Rabu, 15 Juli 2015

Info Kegiatan Sastra: Sanggar Sastra dan Lukis Meronte Jaring Terbitkan Antologi Puisi Ramadhan dalam 4 Hari

Sanggar Sastra dan Lukis Meronte Jaring Indramayu asuhan Rg Bagus warsono di Bulan Suci Ramadhan 1436 Hijriah ini  Terbitkan Antologi Puisi Ramadhan dalam 4 Hari . Kali ini andalah antologi RG Bagus Warsono yang didukung banyak penyair terkenal Indonseia seperti Hasan Bisri BFC,  (Bogor), Aly Arsi, (Banjar Baru), Heru Mugiarso, (Semarang), Osratus , (Papua), Bambang Widyatmoko, (Jakarta), Ayid Suyitno, PS (Bekasi) , Budhi Syetiawan (Bekasi), Riswo Mulyadi, (Cilacap) , Eddy MS Soemanto, (Padang) dan sederet penyair nasional lainnya.
Antologi yang digagas dalan moment Ramadhan ini direkrut dalam 4 hari dari berbagai puisi karya penyair untuk menemani 20 puisi ramadhan karya Rd Bagus warsono. Buku yang akan diberi nama "Surau Kampung Glatik" ini bakal menambah khasanah dunia sastra Indonesia.
Berikut Cuplikan puisi puisi antologi "Surau Kampung Glatik" :

Rg Bagus Warsono

Panjangkan RamadhanMu

Di sebuah lampu merah
silang jalan Waiki
pemuda pemudi membagi makanan kecil
batalkan puasamu di magrib nanti
indah nian dunia di kotaku kecil ini
Di balik bak sampah
jalan pasar Tanjungpura
pengemis tua menghitung receh
semoga besok demikian ini
begitu baik penduduk Indramayu
Di sebuah perumahan
rumah para pejabat negeri
keluar dari komplek itu kaum peminta sedekah
katanya, komplek perumahan dermawan.
Di pertokoan Amad Yani,
Kaleng receh tersedia
tak ada tulisan "pengamen khusus hari jumat"
tak ada lambaian kata maaf menolak
mereka mengulurkan tangan pada pengamen jalanan
Di sebuah rumah
istri marbot masjid RW
setiap hari
makanan, beras, uang ada saja yang memberi suami
katanya panjangkan RamadhanMu !
(rg bagus warsono, 23-6-15)

19.
Budhi Setyawan

Puasaku

puasaku ini adalah puasanya bumi dan langit
menunggu pesan nirmala bagi semesta
puasaku adalah puasanya jasad dan ruh
menahan dari amuk kasat dan tak kasat mata
adalah rindu tanah saat kemarau
pada hujan untuk mendaur kesuburan
adalah rindu tulang dan darah
pada sepoi kesunyian detak silam
: maka biarlah kesabaran menempuh jalannya
bersama ayat ayat yang dirapalkan musim
kepada pepohonan usia yang menggigil
mencatat daun jatuh hingga sujud penghabisan
: maka biarlah kebijakan menuntun pandang
sukma kepada pencetus rindu semula
yang kuasa menghadirkan jalinan ruang
di segala kisi angan dan penyebutan
Jakarta, 2015



Bagus Setyoko Purwo

Surga Ramadhan

: tercipta untuk mereka yang dikehendaki-Nya
sabar menapaki takdir
kita tempuh keridhoan hidup dengan meneruskan ikhtiar
menyusuri lorong-lorong ramadan
terlihat di setapak perjalanan kita
di situlah surga ramadan
:sabar.ridho.tawakkal – mari kita memohon itu

2014


Dian Rusdiana

Kerinduanku

berabad abad tak bersua
bilakah kudapatkan bouraq agar bisa setakat
memandang teduh wajahmu
bercakap dan kupelajari segala kearifan
kekasih, pohon rindu yang kau tanamkan
kian berkembang kesabaran
berdaun ketulusan
berbuah keridhaan
di kesyahduan ayat ayat kasih
kutumpahkan kerinduan
kumaknai pada tiap denyut nadi
di kedalaman sukma kuresapi syair syair kesejatianmu

2014


Bambang Widiatmoko

TERJEPIT DI SURAU

Sebuah surau terpencil di perkebunan karet
Menjepitku dalam kesendirian dan rasa sunyi
Aku mencarimu dalam rasa gelisah tak tentu arah
Dalam pengembaraan pencarian jati diri
Tapi rasa sunyi demikian menyakitkan hati
Seperti batang pohon karet yang ditoreh tubuhnya
Meski berwarna putih dialah puncak dari segala perih

Sebuah surau terpencil di atas bukit
Telah menahanku untuk berdiam diri
Menunggu Idul Fitri esok sisa embun pagi
Dengan segala keasingan dan bahasa tak kupahami
Bahkan suara burung pun terasa mengganggu
Sepanjang usia menemu lebaran dalam ruang dan waktu
Di tangan tuhan aku selalu mengamini – dialah sejatinya rindu.

2015


HERU MUGIARSO

METAMORFOSIS RAMADAN

Episode praramadan:
ulat bergeriap siap menelan
Apa yang tampak di depan
Nafsu aluamah tertumpah
semen dan besi pun siap dimamah
Episode ramadan:
Kepompong bergelantung
Bergeming dari kalkulasi rugi dan untung
khusuk bertapa dalam riuh dunia
disapa cahaya
Episode pascaramadan:
Indahnya ramarama
berparas jelita
kembali ke jati diri
pribadi fitri
Ramadan, 1436H


Ayid Suyitno PS

DI PAGI YANG BASAH

hanya kebaikan terbayang di mata
tak ada kendala melaksanakannya
jika selama ini telah berjalan lancar
tentu kini harus lebih dipersegar
hati dan jiwa terus melangkah
menuju batas rindu kasih Allah
dalam ikhlas dan berserah
dibalut semangat pantang menyerah
di pagi yang basah
aku menghadapMu ya Allah
Ramadhan, 1436 H

Aloeth Pathi

Kelingan: Saur Pertama
Menjelang Subuh


Rindu ini datang tiba-tiba
ketika suara qiro'ah mengalun dari kaset di sebuah masjid
mengingatkan ku pada Suro kecil di kampung
dan dampar tempat mengaji

Rindu ini datang tiba-tiba
Ketika jemariku menyentuh bibir gelas
lekukan piring, sendok
mengingatkan dapur ibu di masa kecilku dulu
dan meja bambu tempat saur bersama

hari ini aku makan sendirian
hanya nasi putih, sambal, tempe goreng
dan segelas air putih

Tuhan
Terima kasih atas nikmat karunia Mu
Serta rasa syukur bertemu Ramadhan


Sekarjalak, 18 Juni 2015


Osratus

TETES-TETES PROTES, SEPUTIH TASBIH

“Lihatlah,
dengan mata hati yang bersih dari fitnah
Dalam butir-butir putih tasbih,
ada bening telaga takwa yang teraih
Perahu Ramadan,
antarkan kita ke surau suci di tengah telaga dengan
segenap iman. Tanpa pamrih,
rembulan malam turut antarkan kita terawih
Sandal dan sepatu baru,
bawa saja kalau kalian mau.
Dijamin tidak hilang, sampai kita pulang
Bila kita punya rencana
pindahkan surau suci itu ke tengah kampung kita,
mudah saja
Asalkan, sudah siapkah kita menjaganya
dengan melaksanakan
ibadah puasa dan
terawih sebulan penuh di Bulan Ramadan?
Selain itu, solat lima waktu meski bagus
sampai batas usia kita mengelus
Kalau tidak sakit, tidak pula keluar kampung,
selalulah solat di surau suci itu dengan mengusung
rasa beruntung sebesar gunung
Jujur yang tumbuh subur dalam diri, jangan lalu lebur
Rasa peduli, tidak boleh mati
Kerukunan, jagalah dengan baik turun temurun
Jangan mau dirangkul tahayul
Itulah syarat-syarat yang perlu diingat
Rasanya aneh ya, ikhwan dan akhwat!
Biasanya menjaga surau dilakukan bila
jam dinding, kipas angin, pengeras suara
terancam keamanannya
Bagiku, tidak aneh
Yang aneh, (sepertinya) yang merasa aneh
Di Bulan Suci, setan dibelenggu
Keamanan, terjaga sepanjang waktu
Di luar Bulan Suci, tergantung pada kita sendiri.
Makanya, surau suci itu mesti
dijaga dengan sepenuh kejujuran yang ada dalam diri,
agar jam dinding, kipas angin, pengeras suara,
tidak pergi ke mana-mana.”
Sorong, 13 Juli 2015


Andrian Eksa

RAMADHAN PENUH AMPUNAN

marhaban ya ramadhan
kusambut kau dengan kesungguhan
hati bersih nan berseri
sebab kau datang menghampiri

kutahu kau adalah cinta
yang tersebar di alam semesta
meski hanya satu bulan
hadirmu itu penuh imbalan

kami hanyalah umat manusia
yang pandai berbuat sia-sia
tapi hadirmu membawa sadar
bulan ramadhan, ampunan-Nya berpendar

Boyolali, Juli 2014


Ayat-Mu di kerlip Malam
-Nuzulu Qur’an

Ada malam denyutku terhenti di pemikiran
Tentang sejarah ribua abad silam, di saat angin hening
Meteor diam, pohon tentram, alam berdamai pada diri sendiri
Tak ada hujan, daun jatuh, seta kebisingan suara langit
Ayat-ayat Tuhan turun ke dada, merasuk ke seluruh sendi kehidupan
Tentang hukum, kenikmatan bahkan ancaman
Berkelana hingga detik ini

Orang-orang melantunkan kitab-Mu Tuhan
Dari Hizaz, Bayati hingga alunan nada yang tak ku mengerti
Dalam terkantuk ku dengar seruanmu
Di kerlip lilin di kelam malam

Ada rindu di suguhi malam
Kepada sang pemilik teguh
Di dalam mesjid megah
Hingga surau hampir roboh
Dari kota yang seolah tak mengenal malam
Sampai jangkrik dan katak bersahutan di ujung dusun
Ayat-Mu ada pada jantung denyut kehidupan

Nuzulul Qur’an
Dalam malam seribu bulan

Didi Kaha

Ramadhan ke-3


di titik ini
aku masih saja merasa sepi
: waktu bagai sebilah pisau tumpul dan berkarat
yang tak mampu juga mengiris dan menyingkirkan
nafsu dan angkara
yang masih kuat melekat
menggelayuti raga dan jiwa
puasaku masih juga hanya menemu
lapar dan dahaga


Mahbub Junaedi

EMBUN DI PADANG MAHSYAR

pagi yang sama, seperti kemarin, matahari masih bangun dari timur
tapi arahku belum pasti, akan kemana memuara
memeluk laut? atau hilang tertelan bumi
sebagaimana alur yang kini terus berpindah
embun, masihkah asyik bergelayut pada daun yang selalu terdengar kumandang dzikir? Selagi belum gugur dan sebongkah nyawa melayang. Kilaumu di musim kemarau sangat kontras dengan kegersangan. Lamat-lamat hilang tertimpa sinar yang menyengat, serupa padang mahsyar menggetar setiap hati yang gentar. kecuali jika amal menjelma segumpal awan menaungi hari-hari yang sangat lama menunggu hisab. Embun, setetespun sangat berarti menyirap dahaga.

ah.. secara perasaan masih pagi,
hembusan angin kering, teringat kerling mimpi semalam
masih dalam setengah sadar dan tidak
digelandang menuju Sirathal Mustaqim
220813


Iin Nuraini

Ramadhan

AYAT 1
Kalender sakral dalam angka :
Sajak kembali suci lewat kata, wajah, warna, juga sampah
Ucap dalam adat kembali bangkitkan ritual sesaat :
“jauhkan anak cucu adam dari sesat”

AYAT 2
Iqro ....
Kami buta aksara Gusti. Jika waktu adalah evolusi mengeja aksara...jangan kirim nabi-nabi di kotak TV

AYAT 3
Manusia-manusia bebal . Sedia karena hadiah. Manusia yang selalu kehilangan. Konyol dalam fiksi asyik. Kelak bakal kiamat. Hingga Tuhan datang dengan hadiah : Ramadhan dengan kemilau bintang-bintang kecil. Lihat mereka, kerlip-kerlip manusia bersujud, pasrah hati. Kelak diberikan padamu yang rindu. Yang tak tergesa-gesa meski bara tak lekas padam

[ Ramadhan_juli 2015 ]



Ali Syamsudin Arsi

SUJUD LUBANG KEMBALI

geriap deru
bulu tangan diam embun
episode demi episode
bermekaran di lingkaran retina mata
sedih menjadi sunyi di sini
sedih menjadi ujung hari
derap demi derap lesap perlahan
senja
sudah terbuka bias warna jingga
halaman catatan
suara-suara dalam rekam perjalanan
bila banyak malam terabaikan
semakin malam semakin malam semakin malam semakin
kembali
/asa, banjarbaru, 12 mei 2015


Hasan Bisri BFC

INGIN KUDEKAP 1000 BULAN

ingin kudekap 100 bulan
tapi selalu saja terlepas
oleh mata pandang gelandangan
yang menyisir tetumpukan sampah
sudah kucoba mengekang kuda nafsu
yang meringkik-aringkik di setiap sudut
jantung waktu
juga ludah kata-kata yang senantiasa mau merucut
dari mulut
dan busung dada yang selalu kuredam
dengan berat godam
maka pada malam yang pekat
aku berharap menjaring bintang-bintang
agar reruntuhan cahayanya meredam
bara hati berkarat
tapi selalu saja luput kutangkap
1000 bulan impian yang diselipkan
pada angka-angka ganjil
di sepuluh malam terakhir
Robbi, kepadaMU aku bisa bangga berkaca
tapi kepada sesama, aku tak berarti apa-apa

Jakarta, 23 Juli 2015


Riswo Mulyadi

MENCARI RAMADLANKU

ramadlanku,
aku mencarimu, sungguh
di mana kau berada?
jika dalam lapar, hausku tak kutemukan
apakah engkau sembunyi di balik sajadah?
tadi malam, aku membolak-balik sajadah
kaki-kakiku melekat sepanjang taraweh
tak kurasakan detak nadimu
lalu di mana kau mukim?
di subuh tadi
kutelisik seluruh ruang sepi hingga ke sisi masjid
mencari denyutmu
belum juga terasa
mungkin, aku mati rasa

atau engkau bersemayam dalam puasaku?
(aku mulai ragu)
apakah aku berpuasa jika seharian menguliti aib saudaraku
apakah laparku ini puasa,
jika seharian aku tertidur memeluk waktu
apakah hausku ini puasa,
jika dari subuh hingga asar tenggorokanku basah oleh gosip-gosip
aku coba sisi lain,
akhir-akhir ini mulai nampak keramaian di jalan-jalan
di pasar dan pertokoan
lalu sesekali pula terdengar suara petasan
apa kau di sana bersama mereka?
aku masih terus mencari
sampai denyutmu terasa di dada nadiku
aku masih saja bertanya
sambil terus memimpikan sorga
atau Idul Fitri, paling tidak

Karanganjog, 27 Ramadlan 1436 H