Kamis, 26 Mei 2011

KUIS MAIN KATA GLOBAL TV DIMINATI GURU SEKOLAH DASAR DI INDRAMAYU

KUIS MAIN KATA yang ditayangkan Global TV mengunandang minat para guru Sekolah Dasar di Indramayu, Khususnya guru SDN Pasekan II. Sepulang dari tugas mengajar 12.30, guru berserta kepala SD Pasekan II Kecamatan Pasekan Kabupaten Indramayu langsung duduk di depan pesawat TV menyaksikan acara Kuis Main Kata. Mereka berminat sekali akan permainan kuis ini yang banyak mengandung pendidikan dan pembelajaran bahasa Indonesia yang benar. Tahap kata dasar sangat memberikan pengertian akan kata dasar Bahasa Indonesia, yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang benar. Kemudian susun kata menjadikan ede teknik mengajar bagi guru-guru di sekolah itu. Agus Warsono, SPd, Kepala SDN Pasekan II yang juga Ketua Himpunan Masyarakat Gemar Membaca (HMGM) Indramayu sangat mendukung kegitan nonton bareng acara ini. Bahkan para guru di SD itu juga menggiring anak-anak untuk melihat acara ini di sekolah atau di rumah dan juga diberikan tugas untuk mencatan apa saja yang dilihatnya di acara ini. Disamping pengetahuan juga, Acara ini mengundang minat karena sesama pemirsa tv iukut menjawab pertanyaan yang dilontarkan dalam acara kuis ini. (agus.warsono@ymail.com)

Sabtu, 07 Mei 2011

INFO SERTIFIKASI GURU BERSAMA AGUS WARSONO, JAM MENGAJAR BISA MENHAMBAT PENCAIRAN TUNJANGAN

JAM MENGAJAR guru sekolah dasar sejak diberlakukannya kurikulum 2006 (KTSP) jam mengajar guru sekolah dasar wajib berjumlah 36 jam per minggu. Karena itu tata aturan pemberian tunjangan sertifikasi guru juga diberikan bagi guru yang telah llus setifikasi dan aktif mengajar memiliki jam mengajar minimal 24 jam. Namun jam mengajar tidaklah asal tulis di SK Penugasan Guru yang diSK-kan oleh Kepala Sekolah tiap semester atau tiap ahun itu. Kenapa demikian? Mari kita tengok keberadaan sebuah sekolah SD Maju (nama contoh) dengan 8 guru kelas, 2 guru mata pelajaran, dan 2 guru sukwan yang mendapat tugas mengajar muatan lokal serta rombongan belajarnya cuma 6 . Dalam kaca mata ratio kecukupan kerja ini, di SD Maju ini sudah lebih tenaga. Namun kepala Seklah membuat SK Penugasan pada guru kelasnya mencantumkan 24 jam. Ini berarti telah terjadi kekeliruan disengaja dalam kenyataan pelaksanaan guru kelas melaksanakan tugas dihitung jam mengajarnya. Umpamanya seorang guru kelas I SD Maju ini mendapat tunjangan sertifikas, makatak mungkin ia memiliki 24 jam mengajar. sebab di sekolah itu terdapat guru mata pelajaran. Guru Kelas I dan II dalam aturan memiliki maksimal jam kerja mengajar 27-29 jam. jika mata pelajaran PAI, dan Olah raga dan Mulok bahasa Inggrisdan Bahasa daerah diajarkan oleh guru mata pelajaran yang ada di sekolah itu maka jumlah maksimal itu akan dikurangi 2 jam PAIdan 3 jam Olah raga , 2 jam muloh bahasa Inggris dan 2 jam mulok bahasa Daerah sehinga guru kelas satu itu hanya memiliki sisa riil mengajar selama 20 jam. 2o jam mengajar guru kelas I ini tidak mencukupi untuk memenuhi aturan wajib mengajar bagi penerima tunjangan sertifikasi guru. Nah oleh karena itu Kepala SD harus memahami ini ,dan tidak asal menaruh jam mengajar di SK Penugasan guru sebanyak 24 padahal kenyataannya hanya 20 jam. Oleh karena itu sebaiknya oleh giuru kelas I tersebut untukmata pelajaran mulok bahasa Ingris dan Bahasa Daerah diajarkan oleh guru kelas tersebut sehingga ybs. tetap memiliki jam mengajar 24.

Senin, 02 Mei 2011

Kompetensi Guru Tercermin dari Prestasi Siswanya

Sederhana bila mengukur tingkat kompetensi guru dilhat dari Prestasi siswanya. Pernyataan ini cukup mendasar melihat kenyatan yang ada guru kini dengan semakin membaiknya kesejahteraan yang diterima seharusnya meningkat mutu pengajaranya bukan malah "melempem". Pada gilirannya peningkatan mutu pengajaran akan menghasilkan peningkatan prestasi siswa didiknya. Namun kenyataan seperti peningkatan kualifikasi npendidikan guru SD dari Diploma II menjadi S1 malah mutu pengajarannya makin rendah. Hal ionilah yang menjadi penafsiran sementara bahwa siswa yang berprestasi adalah cerminan kompetensi guru. Pendapat ini dikkuatkan dengan biala sebuah sekolah miskin prestasi. Pertanyaannya apakah sebab karena guru atau siswa.