Surabaya (ANTARA News) - Mendikbud Mohammad Nuh meminta Dinas Pendidikan Kota Bogor untuk menarik semua buku paket Bahasa Indonesia yang mengandung unsur porno atau vulgar di SDN Polisi IV dan SDN Gunung Gede di kota setempat dari peredaran.

"Saya sudah instruksikan kepada Dinas Pendidikan Kota Bogor untuk meminta penerbitnya menarik buku itu dari peredaran karena buku di pasaran semacam itu memang tidak ada yang bertanggung jawab," katanya di Surabaya, Sabtu.

Di sela mengecek pengiriman Buku Kurikulum 2013 di SD, SMP, dan SMA Khadijah Wonokromo Surabaya, dia menjelaskan bahwa pihaknya juga meminta Dinas Pendidikan setempat menjatuhkan sanksi kepada penerbit dan sekolah setempat akibat kelalaiannya.

"Saya tidak bisa berbuat apa-apa karena penarikan dari peredaran dan penjatuhan sanksi itu ada di tingkat dinas setempat. Kementerian sudah mencoba mengatasi kasus-kasus serupa terulang pada masa depan dengan sentralisasi Buku Kurikulum 2013," katanya.

Dengan menarik buku paket di tingkat pusat, kata mantan Rektor ITS Surabaya itu, kasus buku dengan materi macam-macam akan dapat dikendalikan.

"Jadi, Buku Kurikulum 2013 itu tidak hanya mengendalikan harga buku, penerbitan, dan peredarannya, tetapi juga mengendalikan materi buku," katanya.

Menurut dia, harga Buku Kurikulum 2013 berkisar Rp7.300 per buku untuk SD atau paling mahal untuk SMA mencapai Rp26.000 per buku, termasuk ongkos kirim, padahal harga di pasaran bisa mencapai Rp32 ribu hingga Rp100 ribu.

"Materi Buku Kurikulum 2013 untuk SD juga dirancang dengan enam aktor yang sama sejak kelas 1 hingga kelas 6, yakni Siti yang pakai kerudung, Edo yang berambut keriting sebagai simbol Papua, Lany yang keturunan China, Udin dari Betawi, dan sebagainya. Bukan hanya si Budi, Bapak Budi, dan Ibu Budi," katanya.

Meski begitu, masyarakat dapat saja mengakses Buku Kurikulum 2013 itu lewat web/laman Kemendikbud (web rumahblajar).

"Masyarakat boleh saja mengunggah dan mencetak buku itu dari web, tetapi materinya dapat dikendalikan oleh Pemerintah sehingga jelas penanggung jawabnya," katanya.

Selain itu, Dinas Pendidikan dan sekolah juga diminta untuk meneliti buku paket yang ada.

"Kalau tidak ada rekomendasi atau sertifikasi dari Badan Perbukuan Nasional hendaknya tidak boleh beredar. Kalau sampai beredar tanpa sertifikasi, ya, ilegal," katanya.

Sebelumnya, orang tua siswa di Kota Bogor diresahkan dengan beredarnya buku paket Bahasa Indonesai untuk siswa kelas VI SD. Buku terbitan CV Graphia Buana, cetakan pertama Maret 2013 itu berjudul "Aku Senang Bahasa Indonesia".

Pada halaman 55--60 buku itu terdapat sebuah kisah berjudul "Anak Gembala dan Induk Serigala". Akan tetapi, pada halaman 57--60 terdapat kalimat-kalimat yang menceritakan tentang kisah pekerja seks di warung remang-remang.
(E011/D007)