Ubi jalar/ bodin/ ubi kayu/ ketela panjang/ boled , dikupas direbus spt biasa. Setelah matang ambil urat daging / akar daging ubi tsb., kemudian masukan di lumpang atau di gelar di atas karung plastik, tumbuk dengan alu atau uleg uleg yg besar. terus sampai halus. tumbum lagi dengan diberi bumbu bawang putih dan ketumbar dan garam tumbuk lagi sampai halus. ambil botol dan keramik ukuran 40x40 cm di atas meja . luluri keramik dengan minyak kelapa agar ubi tidak kraket. kemudian ambil ubu dan giling dng botol. untuk cetakan bundarnya silahkan ambil yg di suka apakah lingkar mangkok, tatakan atau tutup rantang. taruh cetakan di atas ubi yg telah digiling tipis. iris dengan pisau . ambil ubi tipis ug sudah diiris bundar itu di atas tampah. jemur setelah memenuhi tampah. Setelah kering jadilah opak ubi yg dapat di simpan beberapa lama.
Sajian nasional informasi ilmu pengetahuan dan teknologi ,informasi umum, informasi pendidikan dan budaya.
Laman
- REDAKSI
- Berita Hari Ini
- Daftar Propinsi di Indonesia
- Daftar Negara-negara di Dunia
- Sastrawan Indonesia
- Daftar Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia
- Kumpulan Syair Lagu Keroncong
- Perguruan Tinggi Islam Negeri di Indonesia
- Perguruan Tinggi Kedinasan di bawah Kementerian
- Daftar Penerima Nobel
- Daftar Gunung di Indonsia
- Daftar Juara All England
- Daftar Juara Thomas Cup
- Daftar Presiden Amerika Serikat
- Daftar Lagu Nasional
- Daftar Sastrawan
- Penyair Tadarus Puisi
Selasa, 12 Mei 2020
Membuat Opak dari Ketela Pohon
Ubi jalar/ bodin/ ubi kayu/ ketela panjang/ boled , dikupas direbus spt biasa. Setelah matang ambil urat daging / akar daging ubi tsb., kemudian masukan di lumpang atau di gelar di atas karung plastik, tumbuk dengan alu atau uleg uleg yg besar. terus sampai halus. tumbum lagi dengan diberi bumbu bawang putih dan ketumbar dan garam tumbuk lagi sampai halus. ambil botol dan keramik ukuran 40x40 cm di atas meja . luluri keramik dengan minyak kelapa agar ubi tidak kraket. kemudian ambil ubu dan giling dng botol. untuk cetakan bundarnya silahkan ambil yg di suka apakah lingkar mangkok, tatakan atau tutup rantang. taruh cetakan di atas ubi yg telah digiling tipis. iris dengan pisau . ambil ubi tipis ug sudah diiris bundar itu di atas tampah. jemur setelah memenuhi tampah. Setelah kering jadilah opak ubi yg dapat di simpan beberapa lama.
Selamat dan Sukses atas Lahirnya antologi Corona
Penyair :
1.A.Zainuddin Kr, (Pekalongan)
2.Abidi Al-Ba'arifi Al-Farlaqi (Aceh)
3.Ade Sri Hayati, (Indramayu)
4.Aditya Mahdi F, (Depok)
5.Agus Mursalin, (Kebumen)
6.Agus Pramono, (Mojokerto)
7.Agus Sighro Budiono, (Bojonegoro)
8.Agustav Triono, (Purbalingga)
9.Andi Jamaluddin, AR. AK., (Tanah Bumbu)
10.Anisah, (Magelang)
11.Anisah Effendi, (Indramayu)
12.Arif Abdil Bar, (Probolinggo)
13.Arya Setra, (Jakarta)
14.Asep Muhlis , (Serang)
15.Asih Minanti Rahayu, (Jakarta)
16. Asril Arifin(Indramayu)
17.Asro al Murthawy, (Marangin)
18.Azti Kintamani K , (Bandung)
19.Azizah Rifada Muhallima, (Kudus)
20.Bambang Eka Prasetya (Magelang)
21.Beti Novianti, (Bengkulu)
22.Buana KS, (Bungo)
23.Brigita Neny Anggraeni, (Blora)
24.Caridah Hartati, (NN)
25.Dhea Lingkar , (Surabaya)
26.Diah Natalia, (Jakarta)
27.Dian Rusdi, (Bandung)
28.Dwi Wahyu Candra Dewi, (Blora)
29.Dyah Setyawati, (Tegal)
30.Eksan Su, (Malang)
31.Eli Laraswati, (Jakarta)
32.Emby Bharezhy Boleng Metha, (Flores Timur)
33.Eri Syofratmin, (Bungo)
34.Evita Erasari, (Semarang)
35.Firman Wally, (Ambon)
36.Gampang Prawoto, (Bojonegoro)
37.Gilang Teguh Pambudi. (Jakarta)
38.Giyanto Subagio, (Jakarta)
39.Hermawan , (Padang)
40.Hasani Hamzah (Sumenep)
41.Herisanto Boaz, (Bandung)
42.Heru Patria, Pageblug, (Blitar)
43.Heru Mugiarso, (Semarang)
44.Harkoni Madura (Banyuates)
45.I Made Suantha, (Denpasar)
46.Iie Alie (Yusriani), (Jogyakarta)
47.Indri Yuswandari, (Kendal)
48.Irna Ernawati, (Bogor(
49.Is Mugiyarti, (Sragen)
50.Junaidi, (Pati)
51.Kurliyadi, (Cirebon)
52.Kurnia Kaha, (Jakarta)
53M. Johansyah (Tanah Bambu)
54.M.Muchdlorul Faroh, (Pati)
55.Marlin Dinamikanto , (Depok)
56.Meinar Safari Yani, (Klaten)
57.Mohammad Mukarom, (Wonosobo)
58.Mim A Mursyid, (Madura)
59.Muhammad Jayadi , (Balangan)
60.Muhammad Lefand , (Jember)
61.Muhammad Tauhed Supratman, (Pamekasan)
62.Maya Ofifa Kristianti , (Semarang)
63.Nanang R Supriyatin, (Jakarta)
64.Naning Scheid , (Brussel)
65.Nok Ir, (Jakarta)
66.Nuraedah, (Indramayu)
67.Nurinawati Kurnianingsih(Cilacap)
68.Omni Koesnadi (Jakarta)
69.Profijesarino Ubud DH. (Bandung)
70.Pensil Kajoe , (Banyumas)
71.Rg Bagus Warsono, (Indramayu)
72.Rosmita, (Muaro Jambi)
73.Rayako Dekar King, SY, (Aceh)
74.Ryan Aria Arizona, (Pekalongan)
75.Roymon Lemosol, (Ambon)
76.Rut Retno Astuti, (Bandung)
77.Raden Rita Maimunah, (Padang)
78.Sahaya Santayana, (Tasikmalaya)
79.Salimi Ahmad, (Jakarta)
80.Salman Yoga S, (Aceh)
81.Sami’an Adib, (Jember)
82.Sanur Keziandari, (Bandung)
83.Sarwo Darmono, (Lumajang)
84.Silivester Kiik, (Atambua)
85.Siswo Nurwahyudi , (Bojonegoro)
86.Soei Rusli, (Padang)
87.Supianoor , (Kusan Hulu)
88.Sutarso, (Sorong)
89.Sutarno Sk, (Jakarta)
90.Sukma Putra Permana, (Bantul)
91.Sulistyo , (Jakarta)
92.Sugeng Joko Utomo , (Tasikmalaya)
93.Sujudi Akbar Pamungkas, (Tuban)
94.Sudarmono , (Bekasi)
95. Sumrohadi , (Jakarta)
96.Supriyadi Bro (Surabaya)
97.Suyitno Ethexs, (Mojokerto)
98.Syafaruddin Marpaung, (Tanjungbalai)
99.Syahriannur Khaidir, (Sampang)
100.Syamsul Bahri, (Subang)
101.Teguh Ari Prianto, (Bandung)
102.Tjaha Kum, (Hoelea)
103.Uswatun Khasanah, (Gresik)
104.Wadie Maharief, (Jogjakarta)
105.Wanto Tirta, (Banyumas)
106.Wastirah, (Indramayu)
107.Wardjito Soeharso, (Semarang)
108.Wyaz Ibn Sinentang, (Pontianak)
109.Yoe Irawan, (Sukabumi)
110.Yublina Fay ,(NN)
111.Zaeni Boli, (Flores)
1.A.Zainuddin Kr, (Pekalongan)
2.Abidi Al-Ba'arifi Al-Farlaqi (Aceh)
3.Ade Sri Hayati, (Indramayu)
4.Aditya Mahdi F, (Depok)
5.Agus Mursalin, (Kebumen)
6.Agus Pramono, (Mojokerto)
7.Agus Sighro Budiono, (Bojonegoro)
8.Agustav Triono, (Purbalingga)
9.Andi Jamaluddin, AR. AK., (Tanah Bumbu)
10.Anisah, (Magelang)
11.Anisah Effendi, (Indramayu)
12.Arif Abdil Bar, (Probolinggo)
13.Arya Setra, (Jakarta)
14.Asep Muhlis , (Serang)
15.Asih Minanti Rahayu, (Jakarta)
16. Asril Arifin(Indramayu)
17.Asro al Murthawy, (Marangin)
18.Azti Kintamani K , (Bandung)
19.Azizah Rifada Muhallima, (Kudus)
20.Bambang Eka Prasetya (Magelang)
21.Beti Novianti, (Bengkulu)
22.Buana KS, (Bungo)
23.Brigita Neny Anggraeni, (Blora)
24.Caridah Hartati, (NN)
25.Dhea Lingkar , (Surabaya)
26.Diah Natalia, (Jakarta)
27.Dian Rusdi, (Bandung)
28.Dwi Wahyu Candra Dewi, (Blora)
29.Dyah Setyawati, (Tegal)
30.Eksan Su, (Malang)
31.Eli Laraswati, (Jakarta)
32.Emby Bharezhy Boleng Metha, (Flores Timur)
33.Eri Syofratmin, (Bungo)
34.Evita Erasari, (Semarang)
35.Firman Wally, (Ambon)
36.Gampang Prawoto, (Bojonegoro)
37.Gilang Teguh Pambudi. (Jakarta)
38.Giyanto Subagio, (Jakarta)
39.Hermawan , (Padang)
40.Hasani Hamzah (Sumenep)
41.Herisanto Boaz, (Bandung)
42.Heru Patria, Pageblug, (Blitar)
43.Heru Mugiarso, (Semarang)
44.Harkoni Madura (Banyuates)
45.I Made Suantha, (Denpasar)
46.Iie Alie (Yusriani), (Jogyakarta)
47.Indri Yuswandari, (Kendal)
48.Irna Ernawati, (Bogor(
49.Is Mugiyarti, (Sragen)
50.Junaidi, (Pati)
51.Kurliyadi, (Cirebon)
52.Kurnia Kaha, (Jakarta)
53M. Johansyah (Tanah Bambu)
54.M.Muchdlorul Faroh, (Pati)
55.Marlin Dinamikanto , (Depok)
56.Meinar Safari Yani, (Klaten)
57.Mohammad Mukarom, (Wonosobo)
58.Mim A Mursyid, (Madura)
59.Muhammad Jayadi , (Balangan)
60.Muhammad Lefand , (Jember)
61.Muhammad Tauhed Supratman, (Pamekasan)
62.Maya Ofifa Kristianti , (Semarang)
63.Nanang R Supriyatin, (Jakarta)
64.Naning Scheid , (Brussel)
65.Nok Ir, (Jakarta)
66.Nuraedah, (Indramayu)
67.Nurinawati Kurnianingsih(Cilacap)
68.Omni Koesnadi (Jakarta)
69.Profijesarino Ubud DH. (Bandung)
70.Pensil Kajoe , (Banyumas)
71.Rg Bagus Warsono, (Indramayu)
72.Rosmita, (Muaro Jambi)
73.Rayako Dekar King, SY, (Aceh)
74.Ryan Aria Arizona, (Pekalongan)
75.Roymon Lemosol, (Ambon)
76.Rut Retno Astuti, (Bandung)
77.Raden Rita Maimunah, (Padang)
78.Sahaya Santayana, (Tasikmalaya)
79.Salimi Ahmad, (Jakarta)
80.Salman Yoga S, (Aceh)
81.Sami’an Adib, (Jember)
82.Sanur Keziandari, (Bandung)
83.Sarwo Darmono, (Lumajang)
84.Silivester Kiik, (Atambua)
85.Siswo Nurwahyudi , (Bojonegoro)
86.Soei Rusli, (Padang)
87.Supianoor , (Kusan Hulu)
88.Sutarso, (Sorong)
89.Sutarno Sk, (Jakarta)
90.Sukma Putra Permana, (Bantul)
91.Sulistyo , (Jakarta)
92.Sugeng Joko Utomo , (Tasikmalaya)
93.Sujudi Akbar Pamungkas, (Tuban)
94.Sudarmono , (Bekasi)
95. Sumrohadi , (Jakarta)
96.Supriyadi Bro (Surabaya)
97.Suyitno Ethexs, (Mojokerto)
98.Syafaruddin Marpaung, (Tanjungbalai)
99.Syahriannur Khaidir, (Sampang)
100.Syamsul Bahri, (Subang)
101.Teguh Ari Prianto, (Bandung)
102.Tjaha Kum, (Hoelea)
103.Uswatun Khasanah, (Gresik)
104.Wadie Maharief, (Jogjakarta)
105.Wanto Tirta, (Banyumas)
106.Wastirah, (Indramayu)
107.Wardjito Soeharso, (Semarang)
108.Wyaz Ibn Sinentang, (Pontianak)
109.Yoe Irawan, (Sukabumi)
110.Yublina Fay ,(NN)
111.Zaeni Boli, (Flores)
Senin, 11 Mei 2020
Sepucuk Surat dari Rumah Sakit , Puisi Petrus Nandi
Sepucuk Surat dari Rumah Sakit
Puisi Petrus Nandi
Ada yang hendak kuutarakan padamu saat ini
Bahwa kau dan aku
Bagai dua anak pulau yang mati
Karena kita tak dapat berjangkauan
Sebab demi melangkaui kesendirian ini aku tak mampu
Sayang, betapa kuingin mengecup bibirmu yangranum
Seperti yang pernah aku giati dengan manja
Di atas ranjang kita
Tapi, apalah daya
Menggerakkan bibir tuk melisankan niatku
Aku tak dapat
Sebab aku tak mau maut ini menderamu
Cukup aku sendiri yang marasakan
Sunyi yang mencekam ruang mini ini.
Sayang, betapa aku ingin mengelus
Wajahmu yang berlumuran rupa-rupa keresahan
Tapi, apalah daya
Mengangkat tangan tuk menggapaimu
Aku tak sampai
Sebab dalam masa pelik ini
Adalah haram bila tubuh kita saling menyapa
Dan aku terlanjur terasing di rumah keramat ini.
Sayang, sebenarnya aku ingin sekali
Menyanyikan lagu Nina Bobo untuk buah hati kita
Seperti suaraku pernah dengan merdu
Mengiringi matanya menuju lelap setiap malam
Tapi, kata dokter
Malam ini aku tak dapat melawati kalian
Lagipula aku mau darahku tak berhenti mengalir
Dalam tubuhnya
Sebab aku takut aku akan membawa maut untuknya
Bila aku memaksakan niatku ini.
Sayang, aku mau engkau tenang bersama dia
Jagalah dirinya
Jangan biarkan ia terluka
Bawalah damai
Sepanjang engkau masih dapat memandangnya
Sayang, aku tidak keberatan
Bila pada hari mereka mengusung
Jasadku menuju liang lahat
Engkau dan dirinya tak berada di sana
Aku bakal menjadi sangat tenteram
Bila kau tak merintih pilu di samping nisanku
Ketahuilah sayangku, aku menulis surat ini
Saat aku merasa yakin
Bahwa aku benar-benar akan pergi
Meninggalkan kalian
Selamanya.
Puncak Scalabrini, 6 April 2020.
Puisi Petrus Nandi
Ada yang hendak kuutarakan padamu saat ini
Bahwa kau dan aku
Bagai dua anak pulau yang mati
Karena kita tak dapat berjangkauan
Sebab demi melangkaui kesendirian ini aku tak mampu
Sayang, betapa kuingin mengecup bibirmu yangranum
Seperti yang pernah aku giati dengan manja
Di atas ranjang kita
Tapi, apalah daya
Menggerakkan bibir tuk melisankan niatku
Aku tak dapat
Sebab aku tak mau maut ini menderamu
Cukup aku sendiri yang marasakan
Sunyi yang mencekam ruang mini ini.
Sayang, betapa aku ingin mengelus
Wajahmu yang berlumuran rupa-rupa keresahan
Tapi, apalah daya
Mengangkat tangan tuk menggapaimu
Aku tak sampai
Sebab dalam masa pelik ini
Adalah haram bila tubuh kita saling menyapa
Dan aku terlanjur terasing di rumah keramat ini.
Sayang, sebenarnya aku ingin sekali
Menyanyikan lagu Nina Bobo untuk buah hati kita
Seperti suaraku pernah dengan merdu
Mengiringi matanya menuju lelap setiap malam
Tapi, kata dokter
Malam ini aku tak dapat melawati kalian
Lagipula aku mau darahku tak berhenti mengalir
Dalam tubuhnya
Sebab aku takut aku akan membawa maut untuknya
Bila aku memaksakan niatku ini.
Sayang, aku mau engkau tenang bersama dia
Jagalah dirinya
Jangan biarkan ia terluka
Bawalah damai
Sepanjang engkau masih dapat memandangnya
Sayang, aku tidak keberatan
Bila pada hari mereka mengusung
Jasadku menuju liang lahat
Engkau dan dirinya tak berada di sana
Aku bakal menjadi sangat tenteram
Bila kau tak merintih pilu di samping nisanku
Ketahuilah sayangku, aku menulis surat ini
Saat aku merasa yakin
Bahwa aku benar-benar akan pergi
Meninggalkan kalian
Selamanya.
Puncak Scalabrini, 6 April 2020.
Kamis, 07 Mei 2020
SUJUDI AKBAR PAMUNGKAS: DI RUANG HIJAU
SUJUDI AKBAR PAMUNGKAS:
DI RUANG HIJAU
mengenang badai
dalam diri
membentur alif
di ruang hijau masjid
memedar kepingan
ke dinding zat
dan mengkristal
menggenang tafakur
dalam gelombang suci
romantik
menghunus ruh
ke sekujur sajadah
ke keranda ramadhan
nun jauh terlepas
fastabiqul khoiroots
(masjid'at, 14-20)
DI RUANG HIJAU
mengenang badai
dalam diri
membentur alif
di ruang hijau masjid
memedar kepingan
ke dinding zat
dan mengkristal
menggenang tafakur
dalam gelombang suci
romantik
menghunus ruh
ke sekujur sajadah
ke keranda ramadhan
nun jauh terlepas
fastabiqul khoiroots
(masjid'at, 14-20)
Selasa, 05 Mei 2020
Sarwo Darmono , OMAH KANG ENDAH
OMAH KANG ENDAH
Urip ing alam wantah
Kang ginayuh para titah
Kedah sanyata gadhah
Omah kang endah
Gawe kempaling simah
Saha putra wayah
Omah kang endah
Papane paring asih asuh asah
Papaning musyawarah
Lampah gesang bungah susah
Papane manembah lan pasrah
Manembah marang kang maha mirah
Ngalap berkah lan hidayah
Betah mapan ing omah endah
Omah kang endah
Kebak barokah
Kangge sadanya titah
Lumajang, Senen Kliwon 04052020
Pangripta Sarwo Darmono
Urip ing alam wantah
Kang ginayuh para titah
Kedah sanyata gadhah
Omah kang endah
Gawe kempaling simah
Saha putra wayah
Omah kang endah
Papane paring asih asuh asah
Papaning musyawarah
Lampah gesang bungah susah
Papane manembah lan pasrah
Manembah marang kang maha mirah
Ngalap berkah lan hidayah
Betah mapan ing omah endah
Omah kang endah
Kebak barokah
Kangge sadanya titah
Lumajang, Senen Kliwon 04052020
Pangripta Sarwo Darmono
Witanul Bulkis RUMAH NYANYIAN JIWA
Witanul Bulkis
RUMAH NYANYIAN JIWA
Di rumah ini membungkus segenap jiwa menghampar rasa datang seperti bayang segala lara selalu tergantikan dengan riang terasa indah bila nyanyian jiwa mengalun tanpa sumbang
Di rumah ini temukan damai hingga harapan berkembang cinta kasih sayang siang malam selalu terpancar cahaya kasih tanpa halangan ragu menghadapi langkah-langkah sulit
Di rumah ini segala asa tercurah semoga cinta selalu mengalir pada jiwa-jiwa penyejuk
Tanah Bumbu, April 2020
Witanul Bulkis
RUMAH CAHAYA
Ramadhan kini terasa sepi
Tak ada zikir menjelang buka puasa
Tak ada sholawat saat tarawih tiba
Tak ada alunan ayat suci penyejuk jiwa
Masjid mushola begitu lengang
Shaf hanya tinggal kain Panjang
Beribadah hanya perorangan
Rumah kini bagai surga keluarga berkumpul beribadah bersama semua berkumpul tak kemana-mana
Rumah kini penuh cahaya memancar bak mentari jingga membelai hingga merasuk jiwa tersenyum bersama keluarga tercinta
Banyak cerita dalam keluarga
Banyak canda tawa berkumpul bersamanya
Walau hanya terdengar suara azan dari spiker mushola namun sholawat, zikir dan lantunan ayat suci masih terdengar dari orang-orang tercinta
Tanah Bumbu, Mei 2020
Biodata
Witanul Bulkis, lahir di Gambut kab. Banjar prov. Kalimantan selatan. Saat ini tergabung dalam Komunitas Bagang Sastra Tanah Bumbu dan Perkumpulan Rumah Seni Asnur (PERRUAS). Puisinya pernah tergabung dalam antalogi bersama penyair Kalimantan Selatan Membumikan Langit (Tahura Media, 2018), antalogi puisi guru Tentang Sebuah Buku dan Rahasia Ilmu Menulis Puisi Rekor Muri 2018, Antalogi puisi Surak Sumampai (TPSS XVI, 2019), antalogi puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festifal 2019 “WHEN THE DAYS WERE RAINING”, antalogi Bersama Sayur Mayur dan sebagai penulis terpilih 10 besar dalam antalogi puisi Perempuan Seberang Jalan pada event Indonesia berpuisi #9 oleh CV. Poetry Publisher. Ia kini tinggal di Pagatan kec. Kusan Hilir Kab. Tanah Bumbu bekerja sebagai guru SD.
RUMAH NYANYIAN JIWA
Di rumah ini membungkus segenap jiwa menghampar rasa datang seperti bayang segala lara selalu tergantikan dengan riang terasa indah bila nyanyian jiwa mengalun tanpa sumbang
Di rumah ini temukan damai hingga harapan berkembang cinta kasih sayang siang malam selalu terpancar cahaya kasih tanpa halangan ragu menghadapi langkah-langkah sulit
Di rumah ini segala asa tercurah semoga cinta selalu mengalir pada jiwa-jiwa penyejuk
Tanah Bumbu, April 2020
Witanul Bulkis
RUMAH CAHAYA
Ramadhan kini terasa sepi
Tak ada zikir menjelang buka puasa
Tak ada sholawat saat tarawih tiba
Tak ada alunan ayat suci penyejuk jiwa
Masjid mushola begitu lengang
Shaf hanya tinggal kain Panjang
Beribadah hanya perorangan
Rumah kini bagai surga keluarga berkumpul beribadah bersama semua berkumpul tak kemana-mana
Rumah kini penuh cahaya memancar bak mentari jingga membelai hingga merasuk jiwa tersenyum bersama keluarga tercinta
Banyak cerita dalam keluarga
Banyak canda tawa berkumpul bersamanya
Walau hanya terdengar suara azan dari spiker mushola namun sholawat, zikir dan lantunan ayat suci masih terdengar dari orang-orang tercinta
Tanah Bumbu, Mei 2020
Biodata
Witanul Bulkis, lahir di Gambut kab. Banjar prov. Kalimantan selatan. Saat ini tergabung dalam Komunitas Bagang Sastra Tanah Bumbu dan Perkumpulan Rumah Seni Asnur (PERRUAS). Puisinya pernah tergabung dalam antalogi bersama penyair Kalimantan Selatan Membumikan Langit (Tahura Media, 2018), antalogi puisi guru Tentang Sebuah Buku dan Rahasia Ilmu Menulis Puisi Rekor Muri 2018, Antalogi puisi Surak Sumampai (TPSS XVI, 2019), antalogi puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festifal 2019 “WHEN THE DAYS WERE RAINING”, antalogi Bersama Sayur Mayur dan sebagai penulis terpilih 10 besar dalam antalogi puisi Perempuan Seberang Jalan pada event Indonesia berpuisi #9 oleh CV. Poetry Publisher. Ia kini tinggal di Pagatan kec. Kusan Hilir Kab. Tanah Bumbu bekerja sebagai guru SD.
Sulistyo , HADIAH TERINDAH DI ANTARA WABAH
HADIAH TERINDAH DI ANTARA WABAH
Sulistyo
Tuhan
Terima kasih Kau hadiahi aku ramadhan
Walau dalam kegelisahan dan kepedihan
Karena aku tak punya uang untuk membeli kolak pisang
Apalagi nanti baju lebaran
Hanya ada masker seharga sepuluh ribuan
Karena uang di dompet tinggal recehan
Sisa gajian dua bulan lalu hampir habis untuk makan
Ma'af Tuhan
Ramadhan ini mungkin aku hanya bisa menyapa semampuku
Tak ada suara bakiakku melangkah ke rumah-Mu
Aku hanya bisa mengeja alifbata di dalam kamarku
Aku hanya bisa bersujud di hamparan sajadah rumahku
Tuhan
Dekap aku dengan ramadan-Mu
Biarkan tangisku pecah dalam rintih tadarusku
Biarkan mulutku tetap melafal firman-Mu
Walau terbata
Tuhan
Ramadan ini adalah oase terindah walau dia datang bersama wabah yang Kau turunkan
Di antara isak tangis kelaparan
Di antara lagu kematian
Di antara kerinduan bertemu malam seribu bulan
Jakarta, mei 2020
RAMADHAN TERKUNGKUNG PANDEMI
Sulistyo
Tik tok jam tesendat berputar
Matahari berhenti di tengah jalan
Perut menipis menahan lapar siang malam
Berbuka puasa hanya seteguk minuman
Penghasilan menghilang karena pandemi tak berkesudahan
Ramadhan pilu
Ramadhan penuh sembilu
Jakarta, mei '20
Sulistyo
Tuhan
Terima kasih Kau hadiahi aku ramadhan
Walau dalam kegelisahan dan kepedihan
Karena aku tak punya uang untuk membeli kolak pisang
Apalagi nanti baju lebaran
Hanya ada masker seharga sepuluh ribuan
Karena uang di dompet tinggal recehan
Sisa gajian dua bulan lalu hampir habis untuk makan
Ma'af Tuhan
Ramadhan ini mungkin aku hanya bisa menyapa semampuku
Tak ada suara bakiakku melangkah ke rumah-Mu
Aku hanya bisa mengeja alifbata di dalam kamarku
Aku hanya bisa bersujud di hamparan sajadah rumahku
Tuhan
Dekap aku dengan ramadan-Mu
Biarkan tangisku pecah dalam rintih tadarusku
Biarkan mulutku tetap melafal firman-Mu
Walau terbata
Tuhan
Ramadan ini adalah oase terindah walau dia datang bersama wabah yang Kau turunkan
Di antara isak tangis kelaparan
Di antara lagu kematian
Di antara kerinduan bertemu malam seribu bulan
Jakarta, mei 2020
RAMADHAN TERKUNGKUNG PANDEMI
Sulistyo
Tik tok jam tesendat berputar
Matahari berhenti di tengah jalan
Perut menipis menahan lapar siang malam
Berbuka puasa hanya seteguk minuman
Penghasilan menghilang karena pandemi tak berkesudahan
Ramadhan pilu
Ramadhan penuh sembilu
Jakarta, mei '20
Senin, 04 Mei 2020
SUJUDI AKBAR PAMUNGKAS: ---- MENGGALAH BULAN SEMPURNA
SUJUDI AKBAR PAMUNGKAS:
-----------------------------------------------
MENGGALAH BULAN SEMPURNA
di puncak ketinggian langit
sempurna tubuhmu terhampar
menggelinjang semi sensual
semampai nyiur melambai
berjenjang kemontokan buah
penuh pesona angin membuncah
mengguncang kesintalan bidang
meliuk lekuk sepanjang gairah
elok berkelok selaras kemolekan
tegakkan galah lawan kelelakian
kobarkan hasrat pemabuk surga
menjamah bukit-bukit reronta
menebar kelembutan hasrat
desiskan diksi-diksi persetubuhan
menggalah nikmat bulan sempurna
bulan suci bersimpul pandemi covid
dalam rengkuh ranjang isolasi
(part, 030520)
-----------------------------------------------
MENGGALAH BULAN SEMPURNA
di puncak ketinggian langit
sempurna tubuhmu terhampar
menggelinjang semi sensual
semampai nyiur melambai
berjenjang kemontokan buah
penuh pesona angin membuncah
mengguncang kesintalan bidang
meliuk lekuk sepanjang gairah
elok berkelok selaras kemolekan
tegakkan galah lawan kelelakian
kobarkan hasrat pemabuk surga
menjamah bukit-bukit reronta
menebar kelembutan hasrat
desiskan diksi-diksi persetubuhan
menggalah nikmat bulan sempurna
bulan suci bersimpul pandemi covid
dalam rengkuh ranjang isolasi
(part, 030520)
Minggu, 03 Mei 2020
Aditya Mahdi F , 5 waktu di rumah
Kubuka mata yang masih sayuh
Menjelajah masa lalu dengan sepeda waktu yang kukayuh
Kuingat masa-masa kala itu, riuh gemuruh namun tetap teduh
Bernostalgia dengan sebatang rokok yang tinggal separuh
Tepat disamping air kali rumahku yang sudah keruh
Kutinggalkan kopi ku yang seperempat penuh
Pergi ke kamar mandi, membasuh wudhu pada anggota tubuh
Puisi berhenti sejenak, saatnya waktu Subuh
Terbangun di siang hari setelah bangun setelah sahur
Kulihat ibu ingin membeli sayur mayur
Seketika aku mengucap syukur
Tentu aku hanya ingin duduk, hampir tersungkur
Ingin membaca buku, berkontemplasi dengan para leluhur
Buku-buku ini menyelamatkanku dari kutukan tuan takur
Yang menyebabkan kehidupan manusia menjadi hancur
Namun sebelum itu menjadi hancur, ini sudah masuk waktu Dzuhur
Sore hari, rasa dahaga mulai menjalar
Namun tak sebanding dengan rasa lapar akan pengetahuan nalar
Semua keresahan ku tahan didalam kamar
Rasa resah yang masih samar-samar
Sejujurnya, aku sangat ingin keluar
Namun terhalang, mereka berkata jangan sampai rakyat terpapar
Lagi lagi aku kembali ke kamar, diam terkapar
Hingga terdengar suara Adzan Ashar
Hampir masuk waktu berbuka
Aku masih tak mengerti apa dan kenapa
Terkurung seperti ini mulai membuat jiwa ku menjadi gila
Namun tak apa, ini demi kebaikan bersama
DUG DUG DUG, Adzan Maghrib telah mengudara
Kuambil teh manis untuk melawan rasa dahaga
Dengan beberapa buah es batu tentu saja
Saatnya sholat Maghrib, semoga tuhan mengampuni segala dosa
Malam telah tiba, aku sangat rindu dengan mushola
Aku teringat ketika kecil untuk meminta tanda tangan imam untuk buku sekolah
Sayang sekali, kali ini kurang memungkinkan untuk pergi kesana
Aku tetap dirumah, beribadah, serta memohon ampun kepada-Nya
Setelahnya kupanjatkan doa, semoga dunia kembali ke semestinya
Aku merindukan suasana diluar sana, bercengkrama, mengikuti irama
Sudah cukup, saatnya kembali pada fokus utama
Puisi ini berakhir setelah waktu Isya
Ali Syamsudin Arsi KITA BUKA JENDELA
Ali Syamsudin Arsi
KITA BUKA JENDELA
kita buka jendela memandang taman bunga di pekarangan tetangga warna-warni indah penuh aroma
bila itu terjadi kita sepakat untuk menanam juga bunga aneka warna di rumah sendiri kita rayakan panorama bunga di sekeliling ada di depan juga ada
rumah yang indah adalah rumah penuh aroma bunga
aroma bunga masuk melalui jendela terbuka lewat udara dan tentu saja pandangan mata
mata bunga-bunga
mata indah rumah kita
/Kindai Seni Kreatif, April 2020
Ali Syamsudin Arsi
SUARA GEMA-GEMA
ia tak lenyap suara naik ke lapis-lapis udara hingga meniti pada gelombang gema-gema sampai bertemu di lingkungan bulan planet terjauh bahkan di pijar api matahari kawah gunung merambat suara permukaan daun mengalun suara palung laut terdalam menyisir suara di tebing tinggi curam ngarai desir hutan kecipak batu sunyi malam misteri hutan belantara suara dan gema-gema bersahutan
taka da yang hilang sedikit pun
suara gema-gema memandang balik ke rumah-rumah kita
rumah kita asal-muasal suara
asal-muasal gema
demi gema
/Kindai Seni Kreatif, April 2020
Biodata
Ali Samsudin Arsi, lahir di kampung Tubau, Hulu Sungai Tengah, Prov. Kalsel. Menerbitkan 7 buku gumam Asa, selain buku puisi, kumpulan cerpen juga pantun berkait dan buku kumpulan esai. Pernah mendirikan Forum Taman Hati, mendirikan TOSI (Taman Olah Sastra Indonesia). Sejak tahun 2016 membangun Kindai Seni Kreatif di daerah Kec. Liang Anggang, kota Banjarbaru. Tahun 2020 menerbitkan buku kumpulan puisi “Stadium Tanah Ibu“. Beberapa kali menerima penghargaan sastra dari walikota Banjarbaru, Kepala Balai Bahasa Banjarmasin, Pusat Bahasa di Jakarta. Diundang ke Ubud Writers and Reader - Bali, diundang ke Borobudur Writers and Cultural di Magelang – Jawa Tengah. Hadir pada Mukhtamar Sastra Jawa Timur, ikut merayakan sastra di La Tansa – Lebak Banten, Jawa Barat. Saat ini menjabat Ketua di Kerukunan Sastrawan Hulu Sungai Tengah, Barabai, Kalsel. Mengembangkan metode penulisan dengan “Metode Tulisan Berpindah Tangan”.
KITA BUKA JENDELA
kita buka jendela memandang taman bunga di pekarangan tetangga warna-warni indah penuh aroma
bila itu terjadi kita sepakat untuk menanam juga bunga aneka warna di rumah sendiri kita rayakan panorama bunga di sekeliling ada di depan juga ada
rumah yang indah adalah rumah penuh aroma bunga
aroma bunga masuk melalui jendela terbuka lewat udara dan tentu saja pandangan mata
mata bunga-bunga
mata indah rumah kita
/Kindai Seni Kreatif, April 2020
Ali Syamsudin Arsi
SUARA GEMA-GEMA
ia tak lenyap suara naik ke lapis-lapis udara hingga meniti pada gelombang gema-gema sampai bertemu di lingkungan bulan planet terjauh bahkan di pijar api matahari kawah gunung merambat suara permukaan daun mengalun suara palung laut terdalam menyisir suara di tebing tinggi curam ngarai desir hutan kecipak batu sunyi malam misteri hutan belantara suara dan gema-gema bersahutan
taka da yang hilang sedikit pun
suara gema-gema memandang balik ke rumah-rumah kita
rumah kita asal-muasal suara
asal-muasal gema
demi gema
/Kindai Seni Kreatif, April 2020
Biodata
Ali Samsudin Arsi, lahir di kampung Tubau, Hulu Sungai Tengah, Prov. Kalsel. Menerbitkan 7 buku gumam Asa, selain buku puisi, kumpulan cerpen juga pantun berkait dan buku kumpulan esai. Pernah mendirikan Forum Taman Hati, mendirikan TOSI (Taman Olah Sastra Indonesia). Sejak tahun 2016 membangun Kindai Seni Kreatif di daerah Kec. Liang Anggang, kota Banjarbaru. Tahun 2020 menerbitkan buku kumpulan puisi “Stadium Tanah Ibu“. Beberapa kali menerima penghargaan sastra dari walikota Banjarbaru, Kepala Balai Bahasa Banjarmasin, Pusat Bahasa di Jakarta. Diundang ke Ubud Writers and Reader - Bali, diundang ke Borobudur Writers and Cultural di Magelang – Jawa Tengah. Hadir pada Mukhtamar Sastra Jawa Timur, ikut merayakan sastra di La Tansa – Lebak Banten, Jawa Barat. Saat ini menjabat Ketua di Kerukunan Sastrawan Hulu Sungai Tengah, Barabai, Kalsel. Mengembangkan metode penulisan dengan “Metode Tulisan Berpindah Tangan”.
Sabtu, 02 Mei 2020
YOE IRAWAN , FRAGMEN PINTU
YOE IRAWAN
FRAGMEN PINTU
I
Sebutir biji
Sekuncup tunas
Dimatangkan waktu
Menolak sia-sia di piringmu
II
Piring waktu
Tergeletak di meja rumahmu
Kamu sebut ia pintu
Tempat kamu mengunyah usia tanpa jemu
III
Selalu lewat pintu kamu pergi ke ladang
Meninggalkan rumah berbatas petang
Mengolah rindu tak kepalang
Menabur biji menyemai tunas dalam doa-doa kepayang
IV
Waktu selalu membawamu kembali ke pintu itu
Setelah lapar dan dahagamu
Kamu tuntaskan sepenuh gebu
Ar-Rayyan yang dimatangkan ramadhan
V
Beribu-ribu biji
Beribu-ribu tunas
Kian berisi kian bernas
Kamu buka Ar-Rayyan : ladang abadi bertumbuhan
Sukabumi, 1 Mei 2020 M/7 Ramadhan 1441 H
RUMAH KITA SEMPIT SAJA
Rumah kita memang sempit, Sri
Hari-hari penat kian menghimpit
Tetapi hujan senja ini menumbuhkan bahagia yang lain
Tak perlu kuyup. Di sini kita guyup
Orang-orang berlari menantang cuaca
Kita mereguk teh hangat setelah sesiang berpuasa
Ini bukan soal lapar atau dahaga
Dihantam kemiskinan kita sudah terbiasa
Bertahun-tahun bertahan membuat kita begitu berdaya
Tak ada perayaan untuk lapar dan dahaga kita
Tak ada pula nama kita di data-data
Tak apa. Duka lara kita sudah menyatu pada semesta
Rumah kita memang sempit, Sri
Tetapi kita sama faham benar
Puasa membuat ruang kita berbinar seluas cakrawala
Sukabumi, 1 Mei 2020 M/7 Ramadhan 1441 H
PROFIL PENYAIR
Yoe Irawan lahir di Kendal, Jawa Tengah, pada 26 Juni. Menetap di Kota Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia. Kegiatan sehari-hari selain bekerja juga mengelola sebuah sekolah sepakbola untuk anak-a Yoe Irawan nak dan remaja.Karya puisinya tergabung dalam: Antologi Puisi Indonesia 1997 (Komunitas Sastra Indonesia & Penerbit Angkasa, Bandung, 1997), Jakarta Dalam Puisi Mutakhir (Dinas Kebudayaan Jakarta dan Masyarakat Sastra Jakarta, 2000), 142 Penyair Menuju Bulan (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru & Kalalatu Press, Kalimantan Selatan, 2006), Kado Cinta (Kumpulan Puisi, Uwais Indie, 2015), Dupa Mengepul Di Langit (Kumpulan Puisi,Oase Pustaka 2015), Aksara Ramadhan (Kumpulan Puisi, Penerbit Nerin Media 2015), Kilau Zamrud Khatulistiwa (Puisi akrostik, Fam Publishing, 2015), Dua Menit Satu Detik (Kumpulan Puisi, Fam Publishing, 2015), Mengungkap Tabir Bumi Khatulistiwa (Kumpulan Puisi, Penerbit Rumah Kita, 2015), Tujuh Puluh Untuk Indonesia (Kumpulan Puisi Kemerdekaan, Penerbit Bintang Pelangi 2015), Manuskrip 70 Tahun Indonesia Merdeka (Kumpulan Puisi,Vio Publisher, 2015), Semangat Baru Untuk Rohingya (Kumpulan Puisi, Penerbit Ernest, 2015), 99 Mutiara Rindu (Kumpulan Puisi, Zukzez exPress, 2015), Lewat Angin Kukirimkan Segenggam Doa Buat Abah (Antologi Puisi, Fam Publishing 2017), Perempuan Yang Tak Layu Merindu Tunas Baru (Antologi Puisi, Fam Publishing 2017). Matinya Sang Pemuda (Oase Pustaka, 2019), Negeri Pesisiran, Dari Negeri Poci 9 (kumpulan puisi, Komunitas Radja Ketjil 2019), When The Days Were Raining (kumpulan puisi, Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019), Antologi Gambang Semarangan (2020), Perjalanan Merdeka – Independent Journey (Antologi Puisi Internasional Dua Bahasa, Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, 2020), Antologi Corona (Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia 2020).Sedang karya cerpennya termuat dalam majalah Ummi dan Annida, juga dimuat dalam antologi cerpen Anak Mimpi (Kumpulan Cerpen Anak, Fam Publishing, 2015). Pernah memenangi lomba menulis cerita pendek islami LMCPI I UMMI tahun 2000 dengan judul Urip Pergi Lagi, Cerpen Guru Untuk Ra menjadi cerpen terpilih dalam lomba cerpen Kagama Virtual 2 tahun 2017, serta Cerpen Sepotong Sayap Di Bulan Mei menjadi cerpen terbaik dalam Lomba Cerpen yang diadakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta bersama Yayasan Hari Puisi tahun 2019 (Kota Kata Kita, Disparbud DKI dan YHP 2019).
FRAGMEN PINTU
I
Sebutir biji
Sekuncup tunas
Dimatangkan waktu
Menolak sia-sia di piringmu
II
Piring waktu
Tergeletak di meja rumahmu
Kamu sebut ia pintu
Tempat kamu mengunyah usia tanpa jemu
III
Selalu lewat pintu kamu pergi ke ladang
Meninggalkan rumah berbatas petang
Mengolah rindu tak kepalang
Menabur biji menyemai tunas dalam doa-doa kepayang
IV
Waktu selalu membawamu kembali ke pintu itu
Setelah lapar dan dahagamu
Kamu tuntaskan sepenuh gebu
Ar-Rayyan yang dimatangkan ramadhan
V
Beribu-ribu biji
Beribu-ribu tunas
Kian berisi kian bernas
Kamu buka Ar-Rayyan : ladang abadi bertumbuhan
Sukabumi, 1 Mei 2020 M/7 Ramadhan 1441 H
RUMAH KITA SEMPIT SAJA
Rumah kita memang sempit, Sri
Hari-hari penat kian menghimpit
Tetapi hujan senja ini menumbuhkan bahagia yang lain
Tak perlu kuyup. Di sini kita guyup
Orang-orang berlari menantang cuaca
Kita mereguk teh hangat setelah sesiang berpuasa
Ini bukan soal lapar atau dahaga
Dihantam kemiskinan kita sudah terbiasa
Bertahun-tahun bertahan membuat kita begitu berdaya
Tak ada perayaan untuk lapar dan dahaga kita
Tak ada pula nama kita di data-data
Tak apa. Duka lara kita sudah menyatu pada semesta
Rumah kita memang sempit, Sri
Tetapi kita sama faham benar
Puasa membuat ruang kita berbinar seluas cakrawala
Sukabumi, 1 Mei 2020 M/7 Ramadhan 1441 H
PROFIL PENYAIR
Yoe Irawan lahir di Kendal, Jawa Tengah, pada 26 Juni. Menetap di Kota Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia. Kegiatan sehari-hari selain bekerja juga mengelola sebuah sekolah sepakbola untuk anak-a Yoe Irawan nak dan remaja.Karya puisinya tergabung dalam: Antologi Puisi Indonesia 1997 (Komunitas Sastra Indonesia & Penerbit Angkasa, Bandung, 1997), Jakarta Dalam Puisi Mutakhir (Dinas Kebudayaan Jakarta dan Masyarakat Sastra Jakarta, 2000), 142 Penyair Menuju Bulan (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru & Kalalatu Press, Kalimantan Selatan, 2006), Kado Cinta (Kumpulan Puisi, Uwais Indie, 2015), Dupa Mengepul Di Langit (Kumpulan Puisi,Oase Pustaka 2015), Aksara Ramadhan (Kumpulan Puisi, Penerbit Nerin Media 2015), Kilau Zamrud Khatulistiwa (Puisi akrostik, Fam Publishing, 2015), Dua Menit Satu Detik (Kumpulan Puisi, Fam Publishing, 2015), Mengungkap Tabir Bumi Khatulistiwa (Kumpulan Puisi, Penerbit Rumah Kita, 2015), Tujuh Puluh Untuk Indonesia (Kumpulan Puisi Kemerdekaan, Penerbit Bintang Pelangi 2015), Manuskrip 70 Tahun Indonesia Merdeka (Kumpulan Puisi,Vio Publisher, 2015), Semangat Baru Untuk Rohingya (Kumpulan Puisi, Penerbit Ernest, 2015), 99 Mutiara Rindu (Kumpulan Puisi, Zukzez exPress, 2015), Lewat Angin Kukirimkan Segenggam Doa Buat Abah (Antologi Puisi, Fam Publishing 2017), Perempuan Yang Tak Layu Merindu Tunas Baru (Antologi Puisi, Fam Publishing 2017). Matinya Sang Pemuda (Oase Pustaka, 2019), Negeri Pesisiran, Dari Negeri Poci 9 (kumpulan puisi, Komunitas Radja Ketjil 2019), When The Days Were Raining (kumpulan puisi, Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019), Antologi Gambang Semarangan (2020), Perjalanan Merdeka – Independent Journey (Antologi Puisi Internasional Dua Bahasa, Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, 2020), Antologi Corona (Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia 2020).Sedang karya cerpennya termuat dalam majalah Ummi dan Annida, juga dimuat dalam antologi cerpen Anak Mimpi (Kumpulan Cerpen Anak, Fam Publishing, 2015). Pernah memenangi lomba menulis cerita pendek islami LMCPI I UMMI tahun 2000 dengan judul Urip Pergi Lagi, Cerpen Guru Untuk Ra menjadi cerpen terpilih dalam lomba cerpen Kagama Virtual 2 tahun 2017, serta Cerpen Sepotong Sayap Di Bulan Mei menjadi cerpen terbaik dalam Lomba Cerpen yang diadakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta bersama Yayasan Hari Puisi tahun 2019 (Kota Kata Kita, Disparbud DKI dan YHP 2019).
Jumat, 01 Mei 2020
Winar Ramelan RAMADHAN YANG HENING
Winar Ramelan
RAMADHAN YANG HENING
Seperti daun daun yang jatuh dari pohon
Mereka mendapati takdirnya tanpa suara
Ketika angin menabuhnya
Lalu tanggal dari pohon naungnya
Untuk luruh pada bentang pertiwi
Begitupun hari ini
Dalam ramadhan yang hening
Karena tak ada seremonial buka bersama
Atau tarawih dalam luasnya masjid
Tak ada bedug yang bertalu talu
Juga tadarus dengan pengeras suara
Di dalam rumah, ayat suci didaraskan
Doa doa dilantunkan sederas hujan
Kasih pun berpaut dengan erat
Seerat benang dalam tenunan
Hari hari berlalu begitu saja
Seperti daun yang gugur tanpa suara
Tetapi pagi menjadi hari baru
Laksana tunas daun lalu tumbuh bunga
Begitu pun ramadhan ini
Datang dan pergi menuju kuncup bunga yang wangi
Dan mekar tepat di hari Idhul Fitri nanti
DIRI DAN DIA
Mari kita dirikan tempat suci di dalam rumah
Menatahkan Dia bukan pada megahnya bangunan
Namun pada kelapangan dan kesucian niat dalam diri
Jangan lusuhkan jiwa untuk terlihat megah
Ketika menghadapNya, dengan tatapan tatapan serupa
Tatapan manusia yang ingin dilihat
Rundukkan diri atas keberadaanNya
Meski tak terlihat, Dia ada di dalam diri kita
Yang tak ingin ditinggikan
Karena sudah maha tinggi
Namun seringkali diri merasa sangat tinggi
Melebihi kepala sendiri
Biodata
Winar Ramelan lahir di Malang 05 Juni, kini tinggal di Denpasar.
Menulis kumpulan puisi tunggal dengan judul Narasi Sepasang Kaos Kaki.
Puisinya pernah di muat harian Denpost, Bali Post, majalah Wartam, Dinamikanews, Tribun Bali, Pos Bali, konfrontasi.com, Sayap Kata, Dinding Aksara, detakpekanbaru.com. Kompasiana, Flores Sastra, Antologi bersama Palagan, Untuk Jantung Perempuan, Melankolia Surat Kematian, Klungkung Tanah Tua Tanah Cinta, Tifa Nusantara 3, Puisi Kopi Penyair Dunia, Pengantin Langit 3, Seberkas Cinta, Madah Merdu Kamadhatu, Lebih Baik Putih Tulang Dari Pada Putih Mata, Progo Temanggung Dalam Puisi, Rasa Sejati Lumbung Puisi, Perempuan Pemburu Cahaya, Mengunyah Geram Seratus Puisi Melawan Korupsi, Jejak Air Mata Dari Sittwe ke Kuala Langsa, Senja Bersastra di Malioboro, Meratus Hutan Hujan Tropis, Ketika Kata Berlipat Makna,Tulisan Tangan Penyair Satrio Piningit, Saron, A Skyful of Rainy Day, Sebutir Garam Di Secangkir Air, Berbagi Kebahagiaan Dalam Tadarus Puisi, Perempuan Bahari
RAMADHAN YANG HENING
Seperti daun daun yang jatuh dari pohon
Mereka mendapati takdirnya tanpa suara
Ketika angin menabuhnya
Lalu tanggal dari pohon naungnya
Untuk luruh pada bentang pertiwi
Begitupun hari ini
Dalam ramadhan yang hening
Karena tak ada seremonial buka bersama
Atau tarawih dalam luasnya masjid
Tak ada bedug yang bertalu talu
Juga tadarus dengan pengeras suara
Di dalam rumah, ayat suci didaraskan
Doa doa dilantunkan sederas hujan
Kasih pun berpaut dengan erat
Seerat benang dalam tenunan
Hari hari berlalu begitu saja
Seperti daun yang gugur tanpa suara
Tetapi pagi menjadi hari baru
Laksana tunas daun lalu tumbuh bunga
Begitu pun ramadhan ini
Datang dan pergi menuju kuncup bunga yang wangi
Dan mekar tepat di hari Idhul Fitri nanti
DIRI DAN DIA
Mari kita dirikan tempat suci di dalam rumah
Menatahkan Dia bukan pada megahnya bangunan
Namun pada kelapangan dan kesucian niat dalam diri
Jangan lusuhkan jiwa untuk terlihat megah
Ketika menghadapNya, dengan tatapan tatapan serupa
Tatapan manusia yang ingin dilihat
Rundukkan diri atas keberadaanNya
Meski tak terlihat, Dia ada di dalam diri kita
Yang tak ingin ditinggikan
Karena sudah maha tinggi
Namun seringkali diri merasa sangat tinggi
Melebihi kepala sendiri
Biodata
Winar Ramelan lahir di Malang 05 Juni, kini tinggal di Denpasar.
Menulis kumpulan puisi tunggal dengan judul Narasi Sepasang Kaos Kaki.
Puisinya pernah di muat harian Denpost, Bali Post, majalah Wartam, Dinamikanews, Tribun Bali, Pos Bali, konfrontasi.com, Sayap Kata, Dinding Aksara, detakpekanbaru.com. Kompasiana, Flores Sastra, Antologi bersama Palagan, Untuk Jantung Perempuan, Melankolia Surat Kematian, Klungkung Tanah Tua Tanah Cinta, Tifa Nusantara 3, Puisi Kopi Penyair Dunia, Pengantin Langit 3, Seberkas Cinta, Madah Merdu Kamadhatu, Lebih Baik Putih Tulang Dari Pada Putih Mata, Progo Temanggung Dalam Puisi, Rasa Sejati Lumbung Puisi, Perempuan Pemburu Cahaya, Mengunyah Geram Seratus Puisi Melawan Korupsi, Jejak Air Mata Dari Sittwe ke Kuala Langsa, Senja Bersastra di Malioboro, Meratus Hutan Hujan Tropis, Ketika Kata Berlipat Makna,Tulisan Tangan Penyair Satrio Piningit, Saron, A Skyful of Rainy Day, Sebutir Garam Di Secangkir Air, Berbagi Kebahagiaan Dalam Tadarus Puisi, Perempuan Bahari
I MADE SUANTHA DOA SERIBU BULAN
I MADE SUANTHA
DOA SERIBU BULAN
Doa pada bumi yang telah setia
Menyempurnakan cahaya temaram itu
Bulat bulan nampak kembar
Dalam hatiku. Seribu laron berebut
Tetesan gerimis pada kilau
Bintang bintang. Dan kau mencatat
Dengan senyap
Lembaran sayap itu. Melayang
Dan kemudian lenyap di warna bunga
Yang menjadikanmu harum!
Sedekah mataair
Bagi sungai yang mengalir
Wingit langit bagi seribu bulan
Menyempurnakan indah malam
Sujud daun dalam meluruhkan sinar matahari
Menuntun anak tersesat mencari jalan pulang
Doa ibu, lantunan lagu
Gending dengan irama purbani
Pelepas dahaga: perjalanan hayati.
Cahaya bulan memuaikan malam!
April, 2020
I MADE SUANTHA
RUMAH YANG INDAH
Disini sujud didirikan. Tanpa terkungkung
Teraan mata jam. Dia adalah detak
Irama jantung dan tarik serta hembusan
Nafas
Tafakur diam, serupa cerapan akar pohon
Membesarkan diri dengan memamah
Pertiwi dengan senyap
Rumah dengan pekarangan seluas hati
Dipenuhi harum untuk bunga bunga yang sempurna
Mewarnai taman
Mata air yang mendulang sumur
Mengaliri seribu sungai
Di seluruh bahagian tubuh
Nyanyian ibu. Tanah yang dibajak bapak
Lukuan ditumbuhi rumpun padi
Memenuhi lumbung diri
Doa ibu. Wirid bapak
Jalan selapang cakrawala: Jalan masuk
Menuju rumah dengan tiang tiang yang kokoh
Menopang sajadah serah diri
April 2020
DOA SERIBU BULAN
Doa pada bumi yang telah setia
Menyempurnakan cahaya temaram itu
Bulat bulan nampak kembar
Dalam hatiku. Seribu laron berebut
Tetesan gerimis pada kilau
Bintang bintang. Dan kau mencatat
Dengan senyap
Lembaran sayap itu. Melayang
Dan kemudian lenyap di warna bunga
Yang menjadikanmu harum!
Sedekah mataair
Bagi sungai yang mengalir
Wingit langit bagi seribu bulan
Menyempurnakan indah malam
Sujud daun dalam meluruhkan sinar matahari
Menuntun anak tersesat mencari jalan pulang
Doa ibu, lantunan lagu
Gending dengan irama purbani
Pelepas dahaga: perjalanan hayati.
Cahaya bulan memuaikan malam!
April, 2020
I MADE SUANTHA
RUMAH YANG INDAH
Disini sujud didirikan. Tanpa terkungkung
Teraan mata jam. Dia adalah detak
Irama jantung dan tarik serta hembusan
Nafas
Tafakur diam, serupa cerapan akar pohon
Membesarkan diri dengan memamah
Pertiwi dengan senyap
Rumah dengan pekarangan seluas hati
Dipenuhi harum untuk bunga bunga yang sempurna
Mewarnai taman
Mata air yang mendulang sumur
Mengaliri seribu sungai
Di seluruh bahagian tubuh
Nyanyian ibu. Tanah yang dibajak bapak
Lukuan ditumbuhi rumpun padi
Memenuhi lumbung diri
Doa ibu. Wirid bapak
Jalan selapang cakrawala: Jalan masuk
Menuju rumah dengan tiang tiang yang kokoh
Menopang sajadah serah diri
April 2020
Ar-rahman, Rosmita
Ar-rahman
Rosmita
Duka di langitku
Menambah daftar panjang perih
dan nestapa.Malapetaka menimpa segala ruang titik-titik setiap persinggahan.Silaturahmi hanya tinggal pemanis lisan ,bahkan untuk
Rumah Ibadah sekalipun tertutup sudah , taraweh Ramadhanku
hanya di rumah saja
Haruskah terus saling meyalahkan ?
Sementara azab itu terus bermunculan hingga kita tak mampu lagi banyak bicara
Diam dan memasrahkan diri kepada-Nya ,agar pertolongan mampu membuat syaraf bertahan
Meski virus itu teramat debu
namum mampu menguras nadi hingga napas terkulai lemah
Semua nyata
Tak satupun tersembunyi.Lisan-lisan nyinyir kini tak lagi berucap
Seperti biasanya lantang dan sadis
Bencana itu melesat bagai busur menembus sasaran
Bulu roma merinding di malam paling mencekam
Dan aku harus terus bertahan
dalam doa agar mati hanya dengan keadaan Husnul khatimah
Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan ?
Jambi 2020
2
RAMADHAN YANG ADUH
Anakku
Berbuka puasa senja ini makan seadanya. Kita kan sudah terbiasa puasa tanpa berbuka
Diamlah nak !
Jangan mengeluh , sebab ibu akan selalu membahagiakanmu ,meski
ibu harus menjadi perempaun berstatus pemulung ,namun ibu tidak akan mau meminta kepada siapapun kecuali kepada Allah
Tapi bu , adek kepingin berbuka puasa senja ini ,maka es krim
seperti anak tetangga sebelah
itu Ibu , sekali saja bu
Oh Tuhan ,tak terasa ternyata aku menangis mendengar permintaan Putri kecilku .Tuhanku kepada-Mu aku bermohon , berikanlah rezeki kepadaku agar aku mampu memberikan kebahagiaan kepada keluargaku ,anak titipan-Mu
Aamiin Ya Rabbal'alamiin
Jambi 2020
Rosmita.S.Pd
Lahir di Provinsi Nangroe Aceh 20 April menetap di Jambi
Pernah kuliah di UNJA dan UT Jambi selesai 2010
Bekerja sebagai Kepala Sekolah
di salah satu SD yang berada
di lingkungan
Kabupaten Muaro Jambi
Saya penyuka warna hitam
Traveling , Adventure adalah kegiatan yang paling disukai
Berpuisi sejak duduk di bangku
sekolah dasar
Bagi saya syair adalah napas kehidupan.
Penggagas Antologi bersama , tergabung dalam grup Asnur dan Peneroka
Anggota ASPI 2017 hingga kini
Baru menulis 35 Antologi bersama
Dan 5 Antologi tunggal
Di antara nya
1.Merenda jingga selapas senja(2016) 2. Jemari Jingga (2016)
3.Sajak 19 mei (2017)
4.perempuan bertubuh puisi (2019
5.Dwi tunggal Sajak untuk khadijah (2018) 5 .Puisi Guru gerakan Akbar 1000 Guru Asean tentang sebuah buku dan rahasia(Antologi puisi terbanyak MURI (2018).6.Bendera sepenuh tiang (2018) 7 .10.Penyair bicara ,8.Basanta ,9.Akar ibu ,10.Ayah , bangsa,11.Mata cinta,
12. Membaca asap ,13.hujan.
14.Mata rindu ,15.Negeri di atas awan,16. Sabda alam,
17.Membaca zaman,
18.Puspa warna, 19.Kultur ,
20 Mata rindu, 22.Jejak langit , 23.Menyibak Langit Ramadhan ,24.Kakimu ibu adalah surgaku ,25.Sajak cinta untuk peneroka , 26.Satu abad karang anyar , 27.Wajah Indonesia , 28selangit puisi ,29Mahar gading , 30cinta dan hujan ,32. Ketika penulis bicara ,33.Bertemu dalam koma menari dalam titik, 34.Jejak Sunyi Sang Perindu , 35 Malam bertasbih dalam cahaya 1000 bulan 2020 ,37.Menara impian dalam 6 penulis Jambi , Cinta 2020
di musim semi @38 (Love in Spring )versi bahasa Inggris
di puisi 4 Benua 2020
39.Amora En Primavera vers berbahasa spanyol Puisi empat benua 2020
40.Gerakan Sekolah Menulis buku Nasional bersama siswa /I (Mentari di Langit Talang kerinci) 2019
41.Gerakan 1000 guru Asean menulis pantun nasihat 2020
Rosmita
Duka di langitku
Menambah daftar panjang perih
dan nestapa.Malapetaka menimpa segala ruang titik-titik setiap persinggahan.Silaturahmi hanya tinggal pemanis lisan ,bahkan untuk
Rumah Ibadah sekalipun tertutup sudah , taraweh Ramadhanku
hanya di rumah saja
Haruskah terus saling meyalahkan ?
Sementara azab itu terus bermunculan hingga kita tak mampu lagi banyak bicara
Diam dan memasrahkan diri kepada-Nya ,agar pertolongan mampu membuat syaraf bertahan
Meski virus itu teramat debu
namum mampu menguras nadi hingga napas terkulai lemah
Semua nyata
Tak satupun tersembunyi.Lisan-lisan nyinyir kini tak lagi berucap
Seperti biasanya lantang dan sadis
Bencana itu melesat bagai busur menembus sasaran
Bulu roma merinding di malam paling mencekam
Dan aku harus terus bertahan
dalam doa agar mati hanya dengan keadaan Husnul khatimah
Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan ?
Jambi 2020
2
RAMADHAN YANG ADUH
Anakku
Berbuka puasa senja ini makan seadanya. Kita kan sudah terbiasa puasa tanpa berbuka
Diamlah nak !
Jangan mengeluh , sebab ibu akan selalu membahagiakanmu ,meski
ibu harus menjadi perempaun berstatus pemulung ,namun ibu tidak akan mau meminta kepada siapapun kecuali kepada Allah
Tapi bu , adek kepingin berbuka puasa senja ini ,maka es krim
seperti anak tetangga sebelah
itu Ibu , sekali saja bu
Oh Tuhan ,tak terasa ternyata aku menangis mendengar permintaan Putri kecilku .Tuhanku kepada-Mu aku bermohon , berikanlah rezeki kepadaku agar aku mampu memberikan kebahagiaan kepada keluargaku ,anak titipan-Mu
Aamiin Ya Rabbal'alamiin
Jambi 2020
Rosmita.S.Pd
Lahir di Provinsi Nangroe Aceh 20 April menetap di Jambi
Pernah kuliah di UNJA dan UT Jambi selesai 2010
Bekerja sebagai Kepala Sekolah
di salah satu SD yang berada
di lingkungan
Kabupaten Muaro Jambi
Saya penyuka warna hitam
Traveling , Adventure adalah kegiatan yang paling disukai
Berpuisi sejak duduk di bangku
sekolah dasar
Bagi saya syair adalah napas kehidupan.
Penggagas Antologi bersama , tergabung dalam grup Asnur dan Peneroka
Anggota ASPI 2017 hingga kini
Baru menulis 35 Antologi bersama
Dan 5 Antologi tunggal
Di antara nya
1.Merenda jingga selapas senja(2016) 2. Jemari Jingga (2016)
3.Sajak 19 mei (2017)
4.perempuan bertubuh puisi (2019
5.Dwi tunggal Sajak untuk khadijah (2018) 5 .Puisi Guru gerakan Akbar 1000 Guru Asean tentang sebuah buku dan rahasia(Antologi puisi terbanyak MURI (2018).6.Bendera sepenuh tiang (2018) 7 .10.Penyair bicara ,8.Basanta ,9.Akar ibu ,10.Ayah , bangsa,11.Mata cinta,
12. Membaca asap ,13.hujan.
14.Mata rindu ,15.Negeri di atas awan,16. Sabda alam,
17.Membaca zaman,
18.Puspa warna, 19.Kultur ,
20 Mata rindu, 22.Jejak langit , 23.Menyibak Langit Ramadhan ,24.Kakimu ibu adalah surgaku ,25.Sajak cinta untuk peneroka , 26.Satu abad karang anyar , 27.Wajah Indonesia , 28selangit puisi ,29Mahar gading , 30cinta dan hujan ,32. Ketika penulis bicara ,33.Bertemu dalam koma menari dalam titik, 34.Jejak Sunyi Sang Perindu , 35 Malam bertasbih dalam cahaya 1000 bulan 2020 ,37.Menara impian dalam 6 penulis Jambi , Cinta 2020
di musim semi @38 (Love in Spring )versi bahasa Inggris
di puisi 4 Benua 2020
39.Amora En Primavera vers berbahasa spanyol Puisi empat benua 2020
40.Gerakan Sekolah Menulis buku Nasional bersama siswa /I (Mentari di Langit Talang kerinci) 2019
41.Gerakan 1000 guru Asean menulis pantun nasihat 2020
Kamis, 30 April 2020
Vien Rumailay. , “Merindukan Ibu Dibulan Ramadhan”
Vien Rumailay.
“Merindukan Ibu Dibulan Ramadhan”
Ibu…..
Aku merindukanmu
Ditengah bulan yang penuh rahmat ini
Kau cahaya yang selalu menerangiku
Kau pelangi yang selalu memberi warnah bahagia
Ibu….
Dibulan suci ini
Kau tidak bersama denganku
Aku merindukanmu ibu
Belaiyan kasih sayang
Selalu kau tebarkan dibulin suci ini
Ibu…..
Sekarang kau telah tiada
Aku sungguh merasa kehilangan
Aku merindukanmu ibu
Ramadhan tahun 2020
Tak seindah Ramadhan Tahun 2019 bersama ibu
Ibu….
Kau dambaan hatiku
Kau telah tiada
Namun kasihmu bagiku
Selalu aku rasakan disetiap hembusan nafasku
Sungguh indah Bila ibu berada di bulan Ramadhan ini
Segala ampunan ku haturkan bagimu ibu
Segala doa kupanjatkan bagimu
Tetaplah abadi disisi Allah
Merayakan Ramadhan bersama Allah
Aku selalu merindukanmu ibu
Masohi, 29 April 2020
Sukacita Ramadhan
Oleh : Vien Rumailay
Ramadhan Telah Tiba
Seluruh Umat Muslim Bersukacita
Menyambut Bulan Penuh Ampunan
Bulan Penuh Keberkahan
Bulan Penuh Kemuliaan
Sungguh indah Ramadhan
Amalan pahala Allah berikan
Bagi kami umat-Mu
Syukur kepada Allah kami panjatkan
Tanpa Allah hidup kami sia – sia
Oh Ramadhan…
Kau hadir berikan sukacita
Mengobati dan menemani setiap insan
Kau berikan cahaya Ramdhan
Yang terpencar dimana - mana
Masohi, 29 April 2020
“Merindukan Ibu Dibulan Ramadhan”
Ibu…..
Aku merindukanmu
Ditengah bulan yang penuh rahmat ini
Kau cahaya yang selalu menerangiku
Kau pelangi yang selalu memberi warnah bahagia
Ibu….
Dibulan suci ini
Kau tidak bersama denganku
Aku merindukanmu ibu
Belaiyan kasih sayang
Selalu kau tebarkan dibulin suci ini
Ibu…..
Sekarang kau telah tiada
Aku sungguh merasa kehilangan
Aku merindukanmu ibu
Ramadhan tahun 2020
Tak seindah Ramadhan Tahun 2019 bersama ibu
Ibu….
Kau dambaan hatiku
Kau telah tiada
Namun kasihmu bagiku
Selalu aku rasakan disetiap hembusan nafasku
Sungguh indah Bila ibu berada di bulan Ramadhan ini
Segala ampunan ku haturkan bagimu ibu
Segala doa kupanjatkan bagimu
Tetaplah abadi disisi Allah
Merayakan Ramadhan bersama Allah
Aku selalu merindukanmu ibu
Masohi, 29 April 2020
Sukacita Ramadhan
Oleh : Vien Rumailay
Ramadhan Telah Tiba
Seluruh Umat Muslim Bersukacita
Menyambut Bulan Penuh Ampunan
Bulan Penuh Keberkahan
Bulan Penuh Kemuliaan
Sungguh indah Ramadhan
Amalan pahala Allah berikan
Bagi kami umat-Mu
Syukur kepada Allah kami panjatkan
Tanpa Allah hidup kami sia – sia
Oh Ramadhan…
Kau hadir berikan sukacita
Mengobati dan menemani setiap insan
Kau berikan cahaya Ramdhan
Yang terpencar dimana - mana
Masohi, 29 April 2020
Rabu, 29 April 2020
Hakikat Ramadhan , Abdil Arif
Abdil Arif
Hakikat Ramadhan
Rhamadan dulu…
Syetan dikurung
Rhamadan sekarang...
Semua mahluk dikurung termasuk manusia…
Ramadhan dulu…
Orang rajin taraweh itu shaleh
Ramadhan Sekarang,,
Rajin taraweh itu salah…
Dulu…
Iman harus kuat
Sekarang, imun yang harus kuat
Kata positif sekarang buruk
Kata negatif sekarang baik
Baru terasa,,
Bahwa semua mulai berubah…
Tapi ,,
Tapi tidak untuk hakikat ramadhan…
Dia tetap merajai bulan
Dia tetap penuh ampunan
Dia tetap memberi malam seribu bulan
Dia tetap menjadi sanjungan
Oh, ramadhan…
Tempat bersuci…
Bukan hanya makan dan minum yang aku tahan,,
Bicara busuk aku tahan..
Pandangan aku tahan..
Rasa aku tahan..
Karena bukan perut lapar,,
Bukan gersangnya tenggorokan..
Yang mensucikan…
Tapi,,,
Hakikatmu ,, ramadhan
Sucikan semua jiwa ,,
Berpuasalah...
Hakikat Ramadhan
Rhamadan dulu…
Syetan dikurung
Rhamadan sekarang...
Semua mahluk dikurung termasuk manusia…
Ramadhan dulu…
Orang rajin taraweh itu shaleh
Ramadhan Sekarang,,
Rajin taraweh itu salah…
Dulu…
Iman harus kuat
Sekarang, imun yang harus kuat
Kata positif sekarang buruk
Kata negatif sekarang baik
Baru terasa,,
Bahwa semua mulai berubah…
Tapi ,,
Tapi tidak untuk hakikat ramadhan…
Dia tetap merajai bulan
Dia tetap penuh ampunan
Dia tetap memberi malam seribu bulan
Dia tetap menjadi sanjungan
Oh, ramadhan…
Tempat bersuci…
Bukan hanya makan dan minum yang aku tahan,,
Bicara busuk aku tahan..
Pandangan aku tahan..
Rasa aku tahan..
Karena bukan perut lapar,,
Bukan gersangnya tenggorokan..
Yang mensucikan…
Tapi,,,
Hakikatmu ,, ramadhan
Sucikan semua jiwa ,,
Berpuasalah...
SUPIANOOR RUMAHKU MUSHOLAKU
SUPIANOOR
RUMAHKU MUSHOLAKU
Di Ramadhan tahun ini
Jauh berbeda dari Ramadhan tahun-tahun yang lewar
Kumandang merdunya azan di rumah sendiri
Niat dan takbir tangan di angkat di rumah sendiri
Lantunan Al-Fatihah bergaung di nrumah sendiri
Ruku menundukkan kan badan di rumah sendiri
Sujud merendah diri di nrumah sendiri
Berdia meminta ampun di rumah sendiri
Semua di rumah sendiri
Ramadhan di tahun ini
Tarawih beramaah bersama keluarga di rumah sendiri
Derai selawat dan lantunan ayat-ayat Al-Quran
Semarak dari nrumah sendiri
Walau jamaah kecil dari keluarga yang kecil
Namun sungguh semarak dengan ebersamaan
Ramadhan tahun ini
Rumahku musholaku
Tanah Bumbu 2020
SUPIANOOR
MENUNGGU BERBUKA PUASA
Keluarga kecilku
Duduk bersila membentuk lingkaran
Sama menghadap hidangan yang amat sangat sederhana
Sambil tafakur berdiam dan merenung diri dalam diam
menunggu penanda waktu yang merayap kian mendekat
menuju titik akhir untuk berbuka puasa
Sirine meraung pengganti beduk
Kami serentak berdoa dan berbuka bersama
Seremak bersama mereggguk air dan makanan lainnya
Dengan lahap dan terukur tanpa berlebihan
Kemudian tak lupa mengucap syukur bersama
Atas apa yang kami dapatkan di hari ini
Oh indahnya keluargaku
Tanah Bumbu 2020
BIODATA PENULIS
Supianoor dilahirkan di Kusan Hulu, sebuah kecamatan yang berada di pelosok Kalimantan Selatan pada tanggal 1 Juli 1969. Puisi-puisinya terdapat dalam antologi bersama Buitenzorg Bogor Dalam Puisi Penyair Nusantara (2017), Berbagi Kebahagiaan (2019), Surak Sumampai (2019)Sekarang bertugas sebagai Kepala SMPN 4 Kusan Hulu. Bisa dihubungi di no Hp/WA 081348562835 atau E-mail smpn2kusanHulu@yahoo.com
RUMAHKU MUSHOLAKU
Di Ramadhan tahun ini
Jauh berbeda dari Ramadhan tahun-tahun yang lewar
Kumandang merdunya azan di rumah sendiri
Niat dan takbir tangan di angkat di rumah sendiri
Lantunan Al-Fatihah bergaung di nrumah sendiri
Ruku menundukkan kan badan di rumah sendiri
Sujud merendah diri di nrumah sendiri
Berdia meminta ampun di rumah sendiri
Semua di rumah sendiri
Ramadhan di tahun ini
Tarawih beramaah bersama keluarga di rumah sendiri
Derai selawat dan lantunan ayat-ayat Al-Quran
Semarak dari nrumah sendiri
Walau jamaah kecil dari keluarga yang kecil
Namun sungguh semarak dengan ebersamaan
Ramadhan tahun ini
Rumahku musholaku
Tanah Bumbu 2020
SUPIANOOR
MENUNGGU BERBUKA PUASA
Keluarga kecilku
Duduk bersila membentuk lingkaran
Sama menghadap hidangan yang amat sangat sederhana
Sambil tafakur berdiam dan merenung diri dalam diam
menunggu penanda waktu yang merayap kian mendekat
menuju titik akhir untuk berbuka puasa
Sirine meraung pengganti beduk
Kami serentak berdoa dan berbuka bersama
Seremak bersama mereggguk air dan makanan lainnya
Dengan lahap dan terukur tanpa berlebihan
Kemudian tak lupa mengucap syukur bersama
Atas apa yang kami dapatkan di hari ini
Oh indahnya keluargaku
Tanah Bumbu 2020
BIODATA PENULIS
Supianoor dilahirkan di Kusan Hulu, sebuah kecamatan yang berada di pelosok Kalimantan Selatan pada tanggal 1 Juli 1969. Puisi-puisinya terdapat dalam antologi bersama Buitenzorg Bogor Dalam Puisi Penyair Nusantara (2017), Berbagi Kebahagiaan (2019), Surak Sumampai (2019)Sekarang bertugas sebagai Kepala SMPN 4 Kusan Hulu. Bisa dihubungi di no Hp/WA 081348562835 atau E-mail smpn2kusanHulu@yahoo.com
Sugeng Joko Utomo PULANG
Sugeng Joko Utomo
PULANG
Sudarmin renta duduk terdiam
Bersandar tangan mata terpejam
Terhanyut angan di lamun kelam
Menembus masa silam
Tentang istri teramat dicinta
Tiga anak buah kasihnya
Sebentar lagi akan bersua
Pada rumah bambu telah tua
Di atas kapal melancar pulang
Rindu menari dicumbu gelombang
Beriring cericit camar-camar terbang
Hari pun menjemput siang
Sepuluh tahun ia terhumbalang
Merantau jauh di negeri seberang
Sebab sepetak kecil sawah ladang
Tak lagi memberi harapan panjang
Panen hanya setahun sekali
Itu juga tiada pasti
Air seperti malu mengaliri
Hijau subur menjauh pergi
Angin bertiup menerpa wajah
Lamunan segera tergugah
Ia bangkit berdiri terperangah
Rupanya sampailah sudah
Segera baris berdesak-desakan
Menjinjing barang bawaan
Di emplasemen dermaga pelabuhan
Gejolak di dada semakin tak tertahan
Sudarmin renta tertegun diam
Tak mampu mengurai gumam
Melihat desa tanah kelahiran
Tenggelam di telan air bendungan
Tasikmalaya, 27 April 2020
Sugeng Joko Utomo
LENTERA BELUM MENYALA
Terbayang pintu bercat hijau pandan
Mulai terbuka perlahan
Sayap-sayap rindu berkepakan
Mengerumuni jasadku dalam diam
Berpuluh ratus bahkan ribuan
Menggugah angan menjemput kenyataaan
Aku menghambur segera
Pada kedua tangan terbuka
Milikmu yang senantiasa
Menanti pulangku dengan setia
Menumpahkan selaksa rasa
Selama ini terpaksa ditunda
Senyum kau suguhkan
Bersama segelas cerita tentang Intan
Putri kita yang bukan lagi anak ingusan
Beranjak menjadi remaja kekinian
Selalu mengharap segunung perhatian
Dariku seorang ayah perantauan
Kunikmati peluk mesra darimu
Kuresapi cium takdim anakku
Kubenamkan jiwa pada lautan syahdu
Yang tetiba ombaknya menggulung haru biru
Kukunyah rindu yang tersaji
Kureguk segelas cinta suci
Terpejam mata menikmati
Getar asmara meresapi sanubari
Namun...
Hari ini kanda belum bisa pulang adinda
Saat ini ayah tak jadi datang ananda
Tak diperkenankan oleh aturan negara
Konon untuk memutus pandemi corona
Jika wabah sudah mereda
Kelak ada sempat untuk bersua
Akan kunyalakan lentera
Terangi segala penjuru rumah kita
Tasikmalaya, 25 April 2020
Sugeng Joko Utomo
BAITUL JANNAH
Wahai isteriku
Puasa baru berjalan seminggu
Tetapi kau telah belanja gula telur dan terigu
Juga beberapa macam rempah bumbu
Sibuk pula membuat kue ini itu
Untuk lebaran nanti
Katamu membela diri
Sambil tetap asyik mengolesi
Alat panggang cetakan roti
Sementara makna dari puasa terlewatkan
Engkau bergunjing sambil mengaduk adonan
Mulut tiada henti mengatakan
Si ini atau si anu telat bayar arisan
Rumah berantakan
Di ember bertumpuk cucian
Di teras sampah berserakan
Pekerjaan lain terabaikan
Istriku tersayang
Puasa dan lebaran itu satu pasang
Saling bertautan berbayang
Melengkapi bak angin dan layang-layang
Rusak puasa rusak pula lebaran
Tak berkumandang lagi kemenangan
Terkoyak oleh mudharat kebiasaan
Digerus nafsu buruk keseharian
Maka berhati-hati saja
Tulus menjaga sikap dan bicara
Tuntas menjalani ibadah mulia
Niat bersihkan jiwa raga dari dosa
Tasikmalaya, 14 April 2020
Sugeng Joko Utomo
YANG ASYIK MUDIK
Di penghujung akhir bulan puasa
Gemanya panggili para pengembara
Untuk pulang ke desa-desa
Segala moda transportasi
Motor bus dan mobil pribadi
Berebut cepat tak pandai mengantri
Cerita tentang kota
Perihal bermacam duka
Dilipat di balik senyum pura-pura
Pura-pura kaya
Pura-pura bahagia
Kompensasi dari hidup menderita
Herman memboyong anak istri
Dengan motor sendiri
Hasil menabung berhari-hari
Simin mengendarai inova
Sepertinya mobil sewa
Mengajak keluarga semua
Prapti naik bus AKAP
Berpengemudi kurang cakap
Di padat kemacetan terperangkap
Adakah yang naik kereta api
Tiket online tak pernah terbeli
Sebab jaringan internet bikin sakit hati
Mereka para pemudik
Berkumpul bercerita asyik
Saling berbagi kisah unik
Aku hanya diam mendengar
Senyum sendiri tanpa sadar
Menyimak perubahan desa jadi hingar-bingar
(Semua ini pasti tak lama
Sepekan lagi mereka balik ke kota
Melanjutkan berburu nasib menderita
Untuk kembali mudik lebaran berikutnya)
Tasikmalaya, 6 April 2020
Sugeng Joko Utomo
PULANG
Sudarmin renta duduk terdiam
Bersandar tangan mata terpejam
Terhanyut angan di lamun kelam
Menembus masa silam
Tentang istri teramat dicinta
Tiga anak buah kasihnya
Sebentar lagi akan bersua
Pada rumah bambu telah tua
Di atas kapal melancar pulang
Rindu menari dicumbu gelombang
Beriring cericit camar-camar terbang
Hari pun menjemput siang
Sepuluh tahun ia terhumbalang
Merantau jauh di negeri seberang
Sebab sepetak kecil sawah ladang
Tak lagi memberi harapan panjang
Panen hanya setahun sekali
Itu juga tiada pasti
Air seperti malu mengaliri
Hijau subur menjauh pergi
Angin bertiup menerpa wajah
Lamunan segera tergugah
Ia bangkit berdiri terperangah
Rupanya sampailah sudah
Segera baris berdesak-desakan
Menjinjing barang bawaan
Di emplasemen dermaga pelabuhan
Gejolak di dada semakin tak tertahan
Sudarmin renta tertegun diam
Tak mampu mengurai gumam
Melihat desa tanah kelahiran
Tenggelam di telan air bendungan
Tasikmalaya, 27 April 2020
Sugeng Joko Utomo
LENTERA BELUM MENYALA
Terbayang pintu bercat hijau pandan
Mulai terbuka perlahan
Sayap-sayap rindu berkepakan
Mengerumuni jasadku dalam diam
Berpuluh ratus bahkan ribuan
Menggugah angan menjemput kenyataaan
Aku menghambur segera
Pada kedua tangan terbuka
Milikmu yang senantiasa
Menanti pulangku dengan setia
Menumpahkan selaksa rasa
Selama ini terpaksa ditunda
Senyum kau suguhkan
Bersama segelas cerita tentang Intan
Putri kita yang bukan lagi anak ingusan
Beranjak menjadi remaja kekinian
Selalu mengharap segunung perhatian
Dariku seorang ayah perantauan
Kunikmati peluk mesra darimu
Kuresapi cium takdim anakku
Kubenamkan jiwa pada lautan syahdu
Yang tetiba ombaknya menggulung haru biru
Kukunyah rindu yang tersaji
Kureguk segelas cinta suci
Terpejam mata menikmati
Getar asmara meresapi sanubari
Namun...
Hari ini kanda belum bisa pulang adinda
Saat ini ayah tak jadi datang ananda
Tak diperkenankan oleh aturan negara
Konon untuk memutus pandemi corona
Jika wabah sudah mereda
Kelak ada sempat untuk bersua
Akan kunyalakan lentera
Terangi segala penjuru rumah kita
Tasikmalaya, 25 April 2020
Sugeng Joko Utomo
BAITUL JANNAH
Wahai isteriku
Puasa baru berjalan seminggu
Tetapi kau telah belanja gula telur dan terigu
Juga beberapa macam rempah bumbu
Sibuk pula membuat kue ini itu
Untuk lebaran nanti
Katamu membela diri
Sambil tetap asyik mengolesi
Alat panggang cetakan roti
Sementara makna dari puasa terlewatkan
Engkau bergunjing sambil mengaduk adonan
Mulut tiada henti mengatakan
Si ini atau si anu telat bayar arisan
Rumah berantakan
Di ember bertumpuk cucian
Di teras sampah berserakan
Pekerjaan lain terabaikan
Istriku tersayang
Puasa dan lebaran itu satu pasang
Saling bertautan berbayang
Melengkapi bak angin dan layang-layang
Rusak puasa rusak pula lebaran
Tak berkumandang lagi kemenangan
Terkoyak oleh mudharat kebiasaan
Digerus nafsu buruk keseharian
Maka berhati-hati saja
Tulus menjaga sikap dan bicara
Tuntas menjalani ibadah mulia
Niat bersihkan jiwa raga dari dosa
Tasikmalaya, 14 April 2020
Sugeng Joko Utomo
YANG ASYIK MUDIK
Di penghujung akhir bulan puasa
Gemanya panggili para pengembara
Untuk pulang ke desa-desa
Segala moda transportasi
Motor bus dan mobil pribadi
Berebut cepat tak pandai mengantri
Cerita tentang kota
Perihal bermacam duka
Dilipat di balik senyum pura-pura
Pura-pura kaya
Pura-pura bahagia
Kompensasi dari hidup menderita
Herman memboyong anak istri
Dengan motor sendiri
Hasil menabung berhari-hari
Simin mengendarai inova
Sepertinya mobil sewa
Mengajak keluarga semua
Prapti naik bus AKAP
Berpengemudi kurang cakap
Di padat kemacetan terperangkap
Adakah yang naik kereta api
Tiket online tak pernah terbeli
Sebab jaringan internet bikin sakit hati
Mereka para pemudik
Berkumpul bercerita asyik
Saling berbagi kisah unik
Aku hanya diam mendengar
Senyum sendiri tanpa sadar
Menyimak perubahan desa jadi hingar-bingar
(Semua ini pasti tak lama
Sepekan lagi mereka balik ke kota
Melanjutkan berburu nasib menderita
Untuk kembali mudik lebaran berikutnya)
Tasikmalaya, 6 April 2020
Sugeng Joko Utomo
Selasa, 28 April 2020
MUHAMMAD JAYADI RAMADHAN DI TAHUN INI
MUHAMMAD JAYADI
RAMADHAN DI TAHUN INI
Ramadhan datang kembali mengunjungi kita
Masih dengan gema menebar rahmat Allah di segenap penjuru dunia ini
Memanggil setiap orang beriman yang terpatri di dadanya
Walaupun duka masih menyayat hati
Di tengah-tengah wabah yang belum mau pergi
Bagi kami, ramadhan tetaplah cahaya
Menerang keimanan di dada dengan puasa
Hadiah bagi setiap hamba-hamba-Nya
Mengandung nafas keampunan dan realitas keagungan cinta pada-Nya
Menuju puncak takwa
Ramadhan kali ini tetaplah gegap gempita
Meski sederhana secara zahirnya
Namun niat dan tekad tetap menyala
Menghidupkan bulan mulia di antara cobaan yang datang
Kita yakin
Allah punya rahasia di balik segala keadaan yang dijadikan-Nya
Kita jadikan renungan bersama di dalam jiwa.
Balangan 27 April 2020
PUASA TIBA
Pada bulan mulia ini
Kita raih kedalaman batin
Dengan perenungan diri
Menyelami keadaan
Wujud pertautan hamba dengan Tuhan
Sebulan ini kita latih
Memerangi nafsu di jiwa
Meraih muthmainnah
Ketundukan jiwa hakiki
Istiqamah hingga ajal tiba
Semoga.
Balangan 27 April 2020
Muhammad Jayadi lahir pada 19 Juli 1986 di desa Galumbang kec. Juai. Kab. Balangan. Hobi menulis, melukis meski otodidak. Tinggal di Balangan Kalimantan Selatan.
RAMADHAN DI TAHUN INI
Ramadhan datang kembali mengunjungi kita
Masih dengan gema menebar rahmat Allah di segenap penjuru dunia ini
Memanggil setiap orang beriman yang terpatri di dadanya
Walaupun duka masih menyayat hati
Di tengah-tengah wabah yang belum mau pergi
Bagi kami, ramadhan tetaplah cahaya
Menerang keimanan di dada dengan puasa
Hadiah bagi setiap hamba-hamba-Nya
Mengandung nafas keampunan dan realitas keagungan cinta pada-Nya
Menuju puncak takwa
Ramadhan kali ini tetaplah gegap gempita
Meski sederhana secara zahirnya
Namun niat dan tekad tetap menyala
Menghidupkan bulan mulia di antara cobaan yang datang
Kita yakin
Allah punya rahasia di balik segala keadaan yang dijadikan-Nya
Kita jadikan renungan bersama di dalam jiwa.
Balangan 27 April 2020
PUASA TIBA
Pada bulan mulia ini
Kita raih kedalaman batin
Dengan perenungan diri
Menyelami keadaan
Wujud pertautan hamba dengan Tuhan
Sebulan ini kita latih
Memerangi nafsu di jiwa
Meraih muthmainnah
Ketundukan jiwa hakiki
Istiqamah hingga ajal tiba
Semoga.
Balangan 27 April 2020
Muhammad Jayadi lahir pada 19 Juli 1986 di desa Galumbang kec. Juai. Kab. Balangan. Hobi menulis, melukis meski otodidak. Tinggal di Balangan Kalimantan Selatan.
Sutarso PROTES TENTANG SURGA, TEMPAT PALING BINTANG BAGI KELUARGA
Sutarso
PROTES TENTANG SURGA, TEMPAT PALING BINTANG BAGI KELUARGA
"Di kepala:
Pikiran kotor merajalela
Terjebak otakatik otak,
sampai terbelai andai,
bahwa tanpa pikiran suci
di kemudian hari
kita masuk surga?
Atau, telah kau
pelajari Sunah Nabi tapi
purapura tidak mengerti?
Di bibir:
Kata mangkir
kepada kita mampir
Terlalu yakin masuk
surga, bukankah itu
kesimpulan terburuburu?
Bukankah seharusnya
menabung kebaikan
seribu gunung,
baru menghitung
untung
dari kemungkinan
lolos seleksi
setelah Munkar
setelah Nakir
jalankan tugas dari_Nya
Mengenai catatan tentang
baik buruk perbuatan kita
dari lahir hingga
hembuskan napas terakhir,
ada di Roqib
ada di Atid
Di jemari:
Kekerasan, ringan tangan
Kau tau, tangan
untuk memberi
Mengapa kepada diri
sendiri
mengapa kepada diridiri
di luar diri sendiri,
kaumenyakiti?
Dengan zalim,
mengapa mengklaim diri
alim?
Dengan kejahatan,
pantaskah kita
jadi penghuni surga?
Bukankah masih ada
waktu?
Bukankah rumah kita,
tempat yang tepat
demi
kembalikan keaslian diri
yang terfotokopi
basabasi
bikin jalan ke surga
terportal bengal
mengaku diri
paling handal?
Bukankah rumah,
tempat paling indah,
yang semoga jadi Tempat
Paling Bintang bagi
keluarga kita?"
Sorong, 25 April 2020
Bukankah rumah,
adalah surga?
Semoga dari rumah ini,
kita sekeluarga
mencapai surga
PROTES TENTANG SURGA, TEMPAT PALING BINTANG BAGI KELUARGA
"Di kepala:
Pikiran kotor merajalela
Terjebak otakatik otak,
sampai terbelai andai,
bahwa tanpa pikiran suci
di kemudian hari
kita masuk surga?
Atau, telah kau
pelajari Sunah Nabi tapi
purapura tidak mengerti?
Di bibir:
Kata mangkir
kepada kita mampir
Terlalu yakin masuk
surga, bukankah itu
kesimpulan terburuburu?
Bukankah seharusnya
menabung kebaikan
seribu gunung,
baru menghitung
untung
dari kemungkinan
lolos seleksi
setelah Munkar
setelah Nakir
jalankan tugas dari_Nya
Mengenai catatan tentang
baik buruk perbuatan kita
dari lahir hingga
hembuskan napas terakhir,
ada di Roqib
ada di Atid
Di jemari:
Kekerasan, ringan tangan
Kau tau, tangan
untuk memberi
Mengapa kepada diri
sendiri
mengapa kepada diridiri
di luar diri sendiri,
kaumenyakiti?
Dengan zalim,
mengapa mengklaim diri
alim?
Dengan kejahatan,
pantaskah kita
jadi penghuni surga?
Bukankah masih ada
waktu?
Bukankah rumah kita,
tempat yang tepat
demi
kembalikan keaslian diri
yang terfotokopi
basabasi
bikin jalan ke surga
terportal bengal
mengaku diri
paling handal?
Bukankah rumah,
tempat paling indah,
yang semoga jadi Tempat
Paling Bintang bagi
keluarga kita?"
Sorong, 25 April 2020
Bukankah rumah,
adalah surga?
Semoga dari rumah ini,
kita sekeluarga
mencapai surga
Langganan:
Komentar (Atom)




















