Kamis, 31 Agustus 2017

Osratus dalam Kita Dijajah Lagi KEJUJURANKU DIOPLOS, PROTESKU MENEROBOS






Osratus
KEJUJURANKU DIOPLOS, PROTESKU MENEROBOS

“Mata jewawut.telinga jambu. jiwa jeruk purut. hati labu. Kautumbuk
satu per satu dengan alu kepalsuan dirimu, di lumpang batu jati diri terserang flu.
Saringan bolong.gelas bodong. sendok bengkok. botol plastik.
kauatur di meja dapur, mirip pionpion catur hilang nyali
mengaku siap tempur.Blendermemblender hak asasi kaulakukan dengan dalih
‘menjunjung tinggi nilai kemanusiaan’.gelasgelas kehausan,
kauberi minum dengan sarat syarat.Empat gelas jus itu,kaumasukkan ke botol.
kaukocokkocok.Dengan senyum sinis dibuat paling manis,
kauberikan sebotol jus oplosan itu padaku. kutenggak sampai habis.
Mengapa di dalam kepalaku seperti ada bulus, diriku?
juga, seperti ada bunglon. kadal. trenggiling. landak.badak.
Mengapa pula di subur tuturku ada emas imitasi mengaku emas murni?
Inikah,cara baru yang kaubuat untuk menjajahku? Granat dan bayonet
tidak lagi kau pakai untuk menakutiku dalam ketakutanmu.
Kerja rodi dan tanam paksa tidak lagi kau gunakan untuk membohongiku.
adu domba, tidak lagi kau gunakan untuk memecahbelah keutuhan kejujuranku.
Kali ini, kau jajah aku dengan mengoplos kejujuranku.
Kejujuranku, kaukuasi. aku, kautangkap dengan segudang harapan palsu.
aku, kauasingkan di dalam tipumuslihatmu yang
mengobokobok rasa damai hatiku. Di pengasingan ini,
akan kukembalikan kejujuranku yang terhempas. Di pengasingan ini,
aku berjanji akan merebut kembali kejujuranku yang kaurampas.”
Sausapor, 30 Agustus 2017





Osratus merupakan nama pena dari Sutar sonama sebenarnya. Lahir di Purba lingga (Jawa Tengah), 08 Maret 1965.Pindah ke Sorong (Papua Barat), tahun 1981.Menulis puisi sejak 1981. Puisinya dibukukukan dalam antologi bersama di dalam negeri maupun di luar negeri. Pernah menjadi staf pegajar di STKIP Muhammadiyah Sorong (2006 – 2010). Sekarang, menjabat sebagai Kepala Bidang Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Tambrauw. Alamat: Jalan Basuki Rahmat Km. 7 (Kompleks Kantor Transmigrasi lama), Kota Sorong, Provinsi Papua Barat.


Alfianus Nggoa dalam Kita Dijajah lagi : Merdeka dipasung dusta








Alfianus Nggoa

Merdeka dipasung dusta
                 
Merdeka....merdeka...merdeka
Teriakan sarat makna
Kala itu
Setelah penjarah terpaksa pergi
Tinggalkan merdeka
Tinggalah kata merdeka
Seperti lalu lagi tiada

Merdeka ?
       
Pertiwi dijarah
Rahimnya dicabik
“mengapa aku harus melahirkan merdeka?”
Pertiwi keluh
Putra-puteriku  ?
Dusta merdeka atas mereka

Flores, 31 Agustus 2017

Fian N adalah nama pena dari Alfianus Nggoa,Berasal dari Flores
                     

Eko Saputra Poceratu dalam Kita Dijajah Lagi : KETIKA ORANG BUTA UNTUK MEMBACA KEADILAN





Eko Saputra Poceratu

KETIKA ORANG BUTA UNTUK MEMBACA KEADILAN

Aku duduk di kursi sekolah dan menatap ke depan dengan sungguh-sungguh
Untuk  mengerti mengapa kita mesti belajar
Bahwa mengapa kita memikirkan masa depan
Sementara negeri kita belum merdeka
              
Dengan menulis pun belum tentu aku mengerti
Dengan membaca belum tentu aku memahami
Maka biarlah kami cukup mencari ikan untuk dimakan
Dan menanam ubi untuk dijual
Demi membeli seragam
Lalu kembali ke sekolah
Duduk dengan tegang
Menerima ilmu yang kelak dipakai entah untuk menjajah siapa
Sedang buku dan pena aku tak punya
Sementara di kota-kota besar orang menukar janji dengan tulisan di atas kertas putih
Tanah dicuri di atas kertas putih
Sementara politisi menebar dusta untuk merebut posisi

Orang belajar membaca huruf dan pandai
namun pada akhirnya tak bisa membaca ketidakadilan
guru meniduri murid
dosen meniduri mahasiswa
pejabat meniduri pegawai negeri sipil
dan mereka tak bisa membaca diri sendiri

maka lebih baik aku menjadi anak pantai
yang mampu membelah samudera dengan cinta
atau anak gunung yang setia mencintai alam
dengan senyuman serta nyanyian-nyanyian sumbang di desa
supaya aku tidak perlu belajar menipu dengan kata atau dengan angka
seperti mereka yang duduk di belakang meja
berdiskusi dan merapatkan kening untuk seterusnya membalik meja itu juga

ubi jalar lebih bisa mengerti arah perjalanannya sendiri
maka lebih baik aku hidup dengan hati yang besar
demi mengalahkan nafsu yang sarat
nafsu yang dipakai pembesar untuk menikam jantung kami
lalu darahnya dipakai untuk menulis di papan sejarah

Awunawai, 30 Agustus 2017

Eko Saputra Poceratu, lahir di Tihulale 2 Mei 1992. Tinggal di Ambon dan melakukan kegiatan sastra di sana dengan beberapa komunitas seni dan para penyair lokal.