Koesnadi (Jakarta)
69.Profijesarino Ubud DH. (Bandung)
70.Pensil Kajoe , (Banyumas)
71.Rg Bagus Warsono, (Indramayu)
72.Rosmita, (Muaro Jambi)
73.Rayako Dekar King, SY, (Aceh)
74.Ryan Aria Arizona, (Pekalongan)
75.Roymon Lemosol, (Ambon)
76.Rut Retno Astuti, (Bandung)
77.Raden Rita Maimunah, (Padang)
78.Sahaya Santayana, (Tasikmalaya)
79.Salimi Ahmad, (Jakarta)
80.Salman Yoga S, (Aceh)
81.Sami’an Adib, (Jember)
82.Sanur Keziandari, (Bandung)
83.Sarwo Darmono, (Lumajang)
84.Silivester Kiik, (Atambua)
85.Siswo Nurwahyudi , (Bojonegoro)
86.Soei Rusli, (Padang)
87.Supianoor , (Kusan Hulu)
88.Sutarso, (Sorong)
89.Sutarno Sk, (Jakarta)
90.Sukma Putra Permana, (Bantul)
91.Sulistyo , (Jakarta)
92.Sugeng Joko Utomo ,  (Tasikmalaya)
93.Sujudi Akbar Pamungkas, (Tuban)
94.Sudarmono , (Bekasi)
95. Sumrohadi , (Jakarta)
96.Supriyadi Bro (Surabaya)
97.Suyitno Ethexs, (Mojokerto)
98.Syafaruddin Marpaung, (Tanjungbalai)
99.Syahriannur Khaidir, (Sampang)
100.Syamsul Bahri, (Subang)
101.Teguh Ari Prianto, (Bandung)
102.Tjaha Kum, (Hoelea)
103.Uswatun Khasanah, (Gresik)
104.Wadie Maharief, (Jogjakarta)
105.Wanto Tirta, (Banyumas)
106.Wastirah, (Indramayu)
107.Wardjito Soeharso, (Semarang)
108.Wyaz Ibn Sinentang, (Pontianak)
109.Yoe Irawan, (Sukabumi)
110.Yublina Fay ,(NN)
111.Zaeni Boli, (Flores)



Senin, 13 April 2020

Evita Erasari , Bumiku


Evita Erasari ,

Bumiku


Laut biru
Langit biru
Membelah cakrawala
Senja menjadi jingga
Pagi searoma jiwa

O bumiku
Semua melirikmu
Semua melihatmu
Dari bilik ruang
Dari bilik waktu

Di balik bencana ada rahasia
Di balik kematian ada kehidupan

Corona kau datang
Bumiku bergetar guncang
Semarang , 10 April 2020

Jaga Harap


Malam langit kelam
Aroma gelap menyengat
Tubuh tubuh dalam jiwa terguncang

Di jalanan manusia pulang
Beringsut menutup rumah
Jendela hanya terbuka setengah

Dalam diam semua tercekam
Virus sebesar serpihan debu
Berkeliaran di segala ruangan

Bahkan di tempat paling terungkap
Mata telanjang kita tak tangkap
Mata hati kita bekerja rangkap

Di tiarap kita jaga harap
Di gelagap kita jaga degap

Oh sayap sayap cinta
Berilah kami tempat

Agar bisa menyelesaikan
Apa yang belum sempat

Agar bisa meletakkan
Apa yang belum tepat
Semarang , 4 April 2020

Evita Erasari , Tinggal : di Semarang
Pendidikan : S1 psikologi Unika Soegijapranata Semarang
Buku antologi bersama : Tambak Gugat , Semarang sepanjang jalan kenangan , 13 perempuan menanak Sajak , Progo 6 , antologi Wong Kenthir
Aktif di komunitas teater Aktor Studio Semarang

.SUJUDI AKBAR PAMUNGKAS: MEDITASI VIRUS

110.SUJUDI AKBAR PAMUNGKAS:

MEDITASI VIRUS

cobalah kau terawang kembali
kesenyapan ini seperti malam bermuara
petaka. kepulan asap merapen meditasiku
terasa berarak ke selatan, seperti menuju
pendulangan tulang-belulang ke poros malam

komat-kamit dalam nyanyian hening ini
adalah prosesi penghantar virus guna-guna
ke lambung hatimu yang telah kesekian dungu
mengenyahkan katrisnanku yang mengerak bumi
hingga kerontang waktu meliang kubur-kubur

"wel gowal gowel...
kuwe kudhu mlebu lan lebur nyawiji
katrisnanku ojo sampek mbok mblenjani
bruussss... bruussss... bruussss...!!!"
 (sampit, 120420)

SUJUDI AKBAR PAMUNGKAS, kelahiran Tuban. Selain dipublikasikan puluhan media cetak pusat dan daerah, juga beberapa kali pernah masuk nominasi LCP se-Indonesia. Karya puisi sebagian terangkum dalam buku seperti, Antologi Puisi Indonesia (API 1997) di antaranya bersama Sutardji Calzoum Bachri dan Slamet Sukirnanto. Kebangkitan 1995, Getar 1996, Negeri Bekantan 2003, Memo Untuk Presiden 2014, Merangkai Damai 2014, Sang Peneroka 2014, Jaket Kuning Sukirnanto 2014, Abad Burung Gagak Di Tanah Palestina 2015, Kalimantan Rinduku Yang Abadi 2015, Puisi Menolak Korupsi-6 2017, Kutulis Namamu di Batu 2018, A Skyful of Rain 2018, Zamrud Katulistiwa 2019, Mblekethek 2019, Perjalanan Merdeka 2020, Sayur-Mayur 2020 dll. Sempat aktif jadi Penyiar, Wartawan dan Redaktur Media Cetak dan Radio. Pernah menerbitkan Majalah dan Tabloid Berita yang tumbang oleh Tragedi Sampit 2001. Biografinya masuk dalam Leksikon Susastra Indonesia 2000 oleh Korrie Layun Rampa




.BUANA KS CORONA

109.BUANA KS

CORONA
Tentang risau yang begergemuruh
Angin berkabar tentang maut bergentayangan
Menyisir jengkal demi jengkal persembunyianmu

Corona engkau kah balatentara maut
Mengusir orangorang di mall-mall
Menghalau ibuibu di pasar tradisionanl
Mengunci pagarpagar sekolah, kantorkantor mengurangi
Jam kerja, para pekerja kekurangan gaji
Buruh kehilangan ladang penghasilan

Corona senyap hadirmu menyergap keangkuhan manusia
Kotakota mati seperti tak berpenghuni
Corona kau ciptakan sebuah jarak di antara setiap gerak manusia
Hai hai, corona siapakah engkau sebenarnya
Kekuatanmu mampu memblokade negara, sampai kampung terkecil sekalipun
Gemetar mendengar namamu

Corona pergilah, pergi tinggalkan tanah kami
Bocahbocah menangis siangmalam, merindukan suasana dulu
Dimana gelak tawa jam belajar, menggerakgerakkan kumis tuan guru
Dimana para marketing dan colector bank menghedor pintu para nasabah bandel
Dimana ibuibu lincah berpose manis di tamantaman bunga
Corona pergilah,, karena meraka sudah sadar baramgkali
Tentang malaikat maut, malaikat rezeki
Dan tentang keberadaan Tuhan



Pergilah,, berapa nyawa lagi akan kau curi
Sungguh kotakota benarbenar hampir binasa
Hanya karena ulahmu yang tak pernah diduga

Malam kini sunyi
Para pejalan malam sudah bosan bersembunyi
Kedai kopi dan kedai kedai lainya rindu pada
Gelak tawa pelanggan yang menghabiskan kopi berjam jam
Pergilah, kembali ke duniamu sendiri
Muarabungo, 10 April 2020























BUANA K.S Air Kelinsar kabupaten Lahat Sumatera selatan pada 17 Agustus 1985, dengan nama Lahir  Bambang Hirawan. Pada tanggal 16-18 Maret 2012 menjadi peserta TemuSastrawan Nusantara Melayu Raya I di Sumatera Barat. Pada akhir tahun 2015 Buana KS mencoba menulis biografi  singkat Alm Zubir Mukti salah satu tokoh sastra Kabupaten Bungo yang namanya hampir tidak dikenali di kalangan masyarakat Jambi dengan nara sumber adik dan Anak Alm Zubir Mukti. Puisi Buana KS pernah ikut dalam pameran Foto dan Puisi yang digawangi Sakti Alam Watir. Puisinya juga pernah dimuat surat kabar lokal seperti Jambi Independent, Pos Metro Jambi, Bungo Pos, Merangin Ekspres, Jambi One dll. Beberapa Karya puisi Buana KS  terangkum dalam antologi  puisiPenyair Indonesia dan mancanegara, seperti : Antologi 25 Penyair Muda Nusantara “ Traktat Cintadan Dosa Dalam Dendam” (Pena Ananda, Juli 2011), Antologi Sehimpun Puisi Generasi Kini “ JejakSajak” (BPSM 2012), Menguak Senyap (Rios Multicipt, Padang, 2012),  Senandung Alam (LeutikaPrio, 2012), Carta Farfalla (Tuas Media, 2012),  Talenta Para Pengukir Tinta Emas (AwangAwang Publishing, 2012),  Antologi Puisi IGAU DANAU (SanggarImaji, 2012),  Bilingual Poetry Anthology SPRING FIESTA “Pesta Musim Semi” (Araska Publisher, 2013),  Antologi Puisi Kota Jam Gadang “Bukittinggi Ambo Di Siko (Fam Publishing, 2013),  Kumpulan Puisi Penyair Indonesia MEMO UNTUK PRESIDEN (Forum Sastra Surakarta, 2014),  Antologi Puisi Penyair duakota “LACAK KENDURI” (Imaji, 2014),  Antologi Puisi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid III (Sibuku media, 2015), Antologi Penyair Menolak Korupsi IV “Ensiklopegila Koruptor” (Forum Sastra Surakarta, 2015), Antologi Puisi Dari NegeriPoci VI “Negeri Laut”(KKK, 2015),  Antologi Sekumpulan Puisi Sakkarepmu Penyair Mbeling Indonesia (Sibuku media, 2015), Antologi 13 Penyair Jambi “PENDARAS RISAU” (Rukam&Imaji, 2015)  Antologi PuisiPenyair Jambi “Rumah Cinta” (Balai Bahasa Provinsi Jambi, 2015), Antologi Ketupek Bengkulu (Oksana, 2016), Antologi Penyair Jambi '' Siginjai Kata-Kata (RUKAM, IMAJI, 2016). Saat ini Buana KS menetap di MuaraBungo, Jambi.Alamat :Bambang Hirawan, JL. Lebai Hasan RT 12 RW 04, Kelurahan Batang Bungo, Kecamatan Pasar Muara Bungo, Bungo – Jambi 37213, Hp. 085273586055



ERI SYOFRATMIN COVID 19

107.ERI  SYOFRATMIN

COVID 19

: Memorial wabah corona.

Sepertinya,
: Kurva-kurva kematian,
  Kian memuncak di negeriku.

Orang-orang,
: Menutup telinga,
  Pekakkan mata bathinnya,
  Seolah-olah wabah ini,
  Hanya iklan dan slogan saja.

Orang-orang,
: Tak hiraukan,
  Himbauan ntuk dirinya,
  Masih saja wara-wiri
  Meng-anak-pinakan corona.

OH.....

Sepertinya,
: Kurva-kurva kematian,
  Kian meningkat tak terbendungkan.

Rumah sakit penuh pasien corona
Ruang-ruang ICU tlah melimpah ruah
Kamar-kamar penuh sesak tak terelak
Hingga ke gang-gang kamar
Sementara para Dokter
Satu persatu di kerumunni wabah Covid
Hingga koit....Dan, Wabah virus Corona
Makin merajalela.



Inilah,
: Yang kita takutkan,
  Sangat mengerikan.

Tak terbayangkan,
: Satu persatu nyawa manusia,
Hilang di renggut kematian,
  Tak ada lagi tata cara penguburan,
  Sanak famili, Orang tua dan temanpun,
 Tak dapat menjenguk tubuh kakumu.

Subhanallah...
Subhanallah...
Subhanallah...
Allahu Akbar...
Allahu Akbar...
Allahu Akbar..

Lindungi Negaraku,
Dari wabah yang menakutkan,
Dan mematikan ini Ya Robbi...
Muarabungo, 22 Maret 2020.











ERI SYOFRATMIN lahir di Muara Bungo 07 September 1970. Mulai bergiat di dunia seni dan sastra ketika menempuh pendidikan di ASKI Padangpanjang pada tahun 1989 sampai tahun 1994 dan melanjutkan studi S1 di IKIP Padang jurusan Sendratasik selesai pada tahun 1998. Puisi puisinya banyak dimuat diterbitan Ganto, Harian Singgalang dll. Semasa kuliah banyak berkecimpung di Taman Budaya Padang bersama penyair-penyair dan seniman sumatera barat. Pendiri Forum Komunikasi dan Kreasi Pemuda di Kabupaten Bungo. Pernah aktif di Sanggar Pemda Kabupaten Bungo yang bergerak dibidang seni tari dan musik tradisi. Puisi-puisinya juga tergabung dalam antologi bersama seperti PRASASTI (1999) dan LACAK KENDURI (Dewan Kesenian Merangin, 2015) KITAB KARMINA INDONESIA (KKK, 2015). Aktif berkegiatan seni di Komunitas Seniman Bungo dan Sanggar Pisang Kayak. Saat ini menjadi tenaga pengajar Seni Budaya di SMPN 1 Muko Muko Bathin VII dan SMPN 1 Muara Bungo.
Alamat :  RM. SATE KAMBING LERI ASKA
JL. SUDIRMAN KM. O ( Depan Hotel Pelangi)
Kelurahan Pasir Putih
Kecamatan Rimbo Tengah
Kabupaten Bungo-Jambi

Meinar Safari Yani GURU SEMESTA

106.Meinar Safari Yani

GURU SEMESTA

Gerbang sekolah tertutup
Ruang guru sunyi mengatup
Pintu-pintu klas terkunci
Debupun membuai bangku kursi
Papan tulis terdiam  dan  buram
tanpa angka,tanpa aksara
Tanpa rumus atas goresan spidol Bapak Ibu Guru
Halaman sekolah lengang
Tiada upacara bendera ,tiada senam pagi
Tiada latihan Pramuka atau ekstrakurikuler lainnya
Saat ini ......
Seragam anak sekolah terlipat rapi di lemari
Anak-anak negeri batal ujian ,sementara yang lainnya belajar di rumah
Ikuti himbauan Mas Menteri untuk libur sampai nanti
Aah  CORONA ,tiada mampu kami mengelak atas hadirmu
Kau guru kasat mata di kehidupan semesta
Mengajarkan hidup bersih dan kembali pada ajaranNYA













DOA  DAN ASA
Tuhan ...
Kali ini hamba lebih berlama-lama dalam doa
Kali ini hamba berulang kali menyebut asmaMU
Kumengais cinta ,mengemis kasih sembari mengusap air mata
Sesak menyeruak di dalam dada
Hamba rasakan takut berlebih ,juga panik yang membuih
Pudar senyum hilang tawa
Kering bibir jiwa terbata
Telinga dan mata di jejali berita tentang wabah corona
Dari segala belahan dunia dan merenggut ribuan jiwa
Tuhan .....
Di atas sajadah kusam
Tanganku tengadah merangkai pinta demi pinta
Menautkan asa dan doa
Mohon usaikan wabah corona ini tanpa sisa
Dan izinkan kami melangkah di jalan lurusmu
Songsong Ramadhan penuh cita dan cinta

ASA  DI DERAI HUJAN
Hujan deras
laksana air memberontak dari langit
Bumi pasrah,tanah basah
Sesekali guntur bertasbih
Lewat gelegarnya yang susul menyusul
Subhanallah
Alhamdulillah
Allahuakbar
Bibir bergetar
Melafadzkan keMaha SucianMU
Ke Maha BesaranMU
Sembari berharap
Hujan adalah rahmad
Bagi segenap penduduk bumi
Membawa pergi dan lari virus Covid -19
Meinar Safari Yani, Lahir di Klaten,31 Mei 1967 ,guru di SMA  Kartika di Balikpapan sejak tahun 1998 .menulis puisi sejak SMP dan  dimuat di majalah MOP Jawa Tengah . menulis puisi  di koran Manuntung ( sekarang Kaltim Pos ) , guru pendamping lomba cipta dan baca  puisi antar SD Kartika tingkat nasional di Mabes Cilangkap 2006,pendamping lomba cipta puisi FLS2N SMA tgk kota dan propinsi 2019 ,  beberapa kali mengikuti antologi puisi dan sering mendapat tugas untuk membuat puisi untuk acara di lingkungan Yayasan Kartika Jaya

Hermawan Bencana Wabah

105. Hermawan

Bencana Wabah

Azabkah dari fitnah dan  hina menghina
Saat wabah itu datang dari utara
Semua merasakan sakit, prihatin, dan pilu serta
Melihat dan membaca berita bersileweran dari media
Hanya saha dan doa membuat sempurna

Seorang anak kecil yang berharap akan rezeki
Menunggu kedatangan para pemberi
Semua jadi sepi dan mimpi
Hanya awan-awan putih di langit biru yang tak bertepi
Saksi dan perwujudan keberadaan Ilahi

Seorang ibu mengajak anak itu pulang
Entah kemana menelusuri jalanan lengang
Berjalan ke luar masuk dari gang ke gang
Dari rumah orang-orang melihat tercegang
Ibu dan anak berjalan pulang

Sampai di kampung ibu dan anak merasa lega
Kehidupan berjalan  seperti biasa
Tak sepi seperti di kota
Oh corona
Datang dan pergi tak ada berita
Semua aktivitas terpenjara
“Ibu, semoga orang-orang itu tak berdosa menghadap Yangkuasa”
Pelajaran alam untuk hidup sederhana
Alam ini terjaga bersama
Rahasia alam adalah obat dari semua wabah yang bahaya

Batangkabuang, Maret 2020

Dunia fana yang hina menghina ini
Wabah merajalela bagai menghirup udara
Sadar tak sadar kita menghirupnya
Bersama kita nestapa apa adanya

Wabah datang begitu saja
Kita semua baru tersentak dan lupa
Lupa akan segala
Hidup sendiri
Bagai tak tahu diri
dalam kamar yang sepi

satu-satu kita ditinggal dan tertinggal
menangis dalam sepi
diantar oleh petugas sendiri
tak ada arti

bila tak ada arti
kenapa harus disesali
menghadap ilahi
hanya sekali

berhentilah wahai semua
jika pedoman ilahi
tanda arti diri
menhadapNya

Padang, 1042020







Tahu Diri

Ramadhan  penahan diri
Corona pengikat diri

Di mana diri
Yang selama ini
Hanya mengebiri
Tak tahu diri
Resah gelisah dan iri

Di hari ini
Merasa tak ada lagi
Dalam kamar sendiri
Di luar sepi sekali
Diperintah supaya patuhi
Kabar kabarilewat jari

Setelah bersih diri
Kita buang segala iri
Saling menyadari
Untuk hidup lebih berarti
Padang, 4 42020

Hermawan, akrab dipanggil An, lahir di Jakarta 14 Desember Alamat Jl. Bakti ABRI No36 RT 01 RW 1  Kelurahan Batangkabung-Ganting Kecamatan Kototangah, Padang, 25172, telepon 081363260719, WA 081261177458 email: hermawan.caniago@gmail.com.
Staf pengajar STKIP Rokania ini aktif menyajikan makalah tentang sastra dan pendidikan diberbagai pertemuan ilmiah. Puisi-puisi yang terbit dalam Gaga antoloi puisi mahasiswa sastra Universitas Bung Hatta tahun 1986, Bung antologi puisi dosen Universits Bung Hatta, Ragam Puisi Kolaborasi Cinta Anak Negerimu, Patah Tumbuh Hilang Berganti (2015) blencong, Menyemai Ingat Menuai Hormat, Matahari Cinta Samudera Kata, Nyanyian dari Hutan, Pantai, dan Taman Kota (terbitan HISKI), (2016) Aceh 5:03 6,4 SR, 6,5 SR Luka Pidie Jaya, Nyanyian Puisi untuk Ane Matahari, Menderas Sampai Siak, Mufakat Air, Nyanyian Gerimis (2017), Sendja Djiwa Pak Budi dan Epitaf Kota Hujan serta Anggraini, Tugu dan Rindu kumpulan puisi Pematangsiantar Penyair Nusantara, Do’a Seribu Bulan antologi puisi ASEAN, Wangian Kembang antologi puisi ASEAN dan India, 999 Sehimpun Puisi Penyair Riau HPI 2018 Riau, antologi puisi Guru Tentang Sebuah Buku dan Rahasia Ilmu gerakan seribu guru ASEAN menuls puisi (2018),  Kitab Puisi Indonesia 1001 Cinta, 1001 Rindu (terbitan HISKI & anam pustaka www.AMBAU.ID 2019). Jazirah 2 Segara Sakti Rantau Bertuah, Lelaki Yang Mendaki Langit Pasaman Rebah ke Pangkal Pasaman dalam Puisi Penyair Nusantara (2019), Tegal Mas Island Poetry International Festival dalam antologi (2020). Dari Kemilau Masa Lampau Antologi Esai dan Kritik, Sepenggal Rindu Dibatasi Waktu antologi cerpen   (2015). Masuk dalam buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia Yayasan Hari Puisi (2017). Editor dan prolog antologi puisi Perempuan Bajak Laut karya Rahmanidar (2018), dan prolog Menghilir Sungai Tak Berkuala Himpunan Sajak Cinta Rakyat karya Yassinsalleh terbitan Pena Padu Malaysia prolog kumpulan puisi Air Mata Laut dan Zikir Hati karya Laksamana Selat Lalang (2019).





.Muhammad Tauhed Supratman KORONA DAN ORANG MISKIN

103.Muhammad Tauhed Supratman 

KORONA DAN ORANG MISKIN

telah kujelajah penjuru mata angin, kekasihku
tak kutemukan korona di rumah bambu
padahal kau di tv, koran dan media sosial
menganjurkan orang miskin negeri ini
di rumah saja
saling menjaga tak tularkan korona

korona itu tak dipahami, kekasihku
orang-orang miskin di negeri ini
diam di rumah saja
orang-orang miskin hanya meratap
tangisnya tak lagi airmata. ia darah
mata tuanya menyimpan api. nyala tapi tak pernah
membakar siapa-siapa, kekasihku

orang-orang miskin di penjuru mata angin
diamnya tak simpan senyummu
hingga kutulis sajak
ini bukan surga, saudaraku
Pamekasan, 2 April 2020












DONGENG KORONA

inilah sejarah kemanusiaan paling unik
di kolong jagat
ketika pandemi korona
menghiasi punggung zaman

inilah sejarah kemanusiaan paling unik
di kolong jagat
resah, gelisah, cemas, dan ketakutan
di dramtisir penyebar hoax

inilah sejarah kemanusiaan paling unik
di kolong jagat
mitos lebih dikedepankan
dari akal sehat
Pamekasan, 5 April 2020

DROPLET

pada droplet yang meneteskan resah
telah tergores pesan korona
segumpal awan melintas
di ujung impianku yang kian piatu
di gemericik hand sanitizer
sesakkan kalbu

sajak di droplet itu
berdongeng tentang isolasi mandiri
yang menggiring physical distancing
dengan masker yang tak jua usai
mengasah asaku bertasbih
adukan duka pada seberkas
cahaya bintang di ranting  ragu
Pamekasan, 11 April 2020


Muhammad Tauhed Supratman,   lahir di Pamekasan, 27 Nopember l970. Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Univesitas Madura, Pamekasan (2001) ini menulis puisi,  menggunakan bahasa Indonesia dan  bahasa Madura. Karya-karyanya berupa sajak, cerpen, dan esai sastra dipublikasikan di: Jawa Pos, Karya Darma, Mimbar Pembangunan Agama, Mingguan Guru, Aula, Radar Madura, Surya, Surabaya Post, Kidung,  Bende (Surabaya), Simponi, Inti Jaya, Kompas (Jakarta), Suara Muhammadiyah (Yogjakarta), Sahabat Pena (Bandung), dan sebagainya. Sajaknya “Nyanyian dari Kampus” terpilih dan dibacakan di Radio Nederland, di Helvirsum, Belanda dalam rangka HUT ke-53 Republik Indonesia. Antologi sajak tunggal: “RAPSODI MAWAR DAN GERIMIS” (Ganding Pustaka, Yogyakarta, 2015)  “BERNYANYI DALAM BISU”, (Penerbit Kekata Group, Solo, Maret 2020). Tahun 2019 menerima Penghargaan Sastra dari Gubernur Jawa Timur. Kini tinggal di Jl. Jembatan Serang 3, Tanjung, Pademawu, Pamekasan, Madura, 69381.  e-mail: tauhed@unira.ac.id    HP. 081 230 335522








SYAFARUDDIN MARPAUNG SEJAGAT SEDANG PILU

104.SYAFARUDDIN MARPAUNG
SEJAGAT SEDANG PILU


Dunia berguncang
Wuhan berpunca
Pandemi menyebar
Menginfeksi jutaan
Mayat berjatuhan
Tangis ketakutan
Misterius mencekam
Hipotesis perdebatan
Kelelawar jadi inang
rekayasa konspirasi
Saling tuding perang tanpa senjata
Masyarakat panik negarawan menyabung mandat

Obat misterius tak ditemukan
Vaksin dalam pengkajian
Pejabat dan sipil terpapar sekarat
ODP berkeliaran PDP tak terterawasi
APD langka masker bersembunyi dibalik tangan nakal



Lockdown diperdebatkan social distance jadi tawaran
Meredam penyebaran jarak menabiri
Rumah berserah Ilahi
Ketauhidan dituntut keimanan diuji
Saling menguatkan





Syafaruddin Marpaung lahir di kota Tanjungbalai 09 Januari 1977. Lulusan S2 ilmu Linguistik Universitas Negeri Medan ini, kini bertugas sebagai guru Bahasa Inggris di SMA Negeri 2 Kota Tanjungbalai. Sebagai seorang  pendidik ia menuangkan ide dan pemikirannya dalam bentuk artikel, jurnal, makalah, puisi. Kritik essainya dimuat dalam Antologi bersama “Menggiring Mimpi (2019). Beberapa puisinya dapat dibaca dalam Antologi bersama “Lolongan Lolong Negeri” (2019), “Sejarah Lahirmu” (2019), “Jazirah II/III” (2019), 1000 Tahun Mengenang Situs Kota Cina (2019), Antologi Puisi Pasaman (2019), Antologi Puisi Pringsewu (2020), Antologi Puisi Semarang (2020). Antologi Mengenang Damiri Mahmud (2020). Jejak dan kicauannya terselip di akun facebook Syafaruddin Marpaung dan IG Syafar_Marpaung. Jika pembaca ingin berkomunikasi lebih lanjut dapat menghubungi pos elektronik syafarudinmrp@yahoo.co.id atau di nomor telepon dan WA : 081361549346.



Agus Pramono TATANAN BARU

101.Agus Pramono

TATANAN BARU

gagalnya insting manangkap isyarat
ombak mengguncang lebih liar
angin berembus tak terduga
beberapa gunung menggetarkan jarum skala
kicau burung liar sisakan pertanyaan
gonggong anjing risau yang tak biasa
kucing merengek dengan mengeong manja
tapi semua tak mampu
diterjemahkan sebagai petunjuk

hingga menyeruak sosok tak kasat tiba-tiba
langsung menusuk ulu, sendi, saraf dan simpul kehidupan
porak porandakan tatanan
semua terdampak
dan korban berjatuhan
yang tak sengaja atau harus dikorbankan

tatanan siklus harus diulang tata
laksana belajar berhitung kembali
dan seperti keping pasangan
semua pasti mengandung hikmah
dan pelajaran bagi
yang mau berpikir sebagai manusia

Mojokerto, Maret 2020






BUKAN DAVID VERSUS GOLIATH

memang hal kecil itu
nyaris tak terlihat
justru sering membuat
kesulitan

telusup itu barang sangat kecil
tapi bisa membuat kesakitan tak terkira

selilit itu barang kecil
tapi bisa menjengkelkan dan memalukan

kelilip itu barang renik
tapi mampu membuat gelagapan

kerikil tak sebesar umumnya batu
justru bisa membuat terpeleset, jatuh tersungkur

corona itu hadir dengan mode halimun
kasat tak tersensor mata

dahsyat akibat yang ditimbulkan
tatanan global dijungkir balikkan

memasuki relung batas negeri-negeri
tanpa paspor tanpa permisi
malah meminta korban tak terduga

semua bagai dipaksa mengulang
kembali belajar menjadi manusia
dan menyadarkan betapa tak berdayanya
sang penghuni bumi
bernama manusia

Mojokerto, April 2020
RONAMU MEMANG MENGGEMASKAN, CORONA

wasiat lawas para pujangga bijak
dirunut dan ditelisik kembali
karena karya kuno yang mengandung ramalan
terhubung dengan kejadian terkini

terawang para cenayang diurai
praduga para paranormal diudar
terkaan para peramal diutarakan
intuisi para indigo dijabarkan

yang justru tumbuh berkembang
alih-alih saling bantu gotong royong
oknum dengan bersenjatakan media sosial
ahli ibadah gadungan dadakan bermunculan
ahli kesehatan abal-abal bertebaran
politisi oposan memanfaatkan untuk cari panggung
buzzer menggoreng berita dengan bumbu hoaks

ulah mereka mungkin bertujuan meresahkan
betapa semua jadi menyebalkan

hanya cari sensasi
dan cari selamat sendiri
gambaran nyata
homo homini lupus

awam namun bijaksana
mestinya bisa memilih memilah
semua akan berlalu indah

sementara biarkan dahulu
bumi membersihkan diri
dengan caranya sendiri

dan siluman itu memberi hikmah
secara menggemaskan
buat yang waras
buat yang waras
Mojokerto, Maret 2020

Is Mugiyarti PENSIL

102.Is Mugiyarti

PENSIL
pensil terserut
dipilin-pilin
cemas tergigit
menggelinding di bawah meja

anak itu ...
sang murid
coba mengambil
tangan munggil
gigit jari

SAPU!
pekiknya riang
ditolaknya terlalu kencang
ke bawah sepatu bapaknya
patah jadi dua

ditimangnya
pensil tak bisa diraut
sedang buku-buku
diam masam

pun bapaknya datang
dua pensil disorongkan

pensil terserut
dipilin-pilin
cemas tergigit
dan suatu malam
anak itu
demam terbatuk covid
Sragen, 6 April 2020
       

Andi Jamaluddin, AR. AK. DI TAHAJJUD

100.Andi Jamaluddin, AR. AK.

DI TAHAJJUD

Lewat angin, kukirimkan :
tahajjud. Suara kubelah tipis
jauhkan covid-19
ke tidur pulas. Selamanya

Kuingin berteduh
di pembaringan damai
mendengar lantunan takbir :
ke antero jagat

Rindu hati membara
menyatukan jiwa. Keresahan
simpang siur, dari nyata

//ajarak/11.04.20/02.02/pgt.tanbu//

















MASKER ITU BERLAPIS CINTA

bertebar Covid-19
di semua ruang. Mengintip
Kasat; tak berwajah
lebih dari debu
pelan menyusup

masker kian merindu
tipis, berlapiskan cinta
mengapa galai
mengasah pedang, tebasi diri
mengkarantina bara ambisi
;hanya berjeda. Perangi ego

//ajarak/12.04.20/06.17/pgt.tanbu//







YOE IRAWAN CORONA

 99.YOE IRAWAN

CORONA

Kubaca pandemi
Wuhan yang asing tiba-tiba telah berdiri di samping
Kegaduhan pasarnya serasa di kelokan jalan depan gerbang
Membawa corona sampai tak berjarak. Tak bisa ditolak
Sampai kota demi kota dibuatnya bertumbangan



Ya. Jauh-jauh hari corona sampai di sini
Tetapi kedatangannya telah ditutupi aksi politik
Padahal seluruh kota tengah menggelepar. Satu demi satu terpapar.
Satu demi satu terkapar
Haruskah politik selalu dibuat begitu pelik?



Ayolah, ini tentang nyawa kemanusiaan
Lihatlah para tenaga medis telah berdiri di garis terdepan
berjibaku tanpa pencitraan. Gigih melawan
Demi tubuh yang lain tubuh sendiri jadi taruhan



Kau baca pandemi. Jagalah negeri
Menolaklah untuk kehilangan
Rasa seiring seperjalanan

                             Sukabumi, 11 April 2020


KEPALA TEROMPET CORONA

Membayangkan kepala terompetmu, Corona
Berpuluh-puluh kepala terompet dalam tubuhmu yang tambun
Aku teringat penyedot debu yang kejam

Sepertinya kamu tak punya hati selain kepala terompetmu
Menyedot sel, menguasai udara di dalam paru-paru atau apalah tanpa ampun
Jika satu terlepas maka kepala terompetmu yang lain
Akan menghisap dengan buas. Lusinan kepala terompetmu
Beramai-ramai menghisap kematian tiada terkira

Kamu terlalu tega, Corona
Kota demi kota banjir bandang duka lara

Kepala terompetmu terus merajalela
Merubah tatanan sosial dan sendi-sendi kehidupan
Kamu bolak-balikkan segala yang sudah mapan
Kamu lengkingkan kesenyapan tak bertepian

Kini di balik pintu
Aku hanya bisa mengutukimu
: pulanglah ke haribaan Tuhan!

Sukabumi, 11 April 2020






Yoe Irawan lahir di Kendal, Jawa Tengah, pada 26 Juni. Menetap di Kota Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia. Karya cerpen dan puisinya tergabung dalam banyak antologi, di antaranya: Antologi Puisi Indonesia 1997 (Komunitas Sastra Indonesia & Penerbit Angkasa, Bandung, 1997), Jakarta Dalam Puisi Mutakhir (Dinas Kebudayaan Jakarta dan Masyarakat Sastra Jakarta, 2000), 142 Penyair Menuju Bulan (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru & Kalalatu Press, Kalimantan Selatan, 2006), Negeri Pesisiran, Dari Negeri Poci 9 (kumpulan puisi, Komunitas Radja Ketjil 2019), When The Days Were Raining (kumpulan puisi, Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019), Perjalanan Merdeka – Independent Journey (Antologi Puisi Internasional Dua Bahasa, Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, 2020), dan lain-lain. Sedang karya cerpennya termuat dalam majalah Ummi dan Annida, juga dimuat dalam antologi cerpen Anak Mimpi (Kumpulan Cerpen Anak, Fam Publishing, 2015). Pernah memenangi lomba menulis cerita pendek islami LMCPI I UMMI tahun 2000 dengan judul Urip Pergi Lagi, Cerpen Guru Untuk Ra menjadi cerpen terpilih dalam lomba cerpen Kagama Virtual 2  tahun 2017, serta Cerpen Sepotong Sayap Di Bulan Mei menjadi cerpen terbaik dalam Lomba Cerpen yang diadakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta bersama Yayasan Hari Puisi tahun 2019 (Kota Kata Kita, Disparbud DKI dan YHP 2019).


Nok Ir PANDEMI JERI

98.Nok Ir

PANDEMI JERI

/ 1 / Desah Wabah

Hujan sepagi ini mengabarkan duka dunia
Menjarum tajam tajam di berbagai belahan
Merinai kelam lumat rupa alam
Kelabui semburat negeri hingga tak elok lagi

Kataku, keegoisan manusialah yang mengedepan
Menyalak riang di antero bumi 
Mentertawai harmoni alam yang terabai berkepanjangan

Jiwa digdaya menjelma nelangsa

/ 2 / Emak Bapak Bersitatap

       Bahkan, dalam bertinggal diri di kediaman
       Ku mengharuskan lewat paham
       Ku kail berdarah darah pengetahuan 
       Hingga menderaikan cucur jeri ngeri
        Luapkan peluh penat setiap saat
        Hanya untuk sekedar mengerti
        Dengan bekal seberapa untuk anak pinak

        Mengasupi perut, membeli petutup mulut,
        menyedia sabun basuh kalut

        Kemana harus meratap harap, pintu pengail
        rejeki tlah tertutup rapi

        Tinggal sunyi mendera pedih perut perih



/ 3 / Murid Menjerit

Pergantian hari tanpa seri
Tanpa rehat di kantin ataupun senam pagi
Jungkat jungkit menjerit sakit
Tak ada tandangan gelak tawa
Belajar di daring tanpa bel berdering
Tugas saling bergegas haruslah lekas
Tak berdiskusi tak berembug lagi
Pekik mereka : aku rindu guru, walau dengan gerutu



/ 4 / Guru Mengulum Kelu

Bunyi telpon sering berdering
Grup grup riuh meletup-letup
Murid menjerit kebingungan
Kapan sekolah kembali terolah
Orangtua meronta penuh tanya
Tak sanggup mendampingi lebih berperi
Belum lagi pekik dapur minta terus mengepul

/ 5 / Tanah Meratap Lemah

Retak yang lama bergemeretak
Alir nadi di bawahnya tlah lantak
Akar-akar menjelma cengkeram cakar
Matahari kini menjadi nyawa diri
Erupsi gencar di sana sini
Jumawa tetap digadang bangga
Bilakah paham untuk tundukkan badan

Sumenep, 11 April 2020




Nok Ir, lahir di Demak, 28 Januarai. Telah menulis puisi dan cerpen sejak remaja. Karya-karyanya telah terhimpun dalam puluhan antologi puisi bersama kawan penyair di dalam dan luar negeri, diantaranya 1000 Guru Menulis Puisi yang memecahkan rekor MURI sebagai antologi dengan penulis terbanyak, Kitab Pentigraf 2, 3, dan 4, Independence Journey, Berbisik pada Dunia serta yang lainnya.











Diah Natalia C - nomor 19

97.Diah Natalia

C - nomor 19


Satu dasawarsa dimulai pada tahun yang berakhir dengan angka 0
berakhir pada tahun dengan angka akhir 9
C memilih menjadi angka 1
Populer dan diberikan angka 1 untuk akhir-akhir yang dicipta
C nomor 19 memberikan arti kesabaran.

Dia tidak kecil dan bisa dibaca
Jejemari kebaikan dan mulut-mulut yang merapal doa
Langkah-langkah yang tak berhenti hanya pada kebajikan
Merujuk pada penghindaran untuk si Nomor 1 dan 9.

Memperpanjang nafas bumi dari derak-derak kerusakan
Akibat manusia-manusia bodoh, menyalahkan lain manusia
Tak mengerti mana dirinya ataupun alam punya kuasa
Seolah itu tugasnya untuk bertahan hidup.

C bukan nomor 1 - C adalah nomor 19,
Tak secepat gelombang tercepat melaju
Tapi memberikan kejut pada angka pada yang sudah menyerah
Meredam euforia hal yang tidak berguna bagi sesama
Memegas iman-iman yang rapuh.

Hukum C Nomor 19 akan tercatat dengan hati –

Bali, 12.04.20


Corona dan Aku


Namaku Covid diberi nomor 19
Aku kecil tak kasat mata
Aku iri dengan hidup-hidup lain yang lebih sempurna
Bahkan aku tak tahu iriku menjadi dengki.

Aku suka dengan suasanan dingin
Jauh dari bahan-bahan kimia
Aku tak mengenal manusia ataupun hewan.

Aku evolusi dari kakaku SARS-
Dan aku belajar jauh lebih baik darinya
Aku senang mengambil nafas-nafas yang tak terdera
Aku akan menari dan kau merasakan gigilan demam.

Mereka berusaha memusnahkanku dengan apapun
Membuangku dengan batuk dan helaan nafas yang lain
Aku kadang tak paham mengapa mereka menghancurkanku

Aku punya hak hidup yang sama
Aku masih enggan memberikan jawaban atas kemusnahanku
Aku ingin hidup berdampingan

Dan terus mencari cara untuk bertahan.
Sebagai aku – aku tak bersalah
Aku hanya mencari hidupku.

Bali , 12.04.20




Diah Natalia., S.Si., Apt – Lahir di Jakarta 36 tahun yang lalu – Prestasi yang pernah diraih sebanyak 26 macam dimulai tahun 1999 – 2018,
Saya adalah apoteker yang masih berjuang meraih gelar master demi kehidupang yang lebih layak, gemar menulis menjadi pelampiasan segala suasana hati supaya tidak sableng .FB : diahnatalia23@gmail.com – Twitter : @keikokinanti



Sumrohadi CORONA

96. Sumrohadi


CORONA

Dia yang mengendap - endap
Hinggap
Merayap
Menghadirkan pengap
Membunuh dalam senyap
Membuat kita kalap

Dia tak terlihat
Dalam gawat
Memaksa semua manusia berobat
Melalui tobat
Menjauhi maksiat

Mengunci segala laku diri
Membuka hati
Mengetuk nurani
Mengajak berbagi

Dia begitu perkasa
Mengombang ambingkan asa
Hingga tiada tersisa
Kecuali berserah segalanya
Kepada Yang Maha Kuasa

JAKARTA 12042020

Minggu, 12 April 2020

ARSIL ARPIN

           Wedi Langka Padane
Bentuk rupane ora jelas
Geger anjer kabeh menusa
Memuja ning masjid ora bisa
Corona sakti mandraguna

Jaluk tulung kabeh menusa
Maring Gusti sing kuasa
Sesambat ning jero umah
Gage taubat durung terlambat

Corona aja  den wedeni
Hayu pada diadepi
Waspada sesuci den lakoni
Bersih dhohir lan batine
Corona sirna pitulung Gusti
                                          11-03-2020

H.ARSIL ARIPIN

            Kudu nurut ning pitutur
Bokat wis kudune dilala kersane Gusti
Cocoba maring badane
Corona nempel ora pandang bulu
Rakyat,pejabat,pangkat di dekemi
Manggon kang ora dikarepi

Hayu bareng bareng diladeni
Aja metu sing panggonan
Memuji kang ni suci
Dedonga mugiya corona sirna
Nurut manut pitutur wong tua

Corona  luruh batur jalma susah diatur
Aja sombong lan takabur
Dikongkon meneng pada kabur
Pada kumpul kaya jamur
Elinga kita lagi kenang panggebug

                      12 - 02 -2020

[14:30, 4/11/2020] h asril: H.Arsil Aripin


      Kelingan
Bocah cilik wedi ning culik
Wong macule pada mendelik
Majikan sinjange lurik
Manggul ceting,iwake betik

Guru nulis masih ning  blagbag
mangkat  sekolah ceplekan  bae
Blibisa,maca nulis disetraf
Ngadeg ning arep ora iyeg

Pit ontel tunggangane mantri
Wibawah kaya pa mentri
Ora ana wong kang pada wani
Murid nurut  pada ngerteni dawuh

  Desa Duwur 10-03-2020

H.ARSIL ARIPIN lahir di Indramayu 10-02-1963
 Pendidikan :
SDN Diponegoro Pusakaratu Subang 1976'
SMP Yaker Kertasemaya 1980
SPG Gunungjati Cirebon 1984
STAIC Cirebon 2004
Pekerjaan
Guru SD Sukalila I Jatibarang 1986-1992 mutasi Ke SDN Jambe III Larangan jambe Kertasemaya, 1992 -2007 dan  Kepala SDN Jambe I   2007 -2013 dan alih tugas ke Pengawas SD di Kec Sukagumiwang 2013 sampai sekarang
Organisasi semasa di SPG bergabung di Teater NARA Cirebon  asuhan Andrian Harjo



Puisi-puisi : Wyaz Ibn Sinentang DIAM DALAM DIAM

Puisi-puisi : Wyaz Ibn Sinentang



DIAM DALAM DIAM

(ketika Corona  menggucang bumi)



Berseteru dengan ujud tak berbentuk

tinggalkan seribu tanya tak berujung

ujug-ujug panik menyusupi, akal remuk

sepanjang waktu terus menggelembung



Kata-kata bijak pun tak mampu meredam

lantaran ciut dalam ketakutan duniawi

yang hadir saat nurani tenggelam

diam dalam diam pada jiwa sepi



Bumi Ale-Ale, 4 April 2020





























TENTANG KEMATIAN

( catatan harian sang pemungut kata )



KELAKAR duniawi berbisa undang amarah semesta tak pandang bulu

beton kukuh dengan arogansinya lupa akan tangan-tangan yang kelu

irama kehidupan jelata sayup terdengar janji pun tinggal berlalu



Semena-mena ternyata pemantik dari wabah corona kerdilkan hati manusia

yang tak seharusnya disantap malah dijadikan ajang popularitas semata

yang jelas-jelas dilarang akidah terus dilakukan tanpa timbang rasa



Berbagai teori dan spekulasi bermunculan akhirnya semua terbantahkan juga

perlahan dunia digenggamnya, kematian menanti dalam kecemasan tiada rupa

segala penjuru kelimpungan melawan ganas ujud renik yang menggila



Bumi Ale-Ale, 20 Maret 2020



































BIOGRAFI PENULIS



WYAZ (Wahyudi Abdurrahman Zaenal) IBN SINENTANG lahir di kota Pontianak tanggal 24 April 1966. Mulai menulis puisi sejak tahun 1980. Karya-karyanya pernah dimuat di beberapa media lokal, Nasional/luar pulau, Negeri Jiran,  dan online.

Karyanya juga terangkum dalam beberapa kumpulan puisi dan cerpen bersama. Antologi Puisi tunggalnya BERSAMA HUJAN (Kelompok Empat Kreatif, 2011), HIJRAH (Kelopak Poedjangge/SEC, 2012), NYANYIAN LILIN PUTIH (Shell-Jagad Tempurung, 2012), PERJALANAN SAJAK BULAN KOSONG (Kelopak Poedjangge/SEC, 2013), REKAH CAMELIA DI LANGIT DESEMBER (Kelopak Poedjangge/SEC, 2014), TIGA IBU (Guepedia, 2016), Kumpulan Cerpen tunggalnya PUING (Jentera Pustaka, 2014).

        Menetap di kota Ketapang (Kalimantan Barat), Jalan Gatot Subroto Gang Hadi No.A6, Payak Kumang. Email: wahyuaz53@yahoo.com. FB : Wahyu Yudi.





Dian Rusdi DISEMINASI VIRUS

Dian Rusdi

DISEMINASI VIRUS



Tak ada yang bisa ditemukan di Wuhan

Selain sisa kehidupan yang berubah jadi aksara-aksara kematian

Di berita elektronik dan lembaran kertas cetak

Buah bibir di pertengahan musim dingin

Irisan musim paling memilukan



Gedung-gedung kosong jadi pesta debu dan kuman

Rumah-rumah mewah sepi bagai di pekuburan

Pohon dan hewan isyaratkan keras dalam kedukaan

Sepanjang jalan angin berembus terasa begitu sunyi

Memainkan debu dan daun-daun kering

Sejak kehidupan kota ini direnggut virus mematikan



Wanita dan anak-anak pun tak terselamatkan

Burung bangkai mematuk mayat-mayat bergelimpang

Semilir angin menebar virus kematian

Mengirim anyir darah-darah busuk dan segar



Tak ada lagi yang bisa ditemukan di Wuhan

Selain pesta angin dan lalat-lalat yang kelaparan

Dusta mana lagi yang akan kau sembunyikan wahai, Wuhan!

Bandung 2020

SAJAK UNTUK PECUNDANG



Siapakah yang datang mengendap-endap

Lalu diam-diam ia memangsa

Begitu cepat menyerang pernapasan

Mengelabui tanpa berani terlihat

Mungkinkah dia seorang pecundang?



Siapakah yang diam-diam menebar ancam

Kota dan desa kini begitu mencekam

Meneror kami yang tak tahu apa-apa

Kehadirannya isyaratkan semua manusia

Bisakah engkau merevisi takdir Tuhan, wahai Corona



Kau yang datang dengan malu-malu

Sembunyi di balik droplet dan debu

Lalu menyerang tanpa ada perasaan

Satu persatu engkau renggut nyawa manusia

Pecundang! beraninya sembunyi-sembunyi



Kau yang datang tanpa mau permisi

Kenapa tak engkau mangsa saja para koruptor

Para begal sadis dan maling-maling bebal negara

Menari di atas luka rakyat-rakyat kecil

Janganlah menyerang dengan asal



Kepada kau yang selama ini membuat gunjing

Yang memutus keramaian dengan kesepian

Begitu najiskah bekasmu melebihi bangkai binatang

Di sana sini sebagian korban ditolak warga untuk dimakamkan

Pergilah, Corona! jangan pangkas negeri kami yang rentan



Pulang, pulanglah ke tempat asalmu ke alak paul

Ke laut yang dalam atau goa-goa gelap

Ke kerajaan langit atau kastil-kastil sunyi

Neraka mungkin tempat kelahiranmu telah menanti

Ataukah memang benar engkau seekor pecundang



Bandung 2020























Biodata singkat:

Dian Rusdi : lelaki kelahiran Cianjur yang kini tinggal di Bandung. Hobby menulis dan melukis serta traveling. Puisi dan karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak dan online serta pernah tergabung dalam beberapa buku antologi puisi bersama bersama kawan penulis lainnya. Saat ini Dian Rusdi aktif dalam sebuah wadah sastra Yayasan Dapur Sastra Jakarta asuhan Bung Remmy Novaris DM dkk