Tampilkan postingan dengan label Sastra : Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra : Resensi. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 September 2019

Cerpen Rumahku di Tepi Rel Kereta Api karya Rg Bagus Warsono

Cerpen Rumahku Di Tepi Rel Kereta Api Karya Rg Bagus Warsono, adalah cerpen yang mengisahkan seorang anak yang berumah di rel kereta api. Sunarti demikian nama anak itu membayangkan akan keindahan rumah orang lain yang lebih baik yang tak bising dengan suara-suara laju kereta bahkan sering terdengar keras di malam hari. Pada suatu ketika Sunarti berkunjung ke pamannya di Kuningan, sebuah kota yang tak ada jalur rel kereta, justru ia tak kerasan tinggal di rumah itu, bahkan ia tak bisa tidur dan terjaga di malam hari. Akhirnya ia menyadari bahwa rumah sendiri lebih indah meski di tepi rel kereta.
Cerpen ini tlah dimuat di Mingguan pelajar dan sebelumnya cerpen inilah yang mebawanya sebahgai salah satu pemenang lomba menulis cerpen bagi guru pada tahun 1996 yang diselenggarakan oleh Depdikbud.
Pada tahubn 2007 Cerpen dibacakan oleh Nurochman Sudibyo di Pendopo Kabupaten Indramayu dalam acara Final Festval Lomba Seni Siswa Nasional tk Kabupaten dalam lomba baca puisi. Dan dalam temu kecil Sastrawan Nasional di acara Sastra untuk Literasi Sekolah 31 Agustus 2019 cerpen ini dibacakan kembali oleh Oka Tri Hadini.

Kamis, 14 Maret 2019

Novel Indonesia Terkini, Bi Balik Bayang-bayang Kasih Sayang, penulis : Wardjito Soeharso


Baiklah kubuka novelmu Mas Wardjito Soeharso 480 halaman "Dibalik Bayang-bayang Kasih Sayang". Sebetulnya aku tak mau memujimu percuma saja memuji orang yang berbeda haluan. Namun itu berarti aku sentimen dengan keadaan, padahal sastra harus tak memandang apa itu beda haluan apalagi sampai seperti perbedaan pandangan, paham, atau bahkan politik. Kewajibanku sebagai penyair sekaligus kurator buku yang bahkan aku geluti sejak muda maka bagaimana berbuat seyogyanya kurator yang harus diakui independennya . Karena itu 480 halaman bukan barang mudah untuk sempat dibaca, tetapi sebagai orang yang terbiasa membaca puluhan ribu halaman maka santai juga membaca bukumu Mas Wardjito Soeharso yang aku juluki Penyair Priyayi sebagai sosok sastrawan yang bertipe akademik yang slalu berada di jajaran atas Penyair indonesia. dan kali ini aku tak akan menyebutmu seorang novelis, tetapi masih Dibalik Bayang-bayang Kasih sayang sebagai seorang untuk diberi gelar tambahan novelis. Alasan itu karena ini novel pertama kali yang ditulisnya, namun demikian kepiawaian dan keterbiasaannya bersastra sejak muda membuatnya novel ini seperti novelis yang sudah menulis berpuluh-puluh novel. Dibalik-bayang-bayang karya Wardjito Soeharso ini menceritakan sebuah drama dengan dengan aneka tragedi dimasa zaman modern dan perubahannya yang semakin modern yang ditangkap penulisnya sehingga menjadi novel yang sangat berarti tidak saja untuk dibaca masyarakat tetapi juga sebagai novel yang patut mendapat apresiasi tinggi dan dicatat dalam sejarah novel indonesia. Karena itu menurutku sempurnalah seorang Wardjito Soeharso menjadi sastrawan Indonesia. !(Rg Bagus Warsono, 14-03-19 membuka bukumu)

Kamis, 03 November 2016

Siginjai Antologi 43 Penyair Jambi Seperti Siginjai

Akankah antologi puisi Sepecuk Jambi Sejuta Puisi "Siginjai Kata-kata" menjadi pustaka yang melegenda seperti Keris Siginjai?(Keris Siginjai adalah senjata tradisional Jambi yang dikenal milik Raja Rangkayo Hitam, seorang raja Jambi yang gagah berani. Disebut Siginjai karena keris ini dahulu sering disimpan dirambut Rangkayo Hitam sebagai tusuk konde (Ginjai). Sehingga kelamaan keris ini disebut keris siginjai).
Ada kesamaan proses antara antologi itu dengan keris Siginjai yaitu keragaman bahan. Antologi Siginjai Kata-kata merekrut berbagai puisi dari penyair segala umur dari seluruh Jambi. Sebuah kearifan penyelenggara akan penghargaan kepada insan sastra apa pun usianya dan popularitasnya, yang patut menjadi teladan bahwa penyelenggara membuang ego yang biasa terdapat pada diri penyair. Begitu pun keris Siginjai ini terbuat dari bahan-bahan berupa kayu, emas, besi, dan nikel. Bilah/Wilahan Keris Siginjai panjang lebih kurang 39 cm dan berlekuk (luk) 5. keris Siginjai tidak telah menjadi lambang mahkota kesultanan Jambi sebagai lambang pemersatu rakyat Jambi. Sultan terakhir yang memegang benda kerajaan itu adalah Sultan Achmad Zainuddin pada awal abad ke 20.
Asro Al Murthawy Pamenang agaknya tepat mengambil judul ini, sehingga buku puisi ini memiliki kekuatan nama yang melekat dengan tradisi daerahnya. Mudah-mudahan Siginjai dapat berlanjut agar sastra di Jambi terus hidup. Bahkan kekuatan antologi Siginjai seperti juga disebut Dimas Arika Miharja yang mengkata-pengantari antologi ini ada Rendezvous Candi Muara Jambi, sebuah puisi yang memunculkan 'ke-jambian -nya. Puisi yang juga ditulis Arso Asro Al Murthawy Pamenang tersebut memberi makna disamping puisi-puisi 43 penyair Jambi yang lain yang tak kalah hebatnya.(rg Bagus warsono)


Selasa, 26 Mei 2015

Resensi Buku Kumpulan Kritik : Negeri Api Berlangit Puisi. oleh Rg. Bagus Warsono


Meski ini buku terbit 2013 tetapi buku ini sangat bagus mengingat hal yang sangat diharapkan bagi pertumbuhan sastra di negeri ini. Sebab sastra tampa kritik seakan sayur asem yang kurang bumbu. Adalah kumpulan kritik dari Komunitas Sastra Indonesia yang dijaring melalui Sayembara Kritik KSI 2013. Inilah buku hasil itu. Betapa jarang orang membuat kritik sastra bahkan kurang diminati pecinta sastra pemula, sehingga upaya KSI untuk menggairahkan keseimbangan antara karya sastra dan kritik patut mendapat apresiasi yang tinggi.
Buku ini tampak berbobot dikarenakan buah dari seleksi yang justru dilakukan oleh tokoh-tokoh KSI yang sudah cukup punya nama . Dan buku memenuhi kreteria buku yang dapat dijadikan bahan studi dan rujukan karya sastra.
Pengantarnya pun ditulis oleh Ahmadun Yosi Herfanda, sedang beberapa yang terlibat dalam buku ini ada Iwan Gunadi, Hasan Bisri BFC, dan Bambang Widyatmoko, serta para pemenang sayembara itu Ahmad Syauqi Sumbawi , dkk.
Tentu saja Anda tak akan mengatakan apa pun sebelum membaca bukunya, karena itu alangkah lebih baik kita baca sekali lagi dan Anda bisa membuat kritik yang lain untuk perkembangan sastra kita.

Jumat, 08 Mei 2015

Resensi Fahmi Irhamsyah: Resensi Buku Sejarah Kuasa Jepang di Jawa (1942-1945)

Layak dibaca kalangan pendidik dan sejarahwan
Resensi Fahmi Irhamsyah:
Resensi Buku Sejarah Kuasa Jepang di Jawa (1942-1945)
Buku ini merupakan disertasi Aiko Kurasawa dalam memperoleh gelar Ph.D. di Cornell University Amerika Serikat pada tahun 1988. Disertasi Asli Aiko berjumlah 776 halaman dengan judul Mobilization and control : A study of social change in Rural Java (1942-1945). Diterbitkan pertama kali di Jepang pada tahun 1992 dengan Judul Nihon Senryoka no Jawa Noson no hen’yo (Tokyo:Sosisha, 1992) “Transformasi pedesaan di Jawa pada masa Pendudukan Jepang”. Pada penerbitan perdananya di Jepang buku ini memiliki ketebalan 714 halaman.
Menurut Aiko Kurasawa saat penerbitan perdananya buku ini bukanlah tanpa masalah, Aiko menjelaskan bahwa di awal penerbitannya Aiko banyak di cap sebagai komunis oleh pemerintah Jepang –khususnya kelompok birokrat tua- sebab dalam penulisannya Aiko cenderung menggunakan pendekatan Indonesia sentris, bukan Jepang Sentris sehingga ketika menjelaskan tentang pendudukan Jepang di Jawa misalnya, gambaran Jepang sebagai penjajah sangat terlihat. Hal ini menimbulkan ketidak sukaan pemerintah Jepang pada Aiko, sebab bagi Jepang kehadiran mereka ke Jawa justru membantu Indonesia terbebas dari penjajahan Belanda. Mengapa? pemerintah Jepang beralasan mereka berkontribusi dalam mendidik militer dan mengenalkan sistem pertanian modern di Jawa sehingga bangsa Indonesia siap untuk merdeka.
Komunitas Bambu menerbitkan buku ini pada bulan Januari 2015. Tanggal 27 Februari 2015 Komunitas Bambu bekerja sama dengan Freedom Institute mengadakan diskusi dan launching buku ini. Pada kesempatan tersebut buku setebal 611 halaman ini diulas oleh Prof. Aiko Kurasawa sebagai penulis dan Prof. Susanto Zuhdi sebagai reviewer.
Batasan Penelitian
Aiko Kurasawa menceritakan dengan detail mengenai proses transformasi sosial yang terjadi di Jawa pada masa pendudukan Jepang. Batasan Awal penelitiannya adalah 1942 disaat Jepang mulai memasuki wilayah Indonesia sebagai bagian dari proses ekspansi Fasisme Jepang di wilayah Asia Timur Raya. Batasan akhir dari penelitian ini adalah 1945 disaat Jepang terpaksa menyerah tanpa syarat kepada sekutu pasca pengeboman Nagasaki dan Hirosima sehingga berdampak pula pada pengambil alihan kekuasaan di Indonesia oleh para tokoh Proklamasi dan menyebabkan Indonesia merdeka pada tahun 1945.
Profesor bidang Sejarah Sosial Ekonomi ini membagi bukunya kedalam tiga bagian yang saling berkesinambungan satu sama lain dan akan penulis paparkan satu persatu. Dengan membaca bagian-bagian itu secara runut dari pertama hingga akhir, pembaca akan memahami dengan jelas bahwa narasi pendudukan Jepang di Jawa memang bertujuan untuk mengeksploitasi sumber daya alam juga sumber daya manusia –khususnya di Jawa- untuk memenangkan perang di Asia Tenggara.
Bagian Pertama : Dampak Kebijakan Jepang terhadap Desa
Pada bagian ini, nampak sekali bahwa Aiko menggunakan pendekatan struktural, sebab kebijakan-kebijakan yang dilakukan Jepang merupakan jawaban atas fenomena global yang sedang terjadi di dunia pada masa itu ; perang Dunia II. Jepang merespon fenomena tersebut dengan membuat beberapa kebijakan yang dampaknya sangat terasa di berbagai desa di Jawa.
Melipatgandakan hasil
Slogan yang kerap didengung-dengungkan oleh Jepang terkait dengan pertanian adalah melipatgandakan hasil. Program ini dilakukan Jepang karena melihat potensi Jawa yang luar bisa besar dengan tanah pertanian relatif subur serta tenaga kerja intensif yang banyak. Kebijakan melipatgandakan hasil berada dalam doktrin Kinkyu Shokuryo Taisaku ( Tindakan-tindakan mendesak mengenai bahan makanan). Di bawah peraturan ini, program pemerintah dalam meningkatkan produksi makanan dipusatkan pada (a) pengenalan jenis padi baru, (b) inovasi teknik-teknik penanaman, (c) propaganda dan latihan yang ditujukan bagi petani.
Sebelum kedatangan Jepang, pertanian di Jawa umumnya hanya mengenal dua jenis padi yaitu padi cere (padi yang tidak berambut) dan padi bulu (padi berambut). Masyarakat di Jawa umumnya lebuh menyukai padi bulu dikarenakan rasanya lebih enak jika dibandingkan dengan padi cere. Namun bagi pemerintah Jepang, padi bulu dianggap kurang sejalan dengan kepentingannya, sebab padi Bulu tingkat produksinya lebih rendah dari padi cere, dan tingkat ketahanan terhadap musim keringnya lebih rendah.
Menyikapi hal tersebut, Jepang melaukan penelitian intensif di Bogor, Noji Shinkenjo (Stasiun percobaan pertanian). Hasilnya adalah, salah satu jenis padi yang ditawarkan oleh stasiun ini adalah beras horai Taiwan. Padi ini direkomendasikan karena waktu untuk memanennya lebih pendek sehingga kebutuhan produksi beras yang banyak bisa tercukupi dengan baik. Pemerintah Jepang menunjuk beberapa karesidenan seperti Cirebon dan Kedu untuk menanam bibit padi baru ini, dan bibitnya dibagikan secara gratis kepada masyarakat.
Jepang juga memperkenalkan inovasi teknik penanaman padi pada masyarakat pertanian di Jawa. Sebelum kedatangan Jepang, para petani terbiasa menanam dengan acak (tidak menurut garis lurus) hal ini menurut Jepang menjadi salah satu penyebab rendahnya produktivitas pertanian, sehingga Jepang mengenalkan sistem penanaman padi secara garis lurus dengan jarak tanam tertentu di antara bibit-bibit tersebut. Pada masyarakat pertanian hal ini diistilahkan dengan Larikan.
Jarak tanam yang ideal untuk pertanian di Indonesia adalah 20cm, dalam rangka memudahkan pengukurannya, dua orang petani diminta memegang sebuah tali panjang dengan simpul pada setiap 20cm. Kemudian petani lainnya menanam satu demi satu menurut tanda-tanda pada tali tersebut. Kedalaman bibit pun diperintahkan agar tidak lebih dari 2cm, serta jangan membiarkan tanaman terlalu besar ditempat pembibitan sebelum dipindahkan dengan waktu ideal 20 dan 25 hari setelah penebaran bibit.
Pada sektor perkebunan, Jepang juga melarang konsep penanaman tumpang sari. Sebelum kedatangan Jepang masyarakat Jawa biasa menanam lebih dari satu jenis tanaman pada satu wilayah tertentu, dengan tujuan agar jika terjadi cuaca yang tidak diharapkan dan satu jenis tanaman rusak, maka masih ada jenis tanaman lainnya yang dapat diharapkan. Sikap Jepang yang malarang tumpang sari, bahkan tidak segan untuk memerintahkan petani agar mencabut salah satu tanamannya menimbulkan ketidak sukaan masyarakat petani pada Jepang.
Kebencian petani pada Jepang menimbulkan keinginan balas dendam, sehingga menurut Aiko ketika Jepang menyerah sempat terjadi pembunuhan kepada Kucho (kepala desa) dikecamatan Manisrenggo Kabupaten Klaten, ia terbunuh karena sering bertindak keras terhadap petani dalam melarang tumpang sari.
Seluruh rangkaian yang telah penulis ulas di atas pada akhirnya menyebabkan transformasi pertanian. Masyarakat petani semakin memahami tentang berbagai cara meningkatkan produksi pertanian di lahan mereka, namun apakah kegiatan meningkatkan hasil produksi ini berhasil? ternyata tidak!
Hasil produksi pertanian pada masa Jepang ternyata jauh dari hasil yang diharapkan, dengan berbagai upaya yang telah dilakukan ternyata produksi padi justru mengalami penurunan setiap tahunnya selamasa masa pendudukan Jepang. Sebab konsep pertanian yang telah dirancang dengan baik oleh para insinyur pertanian Jepang tidak selalu sejalan dengan kehendak pemerintah Militer serta Iklim dan cuaca selama pendudukan Jepang.
Selama kurun waktu 1944 di wilayah Asia Tenggara curah hujan relatif rendah, hal ini mengakibatkan kondisi pertanian relatif menurun. Namun sejatinya, faktor cuaca bukanlah sebab utama penurunan produksi pertanian. Menurut Aiko terdapat beberapa faktor yang menyebabkan produksi pertanian menurun diantaranya adalah :
1. Kelangsungan Tenaga Kerja
Banyak petani laki-laki yang berbadan sehat pada masa Jepang dimobilisasi untuk pembangunan proyek-proyek pertahanan. Mereka dipekerjakan untuk membangun benteng, lubang perlindungan di pegunungan, menjadi Romusha serta mengikuti latihan semi militer sehingga waktu intensif para petani ini untuk mengatasi pertanian relatif rendah.
2. Kelangkaan sapi
Kelangkaan sapi karena kepentingan militer juga membuat pertanian menjadi kurang efektif. Pada masa pendudukan Jepang, beberapa desa harus menyerahkan dua ekor sapi kepada Jepang, selain itu disebuah desa tiap KK hanya diperkenankan memiliki satu ekor sapi, biaya sewa sapi pun menjadi mahal. Karenanya aktivitas pembajakan tanah tidak berlangsung dengan baik.
3. Hama Tikus dan memburuknya infrastruktur
Faktor hama dan buruknya infrastruktur juga menjadi beberapa alasan yang turut serta menjawab pertanyaan tentang menurunnya produksi pertanian pada masa Jepang.
4. Faktor Komunikasi antara petugas lapangan dengan Pejabat Militer
Dalam pembuatan kebijakan pertanian di Jawa ternyata pandagangan para ahli-ahli pertanian kurang mendapatkan tempat sebab akses komunikasi para insinyur pertanian dengan kolonel di markas besarnya sangat renggang, bahkan seorang insinyur yang diwawancarai oleh Aiko menyatakan bahwa tidak ada komunikasi antara pimpinan militer tertinggi dan pejabat di lapangan.
Kebijakan wajib serah padi yang berlangsung pada masa Jepang juga dibahas pada bagian pertama, Aiko menjelaskan dengan lugas mengenai kerangka kebijakan beras Jepang hingga dampak yang dirasakan oleh banyak petani di Jawa seperti kemiskinan dan berbagai penderitaan lainnya.
Pada bagian ini juga Aiko memaparkan tentang kebijakan tenaga kerja Jepang dalam rangka pembangunan infrasruktur yang akan meningkatkan hasil produksi. Kebijakan tenaga kerja ini yang kelak dikenal dengan istilah Romusha yang bermakna seorang pekerja (mayoritas petani desa) yang melakukan pekerjaan sebagai buruh kasar.
Dalam rangka mengendalikan Massa dan juga ekonomi, Jepang membuat kebijakan Tonarigumi dan Kumiai. Tonarigumi atau rukun tetangga diumumkan pertama kali pada 11 Januari 1944. Bagi Jepang, Tonarigumi merupakan unit terrendah untuk melakukan kontrol dan memobilisasi penduduk (hal. 211).
Kumiai adalah koperasi gaya Jepang, menurut Aiko Kumiai bertindak sebagai unit dasar untuk memanipulasi seluruh struktur perekonomian yang dikendalikan semasa perang. Dengan kebijakan ini, pada agustus 1943 jumlah koperasi di Karesidenan Priangan (Jawa barat, pen.) meningkat dari 311 menjadi 390 dan terus meningkat hingga akhir 1944.
Bagian kedua : Usaha propaganda dan mobilisasi penduduk
Pada bagian ini Aiko banyak mengulas tentang berbagai media dan teknik propaganda Jepang untuk melancarkan misinya di Indonesia. Pada bagian ini Aiko menggunakan pendekatan Strukturis dengan memadankan Stuktural dan Individual. Struktur berupa kebijakan propaganda, dan Individual (Agen) berupa mobilisasi dan Indoktrinasi terhadap para ulama di Indonesia melalui program Latihan Alim Ulama yang diselenggarakan oleh pemerintahan militer Jepang.
Ada satu hal yang perlu kita pelajari tentang cara pandang Jepang terhadap Islam. Sejatinya upaya Jepang mempelajari Islam sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum pendudukan pada 1942, hal ini disebabkan oleh Jumlah warga Jepang yang beragama Islam sangat minim sehingga pengetahuan Jepang mengenai Islam pun tidak banyak.
Minat pemerintah Jepang untuk mempelajari Islam menurut Aiko telah berlangsung sejak 1930-an, ditandai dengan pengiriman pertama rombongan mahasiswa Jepang yang akan belajar ke Mesir dan Arab pada tahun 1935, serta pembangunan Masjid di Kobe dan Tokyo pada 1938. Bahkan di Tahun yang sama diselenggarakan sebuah Konferensi Islam sedunia di Tokyo.
Ketika memasuki Indonesia, maka modal pengetahuan Jepang tentang Islam sedikit bermanfaat bagi mereka, itulah sebabnya Jepang menaruh perhatian khusus dan juga “ketakutan” pada kekuatan Islam di Indonesia. Sejarah panjang perjuangan Islam melawan kolonialisme sejak Portugis hingga Belanda agaknya menjadi bahan inspirasi Jepang dalam membuat propaganda dan meminimalisir potensi perlawanan yang akan dilakukan oleh para ulama di Indonesia.
Ketakutan terhadap Islam juga nampak dari Dokumen Senryochi Gunsei Fisshi Yoko “Prinsip-prinsip mengenai pemerintahan militer di Wilayah Pendudukan” yang dikeluarkan pada 14 Maret 1942. Adapun salah satu point yang disampaikan adalah :
Agama-agama, sebagaimana kebiasaan yang ada dan berlaku, harus dihormati sejauh mungkin untuk menjaga kestabilan pikiran rakyat dan membuat mereka mau bekerja sama. Mengenai kaum muslim, harus diberikan perhatian khusus untuk memanfaatkan mereka dalam rangka mencengkram pikiran rakyat.
Bagaimana Jepang mengeliminir potensi perlawanan Muslim di Indonesia? pertanyaan ini cukup terjawab dari berbagai dokumen yang ditemukan oleh Aiko dalam bukunya. Selama masa masa pendudukan, Jepang melakukan 17 kali kursus Latihan Alim Ulama. Dalam kurun waktu tersebut sebanyak 1021 ulama telah menjadi alumni kursus yang diselenggarakan selama sebulan. data menunjukkan Jumlah terbesar adalah Karesidenan Cirebon sebanyak 80 peserta, sedangkan Karesidenan Surakarta menempati jumlah terkecil yaitu 36 peserta.
Tujuan akhir yang diharapkan Jepang usai mengikuti kursus ini adalah para ulama yang umumnya menjadi simpul masyarakat akar rumput menjadi agen-agen propaganda Jepang dan menyuarakan prinsip-prinsip kooperatif terhadap Jepang. Aiko juga menggambarkan mengenai struktur kurikulum kursus yang diberikan dan cenderung mengarahkan pada upaya memanfaatkan Indonesia sebagai bagian dari pendukung Jepang dalam perang dunia II.
Usai mengikuti kursus peserta mendapatkan semacam ijazah yang kemudian justru memiliki dua dimensi. Pertama, dimensi psikologis sebagai bukti telah mengikuti pelatihan Jepang dan membuat gambaran di masyarakat “seakan-akan” Kyai yang telah mengikuti kursus tersebut adalah orang-orang yang kooperatif dan mau bekerja sama dengan Jepang. dan kedua, Dimensi sosial yang justru sangat bermanfaat bagi para ulama yang anti dengan Jepang. Disaat ada dinas pemerintah setempat yang berusaha mencampuri rapat-rapat serta ceramah keagamaannya, Ijazah tersebut berguna sebagai bukti legal formal bahwa yang bersangkutan diperkenankan untuk bergerak dengan leluasa karena telah diizinkan Jepang.
Bagian Ketiga : Masyarakat Desa Terguncang
Pada bagian akhir ini, Aiko Kurasawa mulai menjelaskan tentang titik balik dari pendudukan Jepang di Jawa. Jika pada bagian pertama kita dapat melihat proses penetrasi dan adaptasi Jepang dengan karakter Indonesia dan pada bagian kedua kita dapat melihat kebijakan-kebijakan Jepang untuk “menjaga” Jawa tetap kondusif, maka pada bagian akhir ini pembaca akan mulai melihat gerakan-gerakan yang mengarah pada upaya pengusiran Jepang dari Indonesia.
Skema pergerakan hingga akhirnya berujung pemberontakan diawali dengan Transformasi yang terjadi pada pangreh praja. Pangreh Praja yang secara harfiah berarti penguasa kerajaan pada masa Belanda di jaga dengan baik, sebab Pangreh Praja berada pada persimpangan antara kekuasaan Kolonial Belanda dengan kekuasaan tradisional.
Pangreh Praja di akar rumput pada masa Belanda adalah orang-orang dari golongan Priyai yang dapat dimanfaatkan sebagai kepanjangan tangan kolonial Belanda. Dengan demikian terjadi suatu koalisi kekuasaan yang unik, yakni Pangreh Praja sebagai penguasa tradisional langsung Masyarakat dan Belanda sebagai penguasa tidak langsung masyarakat. Meskipun demikian, tetap terjadi perbedaan gaji antara penguasa Belanda dengan pribumi pada level yang sama, sebagaimana dipaparkan Aiko sebagai berikut :
Pribumi
Eropa
Regent/Bupati F. 12.000
Asisten Resident F.7.200
Wedana F. 2.500
Controleur F. 3.600-4.800
Asisten Wedana 780-1.200
Aspirant Controleur F. 2.700
Pangreh Praja pada Masa Jepang
Pangreh Praja pada masa Jepang mulai mengalami transformasi. Karena di masa ini Jepang seringkali mengambil posisi bertentangan dengan Pangreh praja, bagi Jepang Pangreh Praja tak ubahnya dengan “antek-antek barat” yang telah sangat terpengaruh oleh kebudayaan barat dalam cara berfikirnya, pola tingkah laku maupun gaya hidupnya sehingga tampak terlihat sebagai orang-orang yang pro Belanda dan sangat feodal.
Melihat fenomena ini, Jepang cenderung mengambil peluang bekerja sama dengan kelompok yang dianggap lebih kooperatif dan terasingkan pada masa Belanda. Diantara kelompok-kelompok tersebut adalah golongan nasionalis dan Islam. kebijakan ini menimbulkan dua dampak sekaligus, yaitu terbukanya peluang bagi golongan Nasionalis dan Islam serta diwaktu yang bersamaan turunlah pula status Pangreh Praja.
Turunnya status pangreh praja harus dimaknai dengan turunnya salah satu dari dua status yang selama masa kolonial Belanda melekat pada mereka. dua status tersebut adalah status “Raja kecil” atau simpul-simpul masyarakat tradisional yang memiliki kedudukan tinggi di masyarakat, serta status “Pegawai negeri” yakni, pembantu pekerjaan pemerintahan kolonial.
Pangreh Praja pada masa Jepang hanya memiliki satu status saja, yakni pegawai negeri. Ststus raja kecil dihilangkan, pola pemilihan pangreh praja pun tidak lagi berdasarkan aspek keturunan priyai atau non-priyai, melainkan kompetensi yang dimiliki. Hal ini tentu sangat membantu Jepang, sebab disaat kapasitas dan kompetensi pangreh praja di masa Jepang ditingkatkan, disaat itu pangreh praja yang dimiliki Jepang adalah pangreh praja yang cakap dalam bekerja.
Staf administrasi berkebangsaan Belanda pada masa Belanda jauh lebih banyak daripada golongan pribumi. Sebaliknya, di masa Jepang staf pribumi jauh lebih banyak, terlebih lagi disuasana perang dunia II yang mengalami pasang surut dan seringkali jalur laut bermasalah, dengan kondisi yang buruk, komunikasi antara Jepang dengan jawa pun memburuk sehingga pemerintah Jepang pada saat itu sangat bergantung kepada para pegawai negeri di Indonesia.
Seiring berjalannya waktu, peran-peran kunci yang pada awalnya diberikan kepada golongan nasionalis dan Islam mengalami banyak hambatan ketika akan masuk ke akar rumput. Propaganda-propaganda yang “dititipkan” Jepang kepada dua kelompok ini terhambat ketika masuk ke wilayah akar rumput. Misalnya, ketika Jepang melakukan perekrutan Romusha di kalangan petani-petani Jawa.
Pada tahap awal indoktrinasi peran golongan nasionalis dan Islam dianggap cukup efektif, namun ketika masuk pada tahapan mobilisasi golongan nasionalis dan Islam dianggap tidak mampu melakukannya. Hal ini menggambarkan bahwa ada suatu batas antara dunia golongan nasionalis dan para petani, Bahkan Aiko menyatakan bahwa pernah ia bertanya pada beberapa kelompok petani desa apakah mereka pernah mendengar nama Sukarno sebelum proklamasi kemerdekaan? hampir seluruh penduduk desa menyatakan belum pernah mendengar nama Sukarno.
Melihat fenomena ini Jepang meningkatkan peran para Pangreh Praja, dalam hal perekrutan Romusha misalnya peran pangreh Praja diarahkan terutama untuk menangani pendaftaran dan pengangkutan mereka. demikian juga seterusnya, dalam proses pembentukan Keibodan dan seinenden serta organisasi semi militer lainnya peran pangreh Praja cukup bisa diandalkan oleh pemerintah Jepang.
Sebagaimana telah penulis paparkan pada bagian sebelumnya, Pangreh praja dimasa Jepang mengalami pengurangan makna, sebab mereka dijadikan sebatas pegawai negeri oleh Jepang. apakah kemudian para pangreh Praja ini menuruti kehendak Jepang? nyatanya tidak selalu, hal ini disebabkan oleh dilema yang dihadapi banyak pangreh praja.
Derajat Pangreh Praja
“Pangkate Ratu, Cangkeme Asu” –Berpangkat Raja, bermulut Anjing- Kalimat yang kasar ini kerap muncul sebagai hujatan dari kalangan petani kepada pangreh praja. Mengapa demikian? Pangreh Praja di masa Jepang “dipaksa” untuk menghilangkan sifat feodal mereka. Kehidupan yang mewah, mobil yang layak, perhiasan yang melekat di lengan mereka dihilangkan dengan berbagai aturan Jepang terhadap pangreh Praja. Bahkan dalam beberapa situasi Pangreh Praja harus melakukan urusan-urusan teknis seperti terjun ke sawah, mengumpulkan padi hasil pertanian dari lumbung-lumbung pertanian.
Mobil yang dimiliki oleh pangreh praja juga harus diserahkan kepada Jepang, hal ini membuat status pangreh Praja di mata masyarakat terus menurun disaat kebencian masyarakat terhadap pangreh praja meningkat. Kondisi harus mematuhi Jepang dan diturunkan statusnya menurut Aiko mengakibatkan kinerja Pangreh Praja kian menurun hingga akhirnya terjadi krisis kepemimpinan di berbagai desa di Indonesia.
Krisis kepemimpinan ini dengan sendirinya membuka celah kemunculan pemimpin-pemimpin alternatif yang mampu memobilisasi massa dan menanamkan kebencian kepada Jepang. pada kondisi seperti inilah kemudian figur-figur ulama dan kyai di banyak pesantren menguat sehingga banyak diantara mereka yang pada akhir masa perang menjadi motor-motor penggerak pemberontakan kepada Jepang hingga akhirnya Jepang meninggalkan Indonesia.

Rabu, 19 November 2014

Resensi Memo yang menghentak, merontak, memuja, menyanjung, lalu menghujat dan marah!

Resensi
Memo yang menghentak, merontak, memuja, menyanjung, lalu menghujat dan marah!
Barangkali Anda ingin tahu perkembangan sastra dewasa ini Antologi Memo untuk Presiden adalah jawabannya. Kita bisa melihat corak puisi nuntakhir dari buku setebal 476 Halaman ini. Tentu saja beraneka pola. Namun demikian warna gaya penyair kita telah berubah sejak sebelum reformasi negeri ini. Mungkin pula gambaran reformasi gaya penyair Indonesia. Kalian bisa menilai puisi-puisi dari 196 penyair indonesia. Dari yang sudah ubanan hingga yang bau kencur namun telah menjadi resep sambal dari rasa penyair-penyair Indonesia. Memo bukanlah memo biasa namun suguhan yang enak dibaca bolak-balik. Terserah mana karya dan pujangga yang Anda pilih , 196 Penyair negeri. Jika memo ini sampai Istana kenapa kita tidak turut serta membaca. Agaknya Sosiawan Leak dan Rini Tri Puspohardini sang editor buku ini tidak membuat alur isi dari masing-masing karya penyair yang begitu banyak ini, sengaja susunannya dengan menggunakan abjad depan nama penyairnya. Jadilah lembar lembar itu kadang menghentak, merontak, memuja, menyanjung, lalu menghujat dan marah!. Wah Anda pasti ketinggalan jika tak baca buku ini.
Judul : Memo untuk Presiden (Antologi Puisi)
Penulis: 196 Penyair Indonesia
Kurator : Leak Sosiawan
Penerbit : Forum sastra Surakarta
Cetakan 1 : Oktober 2014
ISBN : 978-602-777-802-3

( RgBagus Warsono 18-11-2014)

Minggu, 21 September 2014

Pengkajian Kritik Sastra Indonesia (On literary criticism in Indonesia) karya Yudiono K.S.

Resensiku
Pengkajian Kritik Sastra Indonesia oleh Yudiono K.S. ini sebuah buku yang penting dalam sastra Indonesia dewasa ini. Sastra diperlukan kritik sebab kritik sempurna sebiuah karya sastra. Namun malas juga orang membuat kritik terhadap sebuah sastra padahal kritik dapat dibuat dengan berbagai jenis tulisan seperti dipaparkan dalam buku ini. Boleh jadi kita menemukan sebuah tulisan adalah sebuah kritik sastra, tetapi bagaimana kita bisa mengatakannya tanpa membaca buku ini. Yudiono K.S. memang jempolan dalam menuturkan karyanya. Pembaca akhirnya tahu pentingnya sebuah kritik sastra. Ternyata kita juga bisa membuat kritik sastra seperti dicontohkan dalam buku ini. Pengkajian Kritik Sastra Indonesia (On literary criticism in Indonesia) karya Yudiono K.S. ini sangat penting dimiliki oleh pelajar, mahasiswa, guru dan dosen sastra juga semua yang ingin mempelajari sastra Indonesia. (21-09-2014 Rg Bagus warsono)  

Jumat, 19 September 2014

Eka Budianta Mekar di Bumi oleh Arswendo Atmowiloto

Resensiku
Membaca perjalanan seseorang tokoh teladan seakan tidak ada habis-habisnya. Kali ini Arswendo Atmowiloto memaparkan sosok Eka Budianta, seorang penulis jempolan Indonesia dari berbagai sudut pandang termasuk memberi ulasan beberapa tulisan Eka Budianta. Seorang pribadi yang patut mendapat apresiasi dikalangan generasi muda yang begitu pantas menjadi panutan teladan. Seorang pemimpin keluarga yang membawa keluarga menjadi religius namun berpendidikan dan juga berhasil membinanya. Mekar di Bumi, demikian Arswendo memeberi judul , buku tebal penuh inspirasi bagi pembacanya, tidak saja kita mengidolakan sosok Eka Budianta tetapi juga penuh dengan wawasan yang dapat dipetik dari buku ini. Tak salah jikia Arswendo menyebutnya mekar di bumi ini. Ulasan dan artikel yang menarik dalam buku ini menjadikan kita lebih mengenal lebih dekatsiapa Eka Budianta. (Rg Bagus Wartsono, 19-9-2014)

Arswendo Atmowiloto
Pustaka Alvabet, 2006 - 406 halaman

Kamis, 18 September 2014

Menggebrak Dunia Mengarang


Resensiku
Buku kecil ini banyak dicari terutama bagi calon penulis yang akan mulai meniti kariernya di dunia menulis. Sebuah panduan yang sangat apik untuk membuka cakrawala dunia tulis menulis. Penulis mula akan merasa optimis jika membaca buku ini. Orang tentu tidak menyangka begitu banyak lahan dunia tulis debagai profesi, setelah membaca buki ini, pastilah akan memahami bahwa dunia tulis menulis pun tak kalah dengan lahan untuk mendapatkan rezeki. Eka Budianta menulisnya di tahu 1992 diberi judul Menggebrak Dunia Mengarang (Creative writing of Indonesian novel, short story, etc) untuk Anda yang menekuni tulis-menulis tetapi juga sangat baik untuk pegangan instruktur pelatihan menulis. (17-09-2014, Rg Bagus Warsono)  

Senyum untuk Calon Penulis

Resensiku
“Eka Budianta orangnya baik, ajakannya mendidik, penuturannya menarik, dengan gaya berbisik. Lebih dari itu caranya menyemangati benar-benar mengusik. Ini buku yang baik”, demikian Arswendo Atmowiloto (budayawan) mengomentari buku ini. Apa yang dikatakan Arswendo memang benar adanya. 'Senyum untuk calon penulis' adalah senyum optimis pembacanya. Bagaimana tidak, dalam waktu cepat pembaca akan mantap penuh optimis menatap dunia penulis. Berisi ulasan artikel yang menarik serta membuka cakrawala penulis pemula. Ingin rasanya membaca berualang-ulang buku ini. Buku wawasan dunia penulisan untuk semua kalangan tidak hanya calon penulis. Senyum untuk Calon Penulis (Author's experience on social issues which can influence writers in building their writing capacity) Anda akan menjadi penuh harapan bila terjun di dunia menulis. Tak salah Jika Arswendo Atmowiloto memuji Eka Budianta penulis buku ini, memang buku ini disampaikan dengan gaya bahasa yang menarik namun tak terasa mendidik kita. (18-09-2013 Rg Bagus warsono) 

Rabu, 17 September 2014

Leksikon Susastra Indonesia

Resensiku -
Leksikon Susastra Indonesia , oleh Korrie Layun Rampan 2000, buku ini sangat membantu inventarisir sastrawan Indonesia masa kini. Korrie memasukan data sastrawan sengaja dengan pertimbangan karya bukan usia. Ini berarti usia bukan menjadi hal apa yang disebut dngan 'angkatan sastrawan itu. Buku dengan tebal 576 halaman sangat bermanfaat bagi generasi muda saat ini. Namun demikian patokan untuk nama sastrawan yang dimasukan belum terjelaskan apakah itu karya sastra media cetak atau akun sosial. Begitu pula media cetak apakah termuat di buku atau haya di koran-koran dan majalah . Sedang patokan koran juga apakah koran sastra atau umum, begitu juga derajat edar media apakah regional atau tidak. Agaknya Korrie memandang pada mutu seebuah sastra, jadi mutulah yang dijadikan seeorang sastrawan masuk dalam inventarisastrawan indonesia apapun angkatan dan dokumentasinya. Sungguhpun demikian buku ini menjadi rujukan yang sangat berarti dan patut dimiliki oleh kalangan pendidik dan pecinta sastra Tanah Air.(Rg Bagus warsono)
Korrie Layun Rampan
PT Balai Pustaka, 2000 - 576 halaman

Pengantar Sejarah Sastra Indonesia


Resensiku -
Pengantar Sejarah Sastra Indonesia, sebuah buku yang sangat bermanfaat untuk memahami perkembangan sastra di Indonesia tetapi juga sangat bermanfaat bagi pendidikan sastra bagi generasi muda. Isi yang padat dan mutu yang terjamin dikarenakan reverensi yang diterima pembaca menjadikan buku ini dapat menjadi buku pegangan guru di semua jenjang bahkan dosen di fakultas sastra. Disamkping itu para penulis di Tanah Air juga dapat mempergunakan buku ini sebagai acuan untuk karya mendatang. Adalah Yudiono K.S. penulis buku ini. Sangat jarang penulis Indonesia menelaah sejarah sastra . Kedudukan penulis yang independen menjadikan isi begitu sempurna sehingga membedakan pelaku sastra dan karya yang disorotinya. Sebagai seorang guru tentu memerlukan bukuini sebagai pegangan. Buku Pengantar Sejarah Sastra Indonesia ( History of Indonesian literature of the 20th century) seakan memiliki buku dalam satu rak lemari sastra. Cukp tebal namun enak dibaca. (16-9-2014 oleh Rg Bagus Warsono)
Yudiono K. S.
Grasindo, 2010 - 366 halaman