Senin, 12 September 2016

Telah Terbit Lumbung Puisi Jilid IV



Lumbung Puisi Jilid IV

Penyair Indonesia






Margasatwa Indonesia






Dokumentasi Puisi Sastrawan Indonesia
oleh Himpunan Masyarakat Gemar Membaca

Penulis :

1.Abu Ma’mur MF (Brebes)
2.Agustav Triono (Purbalingga)
3.Alveng Subrata(Surabaya)
4.Amrin Moha (Cirebon)
5.Anggoro Suprapto(Semarang)
6.Anjrah Lelono Broto(Jombang/Mojokerto)
7.Arif Khilwa (pati)
8.Ari Witanto (Bekasi)
9.Arwinto Syamsunu Ajie(Kebumen)
10.Arya Setra (Jakarta Utara)
11.Bambang Widiatmoko(Jakarta)
12. Damar Angara (Demak)
13.Dedy Tri Riyadi (Tangerang)
14.Denting Kemuning(Surabaya)
15.Denis Hilmawati (Bekasi )
16.Dharmadi, DP (Purwokerto)
17.Daviatul Umam (Sumenep)
18.Eka Rs (Tasikmalaya)
19.Ersa Sasmita(Jakarta)
20.Eno El Fadjeri (Jakarta Barat)
21.Eri Sofratmin (Muara Bungo Jambi))
22.Faiz Saf'ani(Tegal)
23. Fitrah Anugerah(Bekasi)
24. H. Shobir Poer (Tangerang)
25. Hadi sastra(Tangerang)
26.Harmany (Pamekasan)
27.Hasan Maulana A. G( Serawak Malaysia)
28..Heru Mugiarso(Semarang)
29.Jen Kelana(Bangko Merangin Jambi)
30.Kurniawan Yunianto(Semarang)
31.Little Lite (Muara Bungo, Jambi)
32.Mike Dwi Setiawati(Cirebon)
33..Mohamad Firdaus (Banyumas)
34.Muakrim M Noer Soulisa (Maluku Tengah)
35.Mukti Sutarman Espe (Kudus)
36.Nanang Suryadi (Malang)
37.Navys Ahmad(Tangerang)
38. Ni Made Rai Sri Artini (Denpasar)
39.Novia Rika (Jakarta)
40.Rachmad Basuni (Solo)
41.Refa Kris Dwi Samanta (Banyumas)
42.Rere Desvada (Bandung)
43.Riswo Mulyadi (Banyumas)
44.Rg Bagus Warsono(Indramayu)
45.Sami’an Adib (Jember)
46.Shon Sweet's(Sidoarjo)
47.Sumrahhadi (Munadi Oke)(Jakarta)
48.Sri Subekti Handayani (Bandung)
49.Supi El-Bala (Tangerang)
50.Suyitno Ethex (Mojokerto)
51.Tajuddin Noor Ganie(Banjarmasin)
52..Thomas haryanto soekiran(Purworejo)
53.W Haryanto(Blitar)
54.Wadie Maharief (Jogyakarta)
55.Wahyudi Abdurrahman Zaenal (Ketapang Kalbar)
56. Wans Sabang(Jakarta)
57.Yuyun Ambarwanto(Wonogiri)















Pengantar Buku, Pengantar Antologi dan Komentar Antologi Lumbung Puisi Jilid IV



Pengantar Antologi

   Banyak margasatwa kita yang punah. Ketika kapal kapal asing yang nyolong ikan ditembak ditenggelamkan, Anda tidak tahu berbagai jenis kera dari rumpun yang sama Sumatra/Kalimantan di colong juga. Apa yang ditembak apa yang ditenggelamkan. Sebab malingnya tidak kemana-mana masih berada di luar negeri. Orang kitalah yang memperkaya diri.

    Beberapa tahun lalu ada bangkai kawanan gajah, tetapi gadingnya sudah tak menempel di kepalanya.
Lalu burung-burung luar negeri yang mungkin bawa penyakit datang dari celah-celah pagar negeri , mengisi sangkar-sangkar hobies burung berkicau.
Dan sungguh luar biasa lagi, ada orang pekerjaannya melawan maut, memburu buaya ganas di sungai-sungai buas. Ternyata mereka mengambil kulit buaya itu.

   Sejak doeloe nama hewan menjadi nama kiasan untuk menamai manusia seperti contohnya 'lintah darat (rentenir), 'kuda hitam (sosok tak diduga), 'anjing menggonggong (mereka yang suka usil), 'macan tua ( tokoh tua) , macan ompong (tokoh yang sudah tak punya taring lagi) , 'kupu-kupu malam (lonte) , ular kepala dua (mata-mata) , kura-kura dalam perahu, katak dalam tempurung dan sebagainya. Ini artinya manusia menamai perilaku manusia lagi dengan perumpamaan hewan. Jadi bukan sekarang saja tetapi sejak dulu.
   Ternyata margasatwa (binatang) kita penuh filosofi, kelakuan binatang kadang cermin buat filosofi hidup. Bukan berarti lebih baik binatang dari manusia, tetapi manusialah yang mirip perilaku binatang. Atau bisa juga binatang lebih baik perilakunya ketimbang segelintir manusia yang kadang tak memiliki norma. Tetapi pernyataan ini jangan ditafsirkan demikian sebab puisi adalah gambaran , sebuah gambaran yang memiliki ragam apresiasi. Boleh jadi apresiasi itu berbeda dari sebuah puisi. Makna yang sama arti pun berbeda bila dipadukan dengan kata lain, bukan. Nah kalau begitu puisi adalah permainan kata-kata.

Jika puisi adalah permainan kata-kata maka tak perlu mempercayai puisi. Memang. Bukankah puisi itu seni? dan dinikmati? . Jangan salah juga bila apresiasi juga menimbulkan kepercayaan terhadap puisi. Buktinya banyak puisi yang memberikan kenyataan zaman. Sebab penyair menuangkan isi hati dari semua pancaindera yang dirasakan.Sebegitu dasyatnya puisi melahirkan berbagai tafsir dan perumpamaan. Tetapi sebagai manusia tetap puisi tak perlu didewakan atau dipuja. Puisi adalah puisi yang memiliki jiwa, seni, dan juga hidup.

Memang penyair itu pinter, tema margasatwa jadi tema 'marga satwa. Katanya kalau dipenggal menjadi dua kata ada marga dan satwa kalau dipisah menjadi marga satwa semakin bertambah luas tema ini, tapi tidak mengapa tambah seru. Itulah penyair kadang bilang ‘A sama-sama , bukan A besar dan a kecil tetapi katanya a bagiku berarti lain.  Bisa saja ‘a berarti satuan nominal eceran, ada juga ‘a berarti pertanyaan, ‘a berarti orang (si a) atau ‘a berarti keuntungan dsb.

Sebaliknya ada ungkapan hewan tetapi disukai masyarakat seperti 'Kecil-kecil kuda kuningan, 'Maung Bandung, "Ayam Kinantan, 'Banteng Ketaton, Cendrawasih dari Timur, dan lain-lain.

Dan dalam buku ini pembaca budiman diajak untuk ‘bercengkerama dengan puisi-puisi karya penyair Indonesia  dalam antologi khas bertema margasatwa ini yang merupakan Antologi Lumbung Puisi Jilid IV Sastrawan Indonesia.

Selamat mengapresiasi.

Penyelenggara.
Hmpunan Masyarakat Gemar membaca (HMGM)


 
Kata Pengantar Antologi Binatang
   Saya bayangkan beberapa penyair dari berbagai profesi dan menulis tentang seekor binatang, semut misalnya. Maka lahirlah puisi tentang semut  dalam perspektif sosiolog, politikus, psikolog, filosof, ekonom, anthropolog, polisi, guru, ulama, bahan ibu rumah tangga. Betapa amat luasnya kekayaan perpuisian kita tentang binatang sebagai cerminan perilaku umat manusia.
   Saya bayangkan beberapa penyair menulis puisi tentang binatang-binatang  ikonik yang ada di negeri ini dan negeri-negeri lain. Bisa  jadi  masih ada. Bisa pula sudah punah. Betapa berharganya puisi-puisi ini bagi pelajar dan generasi sesudah kita karena telah memberikan pemahaman anatomis, filosofis dan simbolis tentang sebuah kota, negara, atau benda.
   Saya bayangkan beberapa penyair  menulis puisi tentang binatang yang ada interrelasinya dengan binatang-binatang yang ada di luar negara kita. Betapa berharganya puisi-puisi itu karena telah memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang hubungan “bilateral” kebinatangan, yang bisa jadi menjadi contoh demokratis dan toleransi bagi umat manusia.
   Saya bayangkan beberapa penyair menulis puisi tentang binatang-binatang imajinatif ( misal Derabat, burung raksasa khayalan Budi Darma; juga Kappa, semacam Derabat yang telah menjadi mitos bertahun-tahun di Jepang; Yeti di Nepal ) yang dapat menggugah daya imajinasi pembacanya dan merangsang imajinasi lain untuk bidang-bidang lain.
Saya bayangkan RgBagus Warsono sedang membangun dan menghayalkan sebuah “Kebun Bintang” raksasa yang penghuninya binatang-binatang kata-kata Indah  dan senantiasa dikunjungi ribuan bahkan jutaan pemburu kata-kata Indah setiap harinya. Sebuah habitat baru yang akan dicatat dan dikembangkan  oleh sejarah perpuisian Indonesia, bahkan dunia.
   Selamat untuk gagasan, upaya dan kerja kerasnya untuk membangun “Ragunan Kata-kata”  bagi negeri para penyair.
Hasan Bisri BFC jazirahapi@gmail.com
Jakarta, 16 Agustus 2016


Pesan Sang Kera Anoman

     Ide kreatif dari antologi tentang margasatwa perlu diacungi jempol setinggi langit.Lantara langka dan tak biasa tapi dgn ketak biasa justru menjadi luar biasa.Didalam dunia pewayangan pun ada satwanya. Sang kera yg sakti mandraguna ANOMAN. Ada pesan yg menarik pada sang kera putih yang jelek itu. Mana lebih mulia..kera barhati manusia atau manusia berhati kera.

Thomas Haryanto Soekiran,
17 agustus 2016 purworejo


Minggu, 04 September 2016

Puisi karya Abu Ma'mur MF dab Agustav Triono di Lumbung Puisi Jilid IV



Abu Ma’mur MF

Selepas Samadhi

jangankan mendekat apalagi mengelusmu
sedang menatapmu saja mereka jejap
ada sejuta runcing bisa pada tiap lembar bulu
di sekujur tubuhmu
sehelai saja mengena kulit manusia
adalah pertanda kelenjar petaka yang nyeri
:entah suatu kutukan atau justru kesaktian
tapi apalah arti kesaktian jika menghadirkan kesakitan
bagi liyan dan pada akhirnya merupa bencana?

perlahan kau mulai menapak jalan kesunyian

dengan selaksa bulumu kaurajut ruang kontemplasi
menekuri hari-hari, menafsirkan kasunyatan, memasuki
jagat suwung

anasir cahaya spiritual menyelusup dalam dirimu
menerobos kegelapan, menghangsukan kealpaan
segala ego dan kerakusan menyublim ke lelangit
kesadaran

usai dua purnama kau bermetamorfosa
ada gurat lukisan pencerahan di sepasang sayapmu

kelepak tarianmu tampak kirana di antara rerimbun bunga-bunga

kau mengecup dan mencerup saripati cinta pada nektar mawar
manusia-manusia terpana menatap pesonamu,
 “aku ingin jadi kupu-kupu. aku ingin jadi
kupu-kupu”
Loteng Literasi, 2016





Abu Ma’mur MF

Fragmen Enigmatis

Berkalikali seorang bocah berhati puisi ditikam sebilah
pertanyaan, “Apakah ayahku kini menjadi seorang penyihir?“
Semenjak ayahnya bekerja di gedung tua, gelap, dan banyak
sawang, sang ayah kerap manglirupa: anggora, tupai, keledai.
Kadang pula merupa celeng, curut, kera, harimau, serigala.
Betapa rakus ia memangsa apa saja.
Apa saja!
batu bata kayu semen aspal besi bangkai bahkan manusia

Tak kuasa bocah berhati puisi itu terus berlama-lama menahan
luka-luka yang mengental di dadanya, juga bau anyir di rumahnya
Ada kobar denyar rasa sakit dalam bilik hatinya dalam ruang
pikirannya dalam ceruk
jiwanya

Bocah berhati puisi minggat, berhari-hari ia berlari. Sampai
suatu hari
ia tiba di kolong jembatan
Sebuah kota
tempat para jelata mengutuk nasib
Seekor serigala tengah mencabik sekujur tubuh
perempuan kumal
Si bocah nyaris pingsan saat serigala menoleh
ke arahnya lalu
mengonggong pelan, “Anakku!”
Ketanggungan-Brebes, 2015


                            

Agustav Triono

Kambing Hitam

Kambing hitam berkandang anyaman bambu bukan gedung mewah apalagi istana
Kambing hitam tiap pagi  diajak tuannya ke padang rumput bermain riang gembira
Kambing hitam merawat cempe hitam anaknya dengan welas asih tak berharap balas budi
Kambing hitam disenja hampir hitam digiring sang tuan ke kandang sunyi
Kambing hitam dibisiki tuan tentang namanya yang disebut manusiamanusia di berita televisi
Kambing hitam yang sebenar kambing itu dicomot namanya tak permisi oleh manusiamanusia bingung kata nirjiwa
Kambing hitam mengembik tetap suka dikandang meski sedikit rumput hijau
Kambing hitam kembali mendengar namanya disebut berulang oleh tetangga kandang berbulu abuabu
Kambing hitam melongok ke tetangga yang kini juga acuh tak mau berbagi rumput hijau
Kambing hitam geram, dari dalam rumah tuan televisi bernyanyi menyebut nama diri
Kambing hitam merusak pintu kandang masuk ke rumah menanduk televisi yang bernyanyi haha hihi
Kambing hitam menyepak kursi empuk tuan, sang tuan tertawa bahagia kambingnya sehat kuat bugar bisa dijual mahal
Kambing hitam mengutuk manusiamanusia di berita televisi itu lalu memanggilnya sebagai manusia
manusia bribil tai !
2016




Agustav Triono

Ikan Kelana

Aku ikan kelana lahir dari rahim mata air
Asal lereng gunung penuh rimbun firman-Mu
Berenang menelisik setiap alur sungai kehidupan
Mencium bau pesawahan, ladang-ladang, dan kebun kebun tua
Yang menguarkan aroma dambaku
Berloncatan coba hindari batubatu kali kesumat

Yang halangi tujuku
Dengan insang iman aku nafasi arus air kautsar
Kadang berhenti lalu mengalir lagi
Aku ikan kelana terus berenang
Kini siripku terasa berat
Sampah kota selimuti sisikku
Lempung dosa bertahap mengental
 (jangan aduk tanah lempung agar bening airku)
Sungai belukar misteri dan aku adalah sang pencari

Pengelanaanku sampai di muara segala harap
Tatap nanarku memandang luas ke pantai
Ekorku mengibat cepat nuju laut asaku
 (namun kadang karang menghalang)
Kau laut aku ikan kelana
Biarkan aku mencebur pada samuderaMu
2005