Senin, 28 Agustus 2017

Sri Budiyanti dalam Kita Dijajah Lagi : Sajak Indonesiaku





Sri Budi yanti

SAJAK INDONESIAKU

Dibawah langit Indonesiaku
Semua hanya berdiri terpaku
Memandang keserakahan
Dibawah deru kerasnya zaman
Semua hanya bisa diam
Seperti bayi yang dinina bobokkan

Hidup di negeri sendiri
Serasa “hidup segan mati tak mau”
Yang ada hanya janji-janji melulu
Katanya globalisasi
Katanya modernisasi
Tapi tetap saja politisi

Yang kaya semakin kaya
Yang miskin semakin miskin
Yang benar disalahkan
Yang salah dibenarkan
Koruptor semakin tersohor
Rakyat semakin melarat
Apa tetap masih diam saja?
Dan berkata “aku bisa apa?”

Lihatlah….
Politik menggelitik asyik
Huru-hara merajalela
Sendi-sendi agama runtuh begitu saja
Kriminalitas meningkat tajam
Sejarah mulai terlupakan
Moral mulai terabaikan

Janganlah kita menyerah
Janganlah kita lengah
Sekali menyerah kita kalah
Sekali lengah kita dijajah
Mari kita berjuang
Untuk Indonesia tumpah darah kita
Mari kita berjuanng
Demi tegaknya Pancasila
Dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”
Kita pasti bisa
 Demak, 28 Agustus 2017

SRI BUDIYANTI, lahir di kota Demak yang dijuluki sebagai kota wali pada tanggal 21 Februari 1990. Tinggal di sebuah Desa Sidomulyo Dukuh Krasak RT.10 Rw.01  Kecamatan Dempet Kabupaten Demak Jawa Tengah. Sarjana Pendidikan Sekolah Dasar. Sehari-harinya mengajar di

Mast Oim dalam Kita Dijajah Lagi : Perahu Daun Bambu






Mast Oim (Miftahur Rohim)

PERAHU DAUN BAMBU

Pe-ra-hu daun bambu
Hijau redup berselancar mengikuti gerak derasnya arus
Sesederhana bentuk dan bahan pembalutmu
Perahu daun bambu
Anak-anak riuh menghantar engkau
Meraih ujung kemudi kali kecil
Di perbatasan sebuah desa lereng gunung mboja
Anak-anak rindu main di kali
Bersama air jernih tanpa basa-basi
Mencerdaskan negeri
Yang dulu diincar kaum kompeni
Para ibu menggendong kayu jati
Dibarter dengan beras tanpa upeti
Pulang berbahagia
Walau tanpa mengharap kantong terisi
Ibu, aku rindu
Tanahmu yang dulu pernah damai
Setelah sekian lama dijarah
Kini kembali seperti dahulu
Hidup dibawah intimidasi
Banyak topeng berisi
Kedzaliman, keangkuhan, ketidakadilan
Hingga penindasan
Pati, 28 Agustus 2017

Mast Oim (Miftahur Rohim), seseorang yang kebetulan suka sastra yang kurang nyastra. Tinggal di Pati. Keseharian sebagai penjual kopi. Pegiat di KKEm (Komunitas Kopi Emperan).

Bhara Martilla Rully Ardian dalam Kita Dijajah Lagi : Gantung Diri!





Bhara Martilla Rully Ardian
Gantung Diri!

Pagut pagut itu tak kunjung susut,
membuat lekas lekas menjadi memburu waktu yang cepat lepas,
aku di keranjang sampah masa depan, berenang!
Mayat mayat riwayat tak mengumat, tak sempat!
Esok itu sejarah menderu, konsonansi pergerakan perubahan, memekik!
Kemarin itu mimpi, anjing tidur di kolong alasan keladi, menari!
Emak!, aku di puncak payudara bumi, berenang!, di punting menari bersama celeng.
Emak?, aku di lembah, di dubur tabiat!, berdoa bersama segerombol mani.
Bapak?, apa itu emak?. Lalu di mana kasihku pak?,
tidak punyakah aku sandaran kepastian?
Pak, emak, aku seharusnya punya kenangan,
semestinya punya riwayat,
setidaknya tape compo bobrok itu pernah merekamku sebelum mati.
Lihat!, Hebat Pak, Mak, aku punya cucu!
Dia tidur pulas di khayalan buruh,
siang itu dia menyeka keringatku,
aku siap berpeluh di pabrik milik para pelit itu Pak!
gantung diri!