Kamis, 31 Agustus 2017

Roymon Lemosol dalam Kita Dijajah Lagi : Menggugat Tuhan





Roymon Lemosol

Menggugat Tuhan

mengapa redupkan pelita di tengah kegelapan
ketika setan-setan mulai kepayahan
menghadapi deras gelombang cahaya

sedang api yang menjarah hutan-hutan
dan asap yang mengaburkan kekayaan
kau biarka merambah perkantoran
dan pusat-pusat  pemerintahan
juga gedung-gedung dewan 
melahap habis kejujuran, keadilan
dan keberihakan pada kaum jelata

maka kita tetap hidup dalam tirai kemiskinan
mengeram hutang di kepak sayap burung-burung kapitalis
yang sok humanis

jadilah kita segolongan angsa
kehausan di tengah telaga

Ambon, 31 Agustus 2017



Roymon Lemosol, dilahirkan di Lumoli Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku pada tanggal 24 Agustus 1971. Sejak kecil sudah menyukai puisi. Karya-karyanya pernah menghiasi halaman sejumlah media lokal dan nasional, antara lain, majalah Fuly, Assau, Lombok Post, Suara NTB, Koran Seputar Indonesia, Harian Umum Media Indonesia, cecephari.com dan lain-lain. Sebagian lagi termaktub dalam beberapa buku antologi bersama, antara lain : Biarkan Katong Bakalae (Kantor Bahasa Maluku 2013), Puisi Menolak Korupsi Jilid 4 (Forum Sastra Surakarta 2015), Memo Untuk Wakil Rakyat (Forum Sastra Surakarta 2015). Memo Anti Terorisme  (Forum Sastra Surakarta 2016), Ije Jela (Pustaka Senja 2016), Memo Anti Kekerasan Terhadap Anak (Forum Sastra Surakarta, 2016), Nyanyian Puisi Untuk Ane Matahari (Imaji Indonesia 2017). Bunga Rampai PMK Bergerak Dengan Nurani (Forum Sastra Surakarta  2017), Akar Cinta Tanah Air (Penerbit D3M Kail Tangerang, 2017), Dari Loksado Untuk Indonesia (Loksado Writers, 2017), Puisi Menolak Korupsi 6 (Forum Sastra Surakarta, 2017).  Masih Ada Bulan Yang Akan Bersinar (D3M Kail Tangerang, 2017), dan Mazhab Rindu (Harazi, 2017). Bersama penyair lainnya, Roymon berperan aktif menggerakkan gairah sastra di Maluku. Saat ini ia bekerja sebagai guru di SMA Negeri 4 Ambon.

Aloet Pati dalam Kita Dijajah Lagi : PUISI KEMERDEKAAN SETELAH 72 TAHUN INDONESIA





Aloeth pati


PUISI KEMERDEKAAN SETELAH 72 TAHUN INDONESIA


     


                                         Mungkin sudah? 
                                         Mungkin belum?
                                          Mungkin hanya?
 
                                     



 Sekarjalak, 30 Agustus 2017

Aloeth Pathi, lahir di Pati- Jawa Tengah. Karyanya dimuat  Mata Media antologi bersama, Puisi Menolak Korupsi 2 (Forum Sastra Surakarta 2013), Dari Dam Sengon Ke Jembatan Panengel (Dewan Kesenian Kudus dan Forum Sastra Surakarta 2013), keluarga adalah Segalanya #1 (el Nisa Publisher, Jakarta, 2013), kelola Buletin Gandrung Sastra Media & Perahu Sastra. Tinggal di Jln. Ronggo Kusumo 204, Sekarjalak, Margoyoso-Pati.

Edi Pramono dalam Kita Dijajah Lagi : Mak, Siapa Yang Merdeka






Edi Pramono
Mak, Siapa Yang Merdeka

Mak, kau lihat berita di tv semalam?
ahh, aku lupa
seminggu yang lalu kau jual tv satu satunya peninggalan bapak
katamu sekarang sudah tak cukup lagi hasil panen untuk makan
tak sempat lagi kau main tawar dengan para tengkulak
sebab cicilan sudah mendesak, tak bisa lagi ditunggak
apalagi di pasar harga harga tiba tiba membengkak
entah siapa main santet pada harga

Mak, tv tv menyiarkan perayaan kemerdekaan
demikian meriah mak
di mana mana suka cita
di mana mana sorak sorai
di mana mana lomba

mungkin mereka lomba menutupi luka, anakku
begitu katamu

Mak, mungkin kau benar
subsidi dicabuti seperti ayam hendak disaji
sementara tunjangan wakil rakyat semakin nggegirisi
berita di mana mana orang orang susah beli
tapi diam diam gaji presiden melonjak tinggi
katanya ekonomi sedang meroket, Mak
tapi ada yang bilang,
bbm untuk roketnya tak bisa dibeli

luka sudah menganga di mana mana, anakku
begitu katamu

mungkin kau benar, Mak
hukum sudah tidak perduli keadilan
yang berkawan dibela mati matian, meski harus merusak tatanan
yang berlawan dihabisi edan edanan, meski harus bermain tipuan
kekuasaan tak ubahnya preman jalanan
dan orang orang kecil adalah kelinci percobaan

katanya kita merdeka, Mak, orang orang berteriak merdeka
ahh, tetap saja kita bersimbah luka
entah siapa yang merdeka


Jogja, 31 Agustus 2017
Edi Pramono , Sebagian sajak-sajaknya terbit di antologi bersama: Dari Sragen Memandang Indonesia, Puisi Menolak Korupsi Jilid II, Habis Gelap Terbitlah Sajak, Ensiklopegila Koruptor, Memo Untuk Wakil Rakyat, Memo Anti Terorisme, Memo Anti Kekerasan Terhadap Anak (MAKTA), Madah Merdu Kamadhatu, Antologi 66 Penyair Teras Puisi. Pengajar Bahasa & Sastra Inggris pada Fakultas Ilmu Budaya,
Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY)
Aktif menulis puisi. Tinggal di dusun Karanganom, Maguwoharjo, Yogyakarta