Sabtu, 03 September 2016

Lumbung Puisi Jilid IV






Heru Mugiarso

Fabel Anak Ular dan Katak

“ Katakan padaku, Kek tentang kaum intoleran negeri ini?”
Kakek Resi itu sejenak terdiam
Dielus surai  jenggotnya yang memutih
Lalu suaranya yang berat terdengar :
 “ Pernahkah kamu mendengar fabel si anak ular dan katak?”
 “Belum Kek”
Syahdan,  begitu Resi itu mulai berkisah
Dahulu anak ular dan katak itu bersahabat. Sangat akrab
Suatu sore seusai bermain keduanya pulang ke induknya masing-masing
Induk si anak ular menegur : kenapa baru pulang?
Dengan lugunya ia menjawab : aku baru saja selesai bermain dengan teman baruku yang lucu
Jalannya tak seperti kita. Dia berjalan dengan meloncat-loncat.
Si induk marah mendengar penuturan anak katak
Katanya : Bodoh kamu! Dia itu katak musuh  dan makanan lezat kita

Sebaliknya pula, karena terlalu sore si anak katak pun dimarahi induknya
Dengan polos dia berkilah: aku baru saja bermain dengan teman akrabku
Induk katak bertanya : siapakah temanmu itu?
Dia bukan bangsa kita, emak. Tubuhnya panjang kalau berjalan melata.
Mendengar itu Induk katak marah besar :
 “ Goblok kamu. Itu  musuh bangsa kita. Salah-salah kamu dijadikan makanannya.

Kakek resi sejenak terdiam lalu bertanya:
 “Kira-kira apa yang terjadi bila keesokan harinya mereka berdua berjumpa?”
Tentu mereka masing-masing akan pasang kuda-kuda
Dengan sorot mata saling membenci
Lupa sama sekali tentang persahabatan yang terjalin
Selama ini.
Semarang, 2016

Heru Mugiarso

Tetesan Air Burung Colibri
: laskar PMK

Pernahkah engkau belajar dari hikayat burung colibri
Tubuhnya mungil tak seperkasa gagak apalagi rajawali
Tetapi ketulusannya melebihi kekuatan  semua penghuni  rimba
Tak terkecuali  si Raja hutan  yang perkasa ?

Alkisah , suatu hari hutan tempat tinggal mereka terbakar
Oleh tangan para durjana yang serakah
Lidah api panas membakar seakan menggapai langit
Menghanguskan semua pohon dan belukar

Semua penghuni rimba berlarian ketakutan
Gajah yang biasanya gagah  kini ciut nyalinya
Harimau yang  garang lari terbirit-birit
Mengambil  langkah seribu menjauhi  rimba

Hanya seekor burung Colibri yang tertinggal
dengan kepak sayapnya yang  kecil kesana kemari mencari mata air
Dipatuknya  sumber air dan diteteskan butiran air tak seberapa itu
Ke belukar yang terbakar merah saga

Selalu berulang-ulang hal itu dilakukannya
Membuat Gajah terheran dan tak bisa menyimpan tanya
: “Wahai Colibri, apa mungkin dengan caramu itu
Kebakaran hutan ini bisa engkau padamkan ?”

Apa jawab burung Colibri atas pertanyaan itu
Gajah pun terhenyak  dan tersindir dibuatnya
Dengan tutur kata tenang  namun sungguh bermakna dalam
 “ wahai sang Perkasa , tugas dan kewajibanku sudah aku jalankan .”
Semarang, 2016


Jen Kelana

Kutitipkan Asa Maleo

Rimba Celebes menyemai matayangan
ketapang juga tetumbuhan agathis
bersekutu bibir pantai menyisakan kering
kemudian menjadilah persinggahan

Demikianlah, Linaeus memarka binomial nomenclatur
pada tata nama macrocephalon maleo
menggariskan moyang kingdom animalia
lantas menancapkan jejak
seberang Wallacea dan Weber

Pada pasir yang menyelimuti pesisir pantai
sejoli sejalan itu menggali-gali istana marwah
bagi peletak penerus silsilah leluhurnya
seperti juga kita, yang ingin selalu setia
begitulah maleo menitipkan pesan
melepasliar langsam kerinduan

Kemudian kepak sayap-sayap melemah
tak ada lagi nyanyi di halaman rumah
padahal selalu kurindukan riang anak-anak kecil
bersama senandung dolanan bercengkerama
mungkinkah tersisa cerita untuk selanjutnya
tersebab maleo telah pula berkemas
meninggalkan selaksa kenang

Maka sudahi saja pesta
lantaran tarian-tarian kita menghapus
penanda-penanda maleo dari leluhurnya  
dan perburuan itu juga menggaritkan luka
pada lembaran-lembaran cerita anak kita

lalu kutitipkan asa maleo atas bentang sayap-sayap lelah
sepanjang kesat masa tua menulisi
hingga kembali menjadi kisah yang sama
2016


Jen Kelana

Kuau  Perenggan Tanah Peladang

Lama tak kulihat riang reranting
dan daun-daun luruh beraroma lembab
sebab dedahan tak lagi mampu mengundang kicaunya
menjadi sesinggahan meski sekejap

Dangau panggung beratap ilalang
hamparan padi gogo rancah musim penghujan
di titik pandang rimba menggeliat
memutar ulang kilasan ruang kekanak
entah pada pusaran ke berapa

Pada bibir-bibir hutan perenggan tanah peladang
sayap-sayap mengepak hinggap
lalu nyaring lengking mendera senja
kuau sendu mematah bulan madu
Masih adakah tempatmu di pertiwi ini?
Sementara hutan tak lagi nyaman
menjadi peraduan sepanjang mimpi
2016


 
Kurniawan Yunianto

Anak Cicak

makhluk yang terlihat rapuh itu kembali
datang, lalu memandangku sekian lama
sepasang matanya yang kecil berbinar

aku ingin kenyang semut, seperti kemarin
ayo jatuhkan lagi remah roti itu di sini
setidaknya begitulah aku menafsirkan
pandang mata penuh harap dari sawiyah
seekor makhluk mungil ruangan ini --
anak cicak yang berani cari makan sendiri

"sebentar, aku sedang menuliskannya"
kataku kepadanya, tapi aku terburu-buru
dua kata terakhir hurufnya jadi tak rapi

29.07.2014 - KY



Lumbang Puisi Jilid IV








Little Lite      

Burung Hantu


Terbanglah lebih rendah
Sebab tikus ada di tanah

Tak perlu terbang tinggi
Bulan tak sudi kau temui


Padang, 01052014



Little Lite
Suara-suara

Di kepalamu
Ada suara tetes-tetes darah
Jatuh dari luka yang selalu nganga
Terkoyak pisau waktu yang putus asa

Di kepalamu
Dengung igau beribu pasang sayap lebah
Menyulut sumbu resah tangis dan amarah
O, jiwa yang patah dan lelah

Di kepalamu
Denting gelas arak iblis dan malaikat yang bersulang
Gaduh pesta pora atas surga yang dijanjikan Tuhan
Pengganti duniamu yang hilang

Muarabungo, 20122016








Mike Dwi Setiawati

Kepodang Senja

Melukis senja,
Berbingkai cahaya berwarna gading,
Laut berombak dan sepasang angsa berbincang tentang lengang dermaga,
Kucatatkan kau sebagai basah senja,
Larik larik kata pada sajak usang,
Buku harian yang tak lekang,
Sepasang kepodang, berkicau riuh di dahan kemuning,
Betapa senja adalah sebuah kitab kerinduan,
Yang tak pernah usai kita terjemahkan..




























Mohamad Firdaus

Merubah Diri Jadi Pupa

aku hanya hendak bersemadi pada kehangatan rumah
untuk menjaga licin kulitku dari tajam angin dan gigil hujan
setiap ia turun merindukan bumi. sebelum waktu melilitku,
memerahku sampai napas tersengal dan pori mengucurkan
deras darah sebagai hukuman teruntuk penghuni bumi
telah kusimpan segala kesedihan dan juga kegembiraan
sebab mereka hanyalah pendusta  yang akan membunuhku
sepulang dari perjalanan panjang dan melelahkan
membuatku beranjak mencari-cari tempat pembaringan
sementara yang tenang dari bising dan pikir yang gila
-ini merupakan batas di mana aku harus bersiap menekuri waktu
sampai tubuhku mengeras menjelma rumah pupa yang malang-

aku hanyalah larva dengan tubuh dan hati yang melunak
hendak merubah rupa jadi penyihir dengan tatapan mata
di ujung musim yang ranum. kau akan jumpai tubuhku menggantung
pada kulit ranting setelah keras tubuh merubahku jadi pupa
seperti petapa yang gemar merapal mantra sampai titik cahaya
merekah pada keras cangkang 
Purwokerto, 31 Januari 2016












Mohamad Firdaus

Melepas Kupu-kupu

telah terwujud segala doamu yang kerap dibenamkan
lewat tetes airmata di bujur malam. waktu di mana kau adukan
seluruh resah sebab betapa pun diri ingin namun kau harus tahan diri
menahan hati, memahami arti bahwa janji pasti terlunasi
dan pukau kini telah ada di tubuhmu serupa daya pikat
untuk dilihat. mengubah rupamu jadi elok. meninggalkan
jejak tapa sunyi. kadang angin mengajarkanmu agar tetap bertahan
mengulitimu berlapis-lapis sampai habis atau dingin udara
akan datang dengan jubahnya: penuh restu dan pengampunan

terbanglah selagi angin tenang dan musim berpura-pura sahabat
sebelum berlain pikir lalu menikam: jadikanmu pesakitan siang malam
lupakan kosong kepongpong sebab ia telah jadi baju zirah sejarahmu
yang telah mengelupas sejak kau bunuh hantu di tubuhmu
lihatlah, serbukserbuk pada sepasang sayapmu akan jadi kilau mata
seperti putik bunga menggoda: apabila terpetik maka akan binasa
melahapmu menuju kematian
Purwokerto 7 Januari 2016