Kamis, 31 Agustus 2017

Didiek WS dalam Kita Dijajah Lagi : Seperti Masih Terjajah




Didiek WS

Seperti Masih Terjajah

Benarkah itu merdeka, Nak 
Hidup bebas semaumu tak perduli waktu 
Sehari-hari bermain game sekehendak hatimu 

Benarkah itu membahagiakanmu, Nak 
Punya banyak teman di media sosial 
Tapi kau gunakan hanya untuk saling membual 

Benarkah itu memuaskan hidupmu, Nak 
Kalau status yang kau tebar 
Tanpa sadar 
membuat orang lain gusar 

Itu bisa berakibat fatal, Nak 
Jangan kau tiru, sungguh itu sangat keliru
Hidup bisa jadi congkrah, jauh dari ibadah
Apalagi sengaja menebar benci, adu domba dan fitnah 
Negeri pun bisa terancam bubrah 

Oh Tuhan 
Kecanggihan teknologi 
Sungguh anugerah 
Menjadikan hidup lebih mudah
Tapi di tangan yang salah 
Justru bisa timbulkan masalah 
Menjadikan hidup seperti masih terjajah 

300817

Rabu, 30 Agustus 2017

Gampang Prawoto dalam Kita Dijajah Lagi SITI NUSANTARA






Gampang Prawoto

SITI  NUSANTARA

kau
cantik menawan
tatap tajam matamu laksana garuda
rambutmu indah berkelebat
semerah bibir seputih pipi
bak sangsaka mewana angkasa.

aku
mencintaimu berazas pancasila
aku
merindukanmu berlandaskan
undangundang empatlima
sehidup semati
bersamamu
janjiku.

aku
memujamu bukan tanpa alasan
kau
serpihan surga
tercecer di bumi katulistiwa
bernama nusantara.

Pejambon, 26032017

Marthen Luther Reasoa dalam Kita Dijajah Lagi : Doa dan Ketukan Pintu




Marthen Luther Reasoa

Doa dan Ketukan Pintu

Aku hidup di depan banyak pintu, dengan satu tangan untuk mengetuk
aku mengetuk dan mengetuk, namun pintu tetap tertutup
di dalamnya, ribuan pejabat pemerintahan terlalu sibuk mencatat dan lupa membuka pintu
hingga bau korupsi juga nepotisme menjalar di disepanjang dinding dan lantai mereka
kantor ibarat rumah tangga, seperti keluarga cendana
bapak dan ibu tidur di satu kamar dengan nyenyak
dan lupa pada anak-anak yang gelisah sepanjang malam,
menanti kasih sayang itu terbuka dari pintu kamar

Pejabat-pejabat terlihat megah, jas dan dasi mengkilap hiasi tubuh mereka
namun rakyat penuh derita
Rakyat itu berteriak di depan pintu, dengan air mata di mangkuk tanpa nasi
sedang bapak dan ibu negara hanya sibuk bercerita
di antara suara-suara kelaparan dan kesusahan yang merembes melalui dinding

Pada tembok-tembok kota, ibu kami terus mendoakan pemerintah
kepada Tuhan yang ada di balik pintu, doa terantuk pada gagang pintu
sedang pada jalan di pingir-pinggir kota, mulut-mulut asyik tertawa
mereka menganggap lucu suara ketukan di depan pintu
seperti suara kucing kelaparan orang-orang saling merobek tulang
sementara para pejabat melahap daging hingga keluar bau badan
meski disemprot deodorant, bau mereka tetap saja menyengat

Ibarat bau kambing yang menempel pada tubuh laki-laki pencuri
busuk dan menjalar ke mana-mana diterbangkan angin
hingga mengendap diselangkangan
menjadi daki

Kasihan kami yang tak punya kunci
tak punya apapun selain doa dan ketukan di depan pintu

Biodata


Marthen Luther Reasoa, lahir di  Saparua, 31 Oktober 1988 tinggal di Ambon